AMELID

Pada satu hening sebuah nada sangat berarti

Membantu mengawal kisah yang bermula dari

Sebuah kesepian

Ada sebuah keraguan, dan selalu ada keraguan saat hal-hal seperti itu kembali datang dan mengusik, seandainya ada kepastian yang mampu membuatku yakin untuk mengalihkan semua, atau mungkin sebaliknya…bisa saja aku pergi tanpa kembali berpaling, atau mungkin tetap berdiam tanpa menunggu, walau sebenarnya menunggu tanpa jelas

Membaca apa yang ada dalam benak selama ini sudah cukup membuatku penat, menjernihkan segala yang keruh tlah cukup membuatku lelah, sejenak aku tlah capai oleh segala

Namun tetap saja yang satu iu belum pula mengabur barang sedikit

Semuanya masih saja jelas, dan aku semakin sulit tuk terpejam, bahkan enggan

Karena dalam gelap pandangan bayangan itu semakin jelas

Semakin meyakinkan nyatanya eksistensi sebuah keberadaan dalam sebuah alam yang dinamakan khayalan

Jenuhku tak hilang

Sebatang rokok kunyalakan dalam sebuah ruang sempit

Asap mulai memenuhi ruang pada isapan yang ke sekian kalinya

Pertama kalinya aku racuni diri

Tak menunggu bahkan bukan pula menantang namanya mati

Aku masih punya sekian besar ketakutan menghadapinya

Asap sudah membumbung dan tak menembus langit

Asap kembali turun dan meresap kedalam semua bagian yang ada

Yang berpori…yang dapat dimasuki

Abu mulai menumpuk, tak menggunung hanya menjadi gundukan kecil saja

Kamarku, ruang kecil ini mulai berkabut

Lelaki itu kini mengambil sebatang rokok lagi, setelah ia menenggak habis kopinya yang sudah dingin, sialnya korek tak mau menyala kekesalan sudah bertumpu pada ibu jarinya yang mulai kewalahan karena pemantik tak juga mengeluarkan api. Dilemparnya korek gas yang ia pungut di jalan sehabis menonton pertandingan sepakbola antar RW dilapangan dekat rumahnya.

“Apakah kamu berani tuk mencintai aku?”

“tentu saja aku berani, tapi dengan caraku sendiri.”

“bagaimana caramu menunjukkannya padaku?”

Lelaki itu hanya membalas tanya dengan senyuman tipis, pandangan matanya cukup jelas menjawab semua, tak lama ia pun berpaling.

“maaf, aku melihatmu seperti itu…maaf”.

***

“padahal aku maunya dia ngomong sesuatu, bukan malah diam!”

“terus setelah itu kalian bicara apa lagi?”,m kali ini perempuan dihadapannya diam, menunduk, lantasmelempar pandangan ke segala arah memainkan jemarinya.

“aku ngerti, aku gak bisa banyak bantu, malah aku di luar kuasa untuk ikut campur, itu urusan kalian dan kalian sudah dewasa, kamu dan dia..

aku memang mencintainya, dan aku mencintainya dengan caraku. Takbisa kumencintainya dengan cara yang sama seperti lelaki lain mencintainya perempuannya, aku mencintainya dengan caraku. Takmungkin aku benturkan semuanya pada idealisme yang masih kucoba bangun ini, idealism yang berdasarkan hasil pencarianku selama ini, sialnya dia pun hadir pada waktu yang berdekatan. Ada kalanya aku harus memilih, namun jika dituntut antara mencintainya atau tidak sama sekali, aku jelas memilih yang pertama, namun semuanya kembali lagi, pada caraku, caraku menunjukkan bahwa apa yang kupunya dan bisa kuberi padanya adalah semata dari segala apa yang ada disini, ujarnya seraya menunjuk dadanya.

Ya, mungkin terdengar egois atau bagaimana, tapi ya…beginilah aku, masih dihadapkan pada nyata aku takbisa menolak yang ada, namun aku memiliki batasan saat berhadapan dengannya. Toh dia tahu dan telah sadar, masalahnya sekarang ia mempertanyakan semuanya, tentang perasaanku dan kesungguhanku…

Aku merasakan semua yang dia beri itu tulus, tapi saat semua tak terucap dan hanya bisa kuterka, aku jadi belum bisa menyakinkan diri ini sunggu-sungguh…aku bisa merasakan bagaimana ia mencoba menunjukkan sesuatu lewat sesuatu, lewat tutur kata, sikap dan tatapan yang selalu ia jaga, aku faham…mungkin ia memiliki suatu alasan untuk bertindak seperti itu, tapi aku perempuan biasa, takbisa aku lama-lama berada dalam keadaan yang seperti ini, aku hanya ingin diyakinkan dengan perkataan langsung dri mulutnya yang sering tersenyum itu…

Aku hanya bisa tersenyum setiap mendengar ia bicara, melihat tingkah polosnya, raut wajahnya ketika marah, ekspresi-ekspresi konyolnya…entahlah sepertinya dekat dia aku bisa tersenyum lebar lebih lama..dan merasa sebuah kekonyolan ternyata dapat menghadirkan kebahagiaan juga…

Ini konyol kan? Interaksi antara kita lewat e-mail, atau surat yang ia ketik berlembar-lembar lantas ia simpan di dalam Flashdisk lalu ia berikan padaku dengan alasan di depan banyak orang “copy-kan aku lagu-lagu baru! Mentang-mentang aku penyiar radio, padahal aku tahu maksudnya, lagu apa yang ia mau!

