Category Archives: 1

THE OLDMAN AND THE SEA DALAM DUA PENERJEMAHAN : MASALAH MEMAKNAI KATA

Membaca sebuah karya terjemahan bagi saya pribadi kadang bisa menjadi masalah kadang tidak. Pada dasarnya keberadaan sastra terjemahan cukup menolong kita yang ingin membaca sebuah karya sastra asing, namun memiliki keterbatasan dalam memahami bahasa untuk dapat mengerti isi dari suatu karya. Selanjutnya yang mungkin menjadi masalah adalah, apakah kita dapat menangkap apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh pengarang aslinya? Sedangkan yang kita baca bisa dikatakan membaca melalui tangan kedua.

Bukan berarti menafikan atau mencurigai si penerjemah tidak bisa menyampaikan maksud si pengarang saat ia menerjemahkan sebuah karya pada bahasa yang lain. Akan tetapi sebuah kendala adalah bedanya budaya yang ada apabila si penerjemah tidak begitu faham dengan beragam faktor yang mendukung lahirnya sebuah karya ini.

Sebuah simpulan kecil, penerjemah tidak hanya harus dapat memahami suatu bahasa secara kelengkapan struktur bahasa, makna, dan sebagainya tapi juga ia harus dapat menerima maksud yang pengarang ingin sampaikan, sehingga ketika ia menerjemahkan sebuah karya sastra, ia berangkat dari pemahamannya terhadap isi dan makna, sehingga ketika menerjemahkan ia pun tidak hanya bermain mengartikan kalimat-kalimat, namun ia pun bermain dengan kata-kata untuk dapat menyampaikan maksud yang sama dalam bahasa yang berbeda.

Sebuah karya terjemahan tidak dapat kita bandingkan dengan karya aslinya secara struktur maupun dari gaya bahasanya. Karena sebuah karya terjemahan merupakan wujud baru, kalau boleh dikatakan karya terjemahan adalah hasil pengkhianatan dengan kreatifitas. Makna pengkhianatan yang saya peroleh dari mata kuliah sastra bandingan yang saya ikuti minggu lalu, adalah sebuah tindakan seorang penerjemah dalam mengkhianati karya yang ia terjemahkan agar ia bisa menampung karya yang ia terjemahkan tepat ke dalam bahasa sasaran. Banyak karya sastra asing yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, apalagi apabila karya tersebut sudah menjadi sastra kanon atau merupakan sebuah masterpiece yang memang dirasa perlu untuk diterjemahkan dalam berbagai bahasa sebagai tanda layaknya sebuah karya untuk dikenal dan diketahui banyak orang di berbagai belahan dunia. The Old Man and The Sea merupakan sebuah masterpice­ yang diakui di dunia sastra karya Ernest Hemingway. Banyak ahli bahasa yang telah menerjemahkan karya ini, termasuk di Indonesia.

Ada dua terjemahan dari novel The Old Man and The Sea yang coba saya bandingkan, yaitu terjemahan Sapardi Djoko Damono dengan terjemahan karya Dian Vita Ellyati. Dari awal sudah nampak berbeda, bagaimana Sapardi dan Dian menyampaikan sebuah kalimat sesuai dengan gaya penerjemahan mereka.

Dalam terjemahan Sapardi kita dapat menemukan kalimat sebagai berikut :

Ia seorang lelaki tua yang sendiri saja dalam sebuah perahu menangkap ikan di Arus Teluk Meksiko dan kini sudah genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekor ikanpun. (Damono, 1975: 5)

Sedangkan Dian dengan gaya bahasanya sendiri menerjemahkan kalimat tersebut dalam bahasa sebagai berikut :

Adalah seorang lelaki tua yang pergi ke laut seorang diri dalam sebuah perahu di Arus Teluk Meksiko yang telah berlayar selama 84 hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun. (Ellyati, 2008: 3)

Memang secara umum apa yang mereka sampaikan sama saja, namun kita sebagai pembaca tentu dapat memilih mana yang lebih enak dibaca dan mana yang maknanya dapat langsung dirasakan. Bagaimana kita menggambarkan sosok lelaki tua yang sendiri saja dalam kalimat Sapardi dengan sosok lelaki tua yang pergi ke laut seorang diri dalam kalimatnya Dian. Bagaimana kita membaca genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekor ikanpun, dengan yang telah berlayar selama 84 hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun. Ihwal Sapardi memilih memaparkan sebuah hitungan hari dengan menulisnya dalam tiga suku kata dan Dian yang lebih memilih menuliskannya dalam bentuk angka, dari situ pun kita dapat merasakan mana yang lebih enak untuk kita baca dalam sebuah karya saat pengarang menjelaskan tentang sekian waktu yang telah dilewati seorang lelaki tua di laut, bagaimana kita sebagai pembaca dapat mencoba untuk ikut merasakan cukup lamanya waktu tersebut dilalui oleh seorang lelaki tua sendiri di lautan.