Lagu lama! Kalau ngobrol langsung…kita duduk berdampingan dan mata menatap ke depan, dia disampingku namun setiap aku bicara matanya hanya lurus ke depan, terkadang ia menoleh tapi itu hanya sebentar, tak seimbang dengan durasi waktu kita berbicara! Tapi sekali ia menoleh itulah saat yang selalu kutunggu..ia tersenyum….

lantas perempuan ini pun tersenyum mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu itu…

Aku akan selalu mengingatnya, semuanya…dia itu simpulannya. Dia yang bisa mengembalikan senyumku dan hanya pada dia aku bisa tersenyum seperti itu, aku tak tahu malah awalnya aku tak menyadarinya…

Love me or Leave me! Aku jadi ingin mengajukan hal itu padanya! Tapi…aku takbisa menerima konsekuensi kalau ia memilih pilihan kedua….Leave me…aku terlanjur telah terbiasa menjalani hal-hal konyol ini bersamanya, hal konyol yang selalu kunantikan….

Lucky I’m in love with my best friend….he..heeh….sejenak ia terkekeh mendengar lantunan lagu yang ia nyanyikan…

Lucky…ya aku merasa beruntung..tapi, sangat disayangkan hanya dengan cara seperti ini, sesungguhnya aku bisa mencintainya dengan cara yang lebih, aku berani menunggu waktu namun aku taktahu apa ia mau melakukan hal serupa?

Menunggu waktu yang tepat tiba…

Indah pada waktunya, apa itu yang ia tunggu…kalu ia aku mau!

Inspirasi dari kisah beberapa orang teman dan kenalan ,

Duadua di Dua Belas

Aisha Shaidra

“untuk apa Kau mengajakku tuk turut kegiatan kalian besok siang?”

“kok? Hey, kamu lupa? Besok perayaan hari Ibu! Kita akan melakukan aksi damai, longmarch, seraya membagikan flyer dan bunga pada orang yang kita temui di jalan, setelah itu kita akan mengunjungi panti jompo!”

“iya, Aku tahu…tapi apa untungnya bagiku? Merayakan hari ibu? Heh, sehebat apa itu yang namanya Ibu? Sampai ia diberi sebuah hari spesial setiap tahun, sesuci hari perayaan hari besar keagamaan? Kalaupun ada hari untuk yang namanya orangtua, Aku lebih memilih hari nenek!”

“nenek juga ibu, ibu dari orang tua kita!”

“beda, karena nenekku bukan orangtua dari yang namanya orangtua yang seharusnya Aku miliki!”

“ya sudah, dia tak mau ikut, ya sudah, kenapa kamu harus berepot-repot memaksa dia?”

“Aku bukannya memaksa, tapi, Aku tak habis fikir, bisa-bisanya ia berkata seperti itu…”

“kenapa tidak? Itu mungkin saja, dari apa yang dia lontarkan tadi jelas kok masalahnya, Aku bisa menangkap maksud dan alasannya!”

“Aku juga faham, Ka! Tapi baru sekali tadi Aku lihat sisi Wina yang lain, dia begitu emosi, dia terlihat seperti seorang pendendam, dari ekspresi wajahnya, lontaran kata-katanya…”

“kamu sudah lupa waktu perkenalan saat kita Ospek Jurusan?”

“memang ada apa?”

“saat Wina maju memperkenalkan diri…”

“perkenalkan, nama saya Winidya Narita, tapi nenek saya suka memanggil saya Wina, pun teman-teman saya waktu SMP, SMA…saya berasal dari Bogor, tapi waktu saya masih kecil sempat tinggal di Solo, ya…sampai kelas empat SD saya tinggal di sana. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan, saya rasa itu cukup, terima kasih, ada yang mau bertanya?”

“tempat tanggal lahir?”

“oh…itu, entahlah secara pasti saya sendiri tidak tahu, tapi yang tertera di akte, dan surat-surat yang memerlukan data seperti itu menyebutkan kalau saya lahir pada tanggal satu November, delapan belas tahun silam.”

“Tempatnya? Solo?”

“…entah, ingatan saya sewaktu lahir sudah hilang, sehingga saya sama sekali tidak dapat mengingat di mana saya dilahirkan, pun orang yang melahirkan saya, entahlah, saya rasa cukup, terima kasih.”

Ibu? Apa artinya seorang Ibu? Ketika kita katanya harus selalu mengagungkan namanya setelah Tuhan, ketikan kita harus meyakini bahwa surga tuhan ada di telapak kakinya, ketika kita diajari oleh para pendidik di negara ini bahwa ia adalah sosok yang harus selalu dihormati, ia adalah sosok yang penuh kasih, penuh sayang…

Begitu agungnya sosok seorang Ibu sehingga dalam hadist pun namanya disebut tiga kali berturut-turut barulah nama ayah, sekali kata “ah” kita lontar padanya adalah sebuah dosa besar. Satu keuntungan bagiku, mungkin secara sadar sampai saat ini Aku tak menanggung dosa besar itu, karena Aku tak pernah melontarkan kata “ah” pada seorang ibu, yang sampai sekarang tidak pernah kutahu seperti apa rupa dan dimana rimbanya.

Aku masih selalu memepertanyakan alasan Aku dipertahankan dalam kandungan seorang perempuan sampai Aku dilahirkan, namun akhirnya Aku ditelantarakan. Untungnya seorang Nenek yang sejatinya tak punya hubungan darah setetes pun denganku sudi membesarkanku. Ia seorang wanita tua yang semakin ringkih dari tahun ke tahun, namun senyum diwajahnya tak pernah ikut menua, itulah obat kebahagiaan abadi yang kupunya, Aku tak punya kuasa tuk menghardiknya dengan beragam kata kasar yang biasa kulontar pada orang-orang yang kurang ajar padaku, kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut nenek sebagai bahan ajar padaku, Aku diajarinya tentang kelembutan, keharusan seorang anak perempuan, setidaknya sampai batas usia anak sekolah dasar Aku tumbuh menjadi anak yang penurut, mewarisi kelembutan nenek. Kepindahan kami merupakan titik tolak mulai terjadinya perubahan pada diriku, semakin banyak tanya yang orang lontarkan mengenai keberadaan orangtuaku yang selalu takbisa kujawab, dan tatapan tanya itu hanya bisa kubalas dengan tangis dan berlari ke pelukan nenek, semakin hari Aku semakin mempertanyakan semuanya, dimana orangtua itu? Kenapa orang merasa perlu ada orangtua? Kenapa takpunya orang tua rasanya begitu aib? Padahal apa yang salah? Aku sempat beberapa kali bertanya pada nenek tentang siapa ibuku siapa ayahku, nenek pun hanya bisa menggeleng, sampai akhirnya ia bercerita bahwa Aku adalah bayi yang ditemukannya di sebuah tong sampah!

Aku dianggap sampah? Lantas kenapa jika mereka, setidaknya Ia Ibuku itu, kalau menyadari Aku adalah sampah mengapa ia harus menunggu sembilan bulan lamanya? Kenapa tak ia gugurkan saja Aku? Toh akhirnya Aku ia buang? Kalau pun ia tak mau merawat Aku setelah melahirkanku, kenapa tak ia berikan Aku pada sebuah panti? Kenapa harus pada sebuah tong sampah ia titipkan Aku? Siapa yang akan menemukan seorang bayi pada sebuah tong sampah? Kucing? Paling-paling tukang sampah, pemulung! Kalau Aku ditemukan mereka, dan kalaupun mereka mau membawaku, adanya aku hanya akan menambah beban hidup mereka!

Ibu, begitu pendeknyakah akalmu?

Kalau setelah kau simpan aku di tong sampah itu, lantas tak lama kemudian ternyata kau mati tertabrak, atau apa…aku berdoa pada Tuhan semoga ia memaafkan dosamu itu!

Kalau ternyata kau masih hidup sampai sekarang, dan keadaanmu tidak lebih sama dengan keadaanku, aku pertanyakan lagi, apa bedanya kalau saat itu aku tetap kau bawa, toh keadaan kita tak jauh berbeda?

Kalau kau masih hidup dan kau kaya raya, selamat, berarti kau memang telah membuang sial!

Tapi kalau kau masih hidup dan punya keluarga, apalagi punya anak, ingin kupertanyakan seberapa banyak ingatanmu terbang untuk mengingatku yang dulu pernah kau buang? Atau seberapa kuat kau bertahan tuk melupakan aku yang cukup lama mendekam dalam rahimmu itu? Apakah aku ada aib yang begitu besar hingga hanya pada sebuah tong sampah kau titipkan aku? Apa yang kau katakan pada tong itu saat kau letakkan aku diantara aneka sampah, dan aku masih berbalut darah? Walau aku tak mengingat masa itu, aku bisa membanyangkan dalam beberapa waktu tubuhku ini dijilati lalat, dikerumuni beragam bakteri, dan segala macam hewan yang tak terlihat,, kubanykangan aku yang lemah menggeliat, aku yang lemah tak berdaya ketika tubuh ini dijilati lalat karena amisnya darahmu pada tubuh kecilku!