Berikutnya contoh perbandingan pemilihan kata lain yang juga berbeda dalam penerjemahan yang dilakukan oleh Sapardi dengan Dian yang menurut saya terasa cukup menimbulkan perbedaan yang signifikan bagi pembaca dalam memaknainya.

“ya,” kata anak itu. “ Mau kau kutraktir bir di teras dan sesudah itu kita bawa pulang perlengkapan ini?”

“kenapa tidak?” kata lelaki tua itu. “kita sama-sama nelayan.” (Damono, 1975: 6)

Perhatikan pula bagaimana Dian dengan penerjemahannya pada kalimat berikut :

“ya,” si bocah menjawab. ”Bolehkah aku menawarimu segelas bir di beranda dan kemudian kita akan membawa peralatan ke rumah.”

“ kenapa tidak?” lelaki tua itu berkata. “sebagai sesama lelaki.” (Ellyati, 2008: 4)

Bagaimana Sapardi lebih memilih kata anak yang mengacu pada tokoh Manolin, dan Dian memilih kata bocah untuk merujuk pada tokoh yang sama. Menurut KBBI anak memiliki makna sebagai keturunan yang kedua; manusia yang masih kecil sedangkan bocah sebagai anak (kecil); kanak-kanak. Secara umum makna keduanya tidak terlalu berbeda jauh, namun ketika telah digunakan dalam penjelasan akan terasa berbeda mengambarkan Manolin yang digambarkan masih dalam wujud seorang anak dan bocah, rasanya bocah lebih cenderung menggambarkan sosok anak kecil yang masih polos dan belum tahu banyak tentang apa-apa, masih lebih suka bermain dan sebagainya. Padahal Manolin tidak seperti itu juga, ia sudah mulai mengerti masalah berlayar, bisa diajak berbincang tentang kenelayanan, baseball, dan sudah mencoba bir pula. Lalu ketika Sapardi lebih memilih kata anak, selalnjutnya ia menggambarkan hubungan Manolin dengan Santiago yang lebih terasa keegaliterannya, mereka berdialog layaknya teman. Berbeda dengan Dian yang masih menunjukkan bahwa pertautan usia yang sangat jauh anatara Manolin dan santiago menimbulkan rasa sungkan dan tingkatan dari manolin kepada Santiago.

Selain itu pula pada kalimat terakhir yang diucapkan oleh Santiago pada Manolin,

Sapardi menggunakan kalimat berikut:

“kenapa tidak?” kata lelaki tua itu. “kita sama-sama nelayan.”

Berbeda dengan Dian yang lebih memilih menggunakan kalimat seperti di bawah ini:

“ kenapa tidak?” lelaki tua itu berkata. “sebagai sesama lelaki.”

Kita sama-sama nelayan dan sebagai sesama lelaki tentunya menimbulkan interpretasi yang berbeda, karena kedua kata tersebut nelayan dan lelaki adalah dua kata yang berbeda bentuk dan makna. Nelayan bisa saja lelaki bisa saja perempuan, tapi lelaki tidak semuanya nelayan. Rasa yang muncul ketika membaca kalimat sebagai sesama lelaki bagi saya pribadi adalah rasa yang lebih maskulin, rasa yang lebih menunjukkan kelelakian yang sebelumnya diterangkan pada tawaran Manolin kepada Santiago. Sedangkan ketika Sapardi menggunakan kita sama-sama nelayan, hal tersebut langsung menimbulkan kesan bahwa apa yang Manolin tawarkan adalah sebuah kegiatan atau hal yang lumrah bagi para nelayan. Selanjutnya hal tersebut kembali lagi pada penerimaan dan pemahaman pembaca. Mana yang dirasa lebih enak dan nyaman, serta maksud yang ingin disampaikan dapat lebih terasa langsung.