Ibu, kalau memang sekarang kau masih ada dan punya anak lagi dari rahimmu itu, dan kau mau merawat dan membesarkannya, berarti kau tak kapok melahirkan namun kau kapok untuk membuang anak. Kalau itu terjadi, ada benarnya mungkin latar belakang sperma yang membuahi telurmu lah yang mendorong nalurimu tuk membuangku, lantas sekarang kau mau merawatnya—anak yang kau lahirkan lagi itu. Siapa ayahku Ibu? Hanya kau dan tuhan yang tahu! Mungkin disinilah salah satu peran penting seorang ibu, ia yang dapat memberikan keterangan dan kepastian siapa ayah dari anak-anak yang dikandungnya. Dari kejelasan itu mungkin selanjutnya membawa pada keputusan akankah janin itu ia lahirkan, lalu akankah bayi itu ia rawat dan besarkan? Kemudian ia didik dan berikan kasih sayang. Nampaknya jelas kenapa aku termasuk dari bayi yang dibuang.

“Ka, barisan aksi damai kita didahului aksi lain!”

“apa? Aksi dari komunitas lain? LSM? Atau apa?”

“aksi mereka bertolak belakang dnegan aksi kita! Mereka mempertanyakan sejauh mana peran seorang Ibu? Dan tidak hanya itu, mereka menuntut untuk tidak diberlakukan lagi adanya peringatan hari Ibu.”

“ada-ada saja, ada orang yang kamu kenal dari barisan itu?”

“ada”

“siapa?’

“Wina.”

Jatinangor , di penghujung 2008

(Ibu, kalaupun ternyata ada orang-orang seperti ini, Aku katakan batapa beruntungnya memiliki seorang Ibu)

tigabelas di delapan waktu

katakanlah begitu, kami tigabelas dari tigapuluh orang yang mengikuti pealtihan parlementer di sebuah daerah di Lembang, sejak 4 Februari silam…

tigabelas yang terdiri dari lima perempuan dan sisanya kaum adam

tiga belas yang terpisah dalam tingkat ruang dalam satu bangunan

Selamat ulang tahun di seribu sembilan ratus delapan puluh…..

Selamat ulang tahun di seribu sembilan ratus sembilan puluh….

Selamat ulang tahun…di dua ribu…

Semoga panjang umur

Semoga sgala harap terkabul

Semoga…semoga…semoga…

Sampai kapan itu akan berulang dan kembali kudengar dari yang sama, dari yang lain, dari yang baru?

Sampai kapan doa-doa mengalir penuh, baik tulus baik mulus, baik hanya penuh di mulut, baik batas basa-basi.

Hari ini ulang tahunku, belum lama ucapan datang pergi, kembali seperti itu, terima kasih dan anggukan, sedikit sunggingan senyum, sedikit tidak banyak. Bukan pelit atau irit.

Belum lama pesan pun bermunculan, bermain kata, kalimat-kalimat panjang, doa lagi, harapan lagi, dorongan, pertanyaan, perintah, penekanan…tapi semoga-semoga itu tetap ada, bukan mau mengelak dari semoga, bukan bosan, tapi hanya terlampau sering saja, jadi cukup bosan, tapi ya sudah setahun sekali.

Pernah satu tahun sepi, senang tapi juga kehilangan, entah janji lupa serentak jadi pelupa, tak kupikir panjang, tapi ketika hampir petang serentak semua datang, dan hal serta kata yang sepertinya sudah jadi rutinitas kembali kudengar.

Satu selamat yang kusuka dan itu datang di dua ribu sekian…

Bukan selamat ulang tahun ini tapi selamat lain

Selamat pagi

#

Doni kemarin ditangkap.

Lalu?

Dia ditangkap polisi

Lalu?

Di Sel, biasa aksi

Sudah biasa, tapi baru ditangkap

Baru karena aksinya rusuh, Di!

Dia korlap?

Dia titip ucapan, salam dari

Ah, ya terima kasih.

Dia hanya semalam,

Yaaah….selamat balik saja

Eh…selamat pagi, katakan selamat pagi

#

Selamat ya…

Selamat, saya sudah mengira. Anak ini memang pintar

Selamat Pak, selamat Bu

Selamat, sama saja seperti kakaknya, ayahnya juga

Selamat lagi, lagi-lagi selamat, juara lagi ya?

##

Selamat pagi

Selamat siang

Selamat sore

Selamat malam

Selamat di jalan

Selamat datang

Selamat jalan

Hati-hati

Selamat adalah harapan, doa

Selamat adalah kata-kata

Panjang pendek

Selamat adalah banyak

Ada yang sedikit

Selamat adalah nama….

Sampai kapan itu akan berulang dan kembali kudengar dari yang sama, dari yang lain, dari yang baru?

Sampai kapan doa-doa mengalir penuh, baik tulus baik mulus, baik hanya penuh di mulut, baik batas basa-basi

Tak benci, bosan saja, hanya itu cukup. Selamat bosan. Aku masuk banyak keluar banyak, ikut banyak, setuju kecewa banyak kadang berimbangs ering pula tak imbang, selamat masuk, selamat tinggal, selamat bosan

Berapa waktu yang telah aku buntuti? Berapa jenis selamat didengar diucap untuk menyelamatkan, untuk membesarkan, untuk sekadar pemanis ucapan, untuk sekadar lainnya.

Selamat pagi, adalah kenangan

Kata termanis yang pernah kudengar dari sebuah mulut

Jelas pada paginya hanya sekali

Sempat berulang, berulang setiap pagi hanya untuk selamat pagi

Itu dulu

Itu Dia

Selamat pagi yang berbeda, selamat pagi yang memberi

Hanya selamat pagi, tak ada selamat siang, sore, malam

Selamat pagi

Kita bertemu di selamat pagi

###

Kamu datang

Ya, Tinur yang mengabari

Perjuangan

Apalah terserah

Kau sudah tidak mau lagi?

Sudahlah seperti ini, tapi entah

Kamu datang…

Ya?

Untuk?

Menagih janji, untuk hari kemarin

Sudah kusampaikan lewat Tinur

Aku beri balas kau dengar?

Harusnya aku yang bilang ya?

Tak apa sekali-kali aku

Tinur sampaikan semua?

Tidak tahu aku banyak memotong

Kenapa?

Terlalu banyak selamat

Bukannya itu bagus?

Banyak selamat? Tapi apa itu memberi jaminan?

Tapi itu doa, harapan banyak orang

Asal tulus aku terima, kalau tidak percuma

Berbaik sangkalah

Berburuk untuk kadang juga tak apa

Baik

Baik…

Boleh aku ucapkan yang cukup lama tak pernah kuucap?

Kamu diam itu ya?

Dapat dipastikan untuk sekarang

Kita bertemu di selamat pagi

Gara-gara selamat pagi

Sekarang pun

Kenapa?

Kita bertemu di selamat pagi

Di sel amat pagi

Ya di selamat pagi

Untuk mendengar selamat pagi kita bertemu di sel amat pagi

Putri kau begitu menyadari datang dari kerajaan nasib, dan hidup memang selalu terikat dengan nasib, kau disana tetap terikat dengan negeri yang tak mampu terpeta oleh kata, kau merasa dunia telah berbeda, dan kaucela semua dengan kata hina, berhentilah untuk merutuki nasib putri, di dunia baru kau tetap akan bisa seperti didunia kata kita dulu, namun jangan lupa satu jangan sampai kau lupa untuk bersyukur!dan jadilah putri yang dinanti oleh para raja, ratu dan seluruh semesta kembalilah suatu saat, pangeranmu akan datang di waktu yang tepat!

ayo…ayo….semangati diri tuk terus bergerak, jangan diam jangan sampai pernah diam!!!!!

aduh, belum lama lagi wall 2 wall ma temen, gak taunya dy bilang cha tipe melankolis…waduw???

segitunyakah???padahal cuma erasa diri lagi down aja, lagi ngerasa lum banyak mealkukan hal2 yang lebih penting dan berguna…ow..ow…

rasanya jadi aneh aja dinilai kayak gtu…padahals ering abnget ngeledek temen2 cowok kalo meeka sangat melankolis bahkan emlebihi saya sendiri, gaktaunya hari ini seseorang berkata demikian…

seorang menunggu tanpa tuju, tanpa arah, tanpa mau

seorang menunggu tanpa gerak, tanpa tindak, tanpa bahasa

tanpa ada upaya, hanya menunggu yang takjelas, takpasti, mungkin juga taknyata…

ibu, ketika sebelum fajar kau telah terbangun
dan tak menemukanku meringkuk dibelakang punggungmu
berarti aku jadi pergi
seperti yang telah kuberitakan padamu
tadi malam, ketika dengan penuh sayangmu kau mengelus kepalaku
rasanya langkah ini haruslah teguh
melangkah terus walaupun berlawanan dengan arah angin
ceritamu tentang seorang ksatria telah meneguhkanku ibu
bukan karena aku ingin seperti mereka
namun aku ingin meniru sikap mereka
sikap ksatria seharusnya
bukankah seorang ksatria harus selalu siap
teguh hati dan punya jiwa yang lapang
rasanya melakukan suatu kemuliaan memang bukan suatu hal yang mudah
tapi berniat mulia, seperti katamu
itu sudah merupakan langkah yang tak kalah agung
ibu, bukannya aku tak percaya pada kebenaran yang sebenarnya ada tapi masih bersembunyi
namun, rasanya aku pun tak bisa terus diam menunggu
karena hidup takbisa menunggu
seperti katamu, lakukan hal kecil untuk kebaikan, apapun itu
aku ingin memulai hal kecil itu ibu
aku yakin aku tak sendiri
aku ingin membangunkan ksatria yang terlalu lama beristirahat
ksatria peradilan yang mampu memerbaiki semua ini
aku rasa belum terlalu terlambat
belum terlambat
saat ini barulah pincang, sebelum lumpuh benar
kan kucarikan tongkat penopang sementara
sampai ksatria itu tiba
dan ketika ia telah hadir ditengah kita
aku baru kembali ibu
kembali memintamu mengelus kepalaku sebelum ku tidur
dan lelap dibelakang punggungmu yang mulai rapuh itu

inspirasiku selalu hadir saat malam akan dijemput fajar…
aisha dalam perhelatan

di GEDE

di GEDE


Ada dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana status dan peranan film ditumbuhkan.

  • Film dilahirkan sebagai tontonan umum (awal 1900-an), karena semata-mata menjadi alternatif bisnis besar jasa hiburan di masa depan manusia kota.
  • Film dicap ‘hiburan rendahan’ orang kota. namun sejarah membuktikan bahwa film mampu melakukan kelahiran kembali untuk kemudian mampu menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. bahkan kemudian seiring dengan kuatnya dominasi sistem Industri Hollywood, lahir film-film perlawanan yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film-film Auteur. Yakni film-film personal sutradara yang sering disebut sebagai film seni.

Dalam pertumbuhannya, baik film hiburan yang mengacu pada Hollywood ataupun film-film seni kadang tumbuh berdampingan, saling memberi namun juga bersitegang. Masing-masing memiliki karakter diversifikasi pasar, festival dan pola pengembangannya sendiri.

Sementara pada proses pertumbuhan film Indonesia tidak mengalami proses kelahiran kembali, yang awalnya dicap rendahan menjadi sesuai dengan nilai-nilai seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah ke atas, juga intelektual dan budayawan.

FIlm merupakan media komunal dan cangkokan dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian. Ia cangkokan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara. Juga komunal berbagai kesenian baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik. Maka kemampuan bertumbuh film sangatlah bergantung pada tradisi bagaimana unsur-unsur cangkokan teknologi dan unsur seni dari film -yang dalam masyarakat masing-masing berkembang pesat- dicangkok dan dihimpun. Dengan demikian tidak tertinggal dan mampu bersaing dengan teknilogi media, dan seni lainnya.

Sejarah film Indonesia menunjukkan unsur-unsur cangkokan dan komunal dari film tak mengalami pertumbuhan berarti. Akibatnya ketika masyarakat dimanjakan unsur visual dan audio, dari perkembangan teknologi media dan seni lainnya seperti televisi, seni rupa, dan lain-lain, masyarakat Indonesia tak mendapatkannya dalam film.(1)

Perfilman Indonesia pernah mengalami krisis hebat ketika Usmar Ismail menutup studionya tahun 1957. Pada tahun 1992 terjadi lagi krisis besar. Tahun 1991 jumlah produksi hanya 25 judul film (padahal rata-rata produksi film nasional sekitar 70 – 100 film per tahun). Yang menarik, krisis kedua ini tumbuh seperti yang terjadi di Eropa tahun 1980, yakni tumbuh dalam tautan munculnya industri cetak raksasa, televisi, video, dan radio. Dan itu didukung oleh kelembagaan distribusi pengawasannya yang melahirkan mata rantai penciptaan dan pasar yang beragam sekaligus saling berhubungan, namun juga masing-masing tumbuh lebih khusus. Celakanya di Indonesia dasar struktur dari keadaan tersebut belum siap. Seperti belum efektifnya jaminan hukum dan pengawasan terhadap pasar video, untuk menjadikannya pasar kedua perfilman nasional setelah bioskop.(2)
Faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu film nasional salah satunya adalah rendahnya kwalitas teknis karyawan film. Ini disebabkan kondisi perfilman Indonesia tidak memberikan peluang bagi mereka yang berpotensi untuk berkembang.

Penurunan jumlah film maupun penonton di Indonesia sudah memprihatinkan. Jumlah penonton dalam skala nasional tahun 1977/78 – 1987/88 tercatat 937.700.000 penonton dan hingga tahun 1992 menurun sekitar 50 persen. Bahkan di Jakarta dari rata-rata 100.000 – 150.000 penonton, turun menjadi 77.665 penonton tahun 1991. Demikian juga dengan jumlah film, dari rata-rata 75 – 100 film pertahun, tahun 1991 / 92 menurun lebih daripada 50 % tahun 1993 surat izin produksi yang di keluarkan Deppen RI, sampai bulan Mei baru tercatat 8 buah film nasional untuk diproduksi.(3)
Berikut tabel jumlah produksi film nasional sejak tahun 1987 (4)

1990 1991 1992 1993 1994
115 57 31 27 32

Mengapa mereka menonton film Indonesia ? (5)

Daya tarik utama mereka menonton film Indonesia karena

  • Mengetahui tema, cerita, jenis film seperti terlihat dalam poster dan iklan (60%).
  • Tertarik pada bintang utamanya (26%)
  • Resensi film di surat kabar dan majalah hanya 10 % dan inipun kebanyakan dari yang berusia 20 – 25 tahun.

Penggemar film di Indonesia(6)

Kelompok 1.
Cenderung memilih mutu film sebab menonton film bukan sekedar mencari hiburan tapi menikmati karya seni film dalam arti yang lebih luas.

Kelompok 2.
Cenderung mengikuti arus. Pertimbangan mutu film tetap merupakan referensi bagi mereka.

Kelompok 3.
Tidak terlalu memilih, sekedar mencari hiburan saja.

Penonton Film Indonesia.(7)

Berdasarkan angket penonton tahun 1988 dan 1989 yang dilakukan di Bandung, penonton film Indonesia adalah sebagian besar berusia antara 15 – 35 tahun (90%) dengan tekanan usia pada 20 – 25 tahun (40%), lelaki (57%) dan wanita (43%) yang berpendidikan SMA dan perguruan tinggi sebanyak 42% sedangkan 50% mengaku abstain. Mereka ini mengaku menonton film Indonesia lebih dari sekali selama sebulan (59%) dan ada 12% yang menonton lebih dari 5 kali dalam sebulan.

Latar Budaya Penonton Film Indonesia.

Film Indonesia sekarang ini adalah kelanjutan dari tradisi tontonan rakyat sejak masa tradisional, masa penjajahan sampai masa kemerdekaan ini. Untuk meningkatkan apresiasi penonton film Indonesia adalah menyempurnakan permainan trick-trick serealistis dan sehalus mungkin, seni akting yang lebih sungguh-sungguh, pembenahan struktur cerita, pembenahan setting budaya yang lebih dapat dipertanggungjawabkan, penyuguhan gambar yang lebih estetis dsb.

Peningkatan mutu filmis dari genre-genre film nasional yang laris sekarang ini dapat meningkatkan daya apresiasi film bermutu di lingkungan penonton urban yang marginal ini, tetapi mungkin juga dapat ditonton oleh golongan penonton yang terpelajar dan intelektual.

Golongan Penonton Film Indonesia yang Lain.

Ketidakadilan produksi film nasional sekarang ini terletak pada pelayanannya yang hanya kepada penonton ‘berbudaya daerah’ semacam di atas. Dugaan sementara bahwa golongan terpelajar di Indonesia dipenuhi selera seni pertunjukannya oleh film-film impor yang kondisi atau referensi budayanya cukup baik diapresiasi oleh mereka. Namun kondisi semacam ini tidak dapat terus menerus dilakukan karena film-film impor tersebut jauh dari sejarah, mitos, kondisi dan masalah-masalah Indonesia sendiri.

Untuk membuat film bermutu yang laris di semua golongan penonton dengan latar belakang budaya mereka yang berbeda-beda adalah dengan memberi kesempatan kepada para sineas.

Studi Kasus

Pusat Perfilman Usmar Ismail

Dibangun diatas tanah seluas 1,8 Ha di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Luas bangunan seluruhnya meliputi 11.550 M2 yang terdiri dari :

1. Bangunan induk (perkantoran) seluas 1.620 M2 terdiri dari 3 lantai :

  • Lantai I disewakan untuk kantor-kantor perusahaan perfilman.
  • Lantai II untuk kantor-kantor organisasi perfilman.
  • Lantai III untuk Kantor Pusat Perfilman dan Sinematek.

2.Ruang Preview, lobby, ruang proyektor, cafetaria dan ruang sidang sebanyak 3 buah keseluruhannya seluas 1.250 M2 . Ruang preview berkapasitas 200 orang dan dapat berfungsi sebagai ruang sidang dan pertemuan.

3.Gedung Bioskop seluas 3400 M2 dengan kapasitas 800 orang yang terdiri dari ruang mekanik, ruang menyimpan film, lobby dan gudang.

Kompleks Pusat Perfilman terdiri dari 3 buah gedung yaitu :

a.Gedung Bioskop yang terletak pada bagian depan komplek menghadap jalan Rasuna Said

b.Ruang Preview Room terletak dibagian belakang komplek

c.Gedung Pusat Perfilman yang terdiri dari kantor organisasi dan perusahaan perfilman, kantor Pusat Perfilman, dan Sinematek.

Gaya bangunan seperti juga bangunan-bangunan perkantoran yang dibangun pada tahun 70-an bergaya International Style, bercat putih dengan dominasi garis-garis horizontal. Bangunan ini baik exterior maupun interiornya tidak mencerminkan bangunan kesenian yang umumnya representatif.

Media Center, Hamburg, Germany

Arsitek : Medium Architekten

Lokasi : Ottensen, Hamburg

Ide membuat Media Center ini datang dari The Hamburger Filmburo - sebuah badan yang menyokong pembuat-pembuat film swasta- yang membutuhkan sarana perkantoran dan studio.

Media Center ini merupakan restrukturisasi dari bangunan lama yang sejak tahun 1868 berfungsi sebagai pabrik besi baja yang memproduksi baling-baling kapal. Pabrik ini bangkrut dan diubah fungsinya menjadi Media Center. Sejak 1970 Medium Architekten, Peter Wiesner, Thiess Jentz, Heiko Popp dan Jan Stormer menitik beratkan pada pembentukan kembali, pengembangan dan penambahan struktur bangunan tambahan yang dapat melayani penggunaan modern. Mereka menggambarkannya sebagai Soft Architecture yang mencangkokkan fungsi dan bentuk-bentuk baru pada bangunan lama. hasilnya berupa ekspresi dari struktur bata merah yang masif dengan rangka baja yang diekspos seperti struktur pabrik.

Di bagian manapun dari bangunan dapat terbaca masa lalu dan kekinian. Bangunan ini lebih sebagai sebuah sculpture darpada arsitektur. Seperti dalam perancangannya, Arsitek selalu membawa kapur dan menggambarkannya langsung di lokasi.

Ruang- ruang :

  • Film Cafe
  • Toko-toko dengan perkantoran diatasnya
  • Kompleks bioskop
  • Perkantoran untuk Perusahaan perfilman
  • Eisenstein Restaurant
  • Lembaga film dan teater
  • Perpustakaan film dan video untuk umum.

Arts Library, Seoul Arts Center.

Merupakan bagian dari komplek Seoul Arts Center yang terdiri dari Concert Hall, Calligraphy Hall, Festival Hall, Arts Gallery, Korean Music Center, dan Arts Library. Kompleks ini dibangun di atas tanah seluas 234.385 M2 dengan luas total bangunan 120.000 M2 . Arts Library ini memiliki total luas 23.175 M2 yang dibagi menjadi 4 lantai.

Pada Lantai Basement terdapat Perpustakaan Film yang memiliki 2 bioskop dengan kapasitas 100 dan 140 orang, studio workshop, ruang kuliah, ruang penyompanan film, dan perpustakaan rujukan. Perpustakaan ini menjadi tempat untuk mencari informasi, mempelajari, mengembangkan dan menyajikan program-program film dimana film dinikmati dan dipelajari sebagai salah satu bentuk seni.

Pada lantai 1 terdapat Ruang Pelayanan Referensi yang menyediakan berbagai informasi tentang seni. Di lantai ini juga terdapat Perpustakaan anak yang dimaksudkan untuk memperkenalkan seni pada anak-anak sejak dini.

Pada lantai 2 terdapat perpustakaan seni, koleksi barang cetakan dan ruang mikro film. Perpustakaan ini menggunakan sistem pelayanan komputer untuk memudahkan pencarian informasi.

Ruang Audio-Visual terdapat di lantai 3 yang dilengkapi dengan ruang-ruang saji untuk perorangan maupun kelompok.

Konsep Arts Library ini mengikuti Master Plan konsep Seoul Arts Center yaitu sebuah tempat interaksi. Interaksi antara Tua dan Muda, interaksi antara Barat dan Timur dan interaksi antara masa lalu dan masa kini. Hal ini terlihat dari ekspresi bangunan yang mencerminkan kombinasi antara teknologi Barat dengan bentuk-bentuk eksotis Dunia Timur.


<1>)Disarikan dari tulisan Garin Nugroho : “Krisis sebagai Momentum Kelahiran”, Kompas, Agustus 1991

<2> )Nugroho, Garin, “Film Indonesia, Antara Pertumbuhan dan Kecemasan” Tempo, Mei 1993

<3> )Nugroho, Garin, “Seks clip : Dunia Fragmentasi”, Kompas, 24 Juli 1994

<4> )Data dari Pusat Perfilman Usmar Ismail

<5> )Angket penonton film di Bandung tahun 1990

<6> )Sudwikatmono, “Sinepleks dan Industri Film Indonesia”, dalam Layar Perak, Jakarta : Gramedia, 1992

<7> )Disarikan dari Diskusi Perfilman 1990, Liga Film Mahasiswa ITB, Bandung, 1990

sumber : (http://www.geocities.com/Paris/7229/film.htm)