Hal-hal seperti inilah yang seperti saya sampaikan di awal menjadi masalah atau tidak ketika membaca karya terjemahan. Masalah memaknai dan memahami apa yang penerjemah coba sampaikan. Pemahaman merupakan sebuah penerimaan yang cermat atas kandungan yang dimaksud dari penyampaian suatu bahasa. Kadang penyampaian yang kurang baik akan menimbulkan resepsi yang kurang baik atau malah tidak tepat, sehingga pemahaman itu sendiri tidak dapat terjadi karena kemandegan bahasa penyampaian yang tidak sesuai.

ANTARA REALITAS DAN MIMPI DALAM

SELUAS LANGIT BIRU DAN SHOPAHOLIC TIES THE KNOT

To live hapily, “it’s every girl’s dream”

Masalah perempuan di Indonesia sesungguhnya begitu banyak membutuhkan perhatian. Sebut saja mulai dari masalah TKW, perdagangan perempuan dan anak, dan lain sebagainya. Akan tetapi pemberitaan mengenai hal tersebut dirasa kaku dan menyebabkan orang tidak terlalu peka terhadap permasalahan yang demikian. Untuk menceritakan hal-hal seperti itu rasanya tidak harus melulu melalui media pemberitaan. Kita dapat mengemasnya dalam bentuk lain, seperti dalam bentuk karya fiksi cerpen atau mungkin novel.

Sesungguhnya hingga saat ini banyak penulis perempuan yang telah mencoba menuliskan cerita mengenai permasalahan di sekitar perempuan juga. Akan tetapi, novel-novel yang ada khususnya yang menceritakan tentang perempuan, hanya bercerita seolah-olah perempuan tidak menghadapi permasalahan besar yang menyangkut dengan masalah-masalah yang pelik. Novel bergenre Chicklit merupakan salah satunya. Novel-novel chicklit merupakan novel yang memang menempatkan perempuan sebagai tokoh utama dengan beragam permasalahan yang pada dasarnya memang dihadapi oleh para perempuan itu sendiri. Rata-rata hanya bercerita tentang perempuan di tengah hal-hal kecil dan sepele.

Bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang terlahir di bawah naungan nama sebuah keluarga besar pemegang banyak perusahaan besar di negeri ini? Memiliki penampilan fisik sempurna, kecerdasan yang mengagumkan, serta memiliki saudara sepupu yang sedemikian banyaknya dengan beragam karakteristiknya. Itulah gambaran kecil mengenai salah satu tokoh utama dalam novel Seluas langit Biru karya penulis muda Sitta Karina. Adalah Bianca seorang perempuan yang cukup boyish, bercita-cita menjadi seorang jurnalis tiba-tiba dijodohkan oleh neneknya dengan Sultan Syahrizki seorang pewaris dan pemilik perusahaan Mata Cakra. Adapun tujuan perjodohan ini adalah untuk memperkuat ikatan antara dua perusahaan besar. Bianca yang modern pun takhabis pikir akan keputusan neneknya yang memilihnya menjadi “tumbal” untuk membantu menyelamatkan perusahaan milik kleuarga besar mereka. Selain dihadapkan dengan masalah perjodohan seperti ini, Bianca pun bertemu dengan Aozora lelaki slengean yang taklain adalah adiknya Sultan. Beragam masalah mulai muncul dan menghadapi Bianca, Sultan, Zora, dan beberapa orang di sekitar mereka. Zora yang selama ini selalu merasa menjadi bayang-bayang Sultan pun mulai menolak untuk mundur dari kakaknya ketika ia menyadari bahwa ia mencintai Bianca, dan Bianca pun menyadari hal itu, ia yang selama ini kuat ternyata tetap membutuhkan body guard, partner yang mengerti dirinya lebih dari siapapun.

Sedangkan dalam Shopaholic Ties The Knot terdapat Becky sang tokoh utama. Becky adalah seorang perempuan lajang, gila belanja, memiliki karir yang baik. Memiliki seorang Kekasih Luke yang merupakan seorang pengacara. Pada suatu hari Luke, memintanya untuk menikah dengannya, sebuah kebahagiaan baru bagi Becky namun juga mendatangkan beragam kerumitan menjelang pernikahannya tersebut karena orangtua dari kedua belah pihak pun mulai turut ambil bagian dalam rencana pernikahan mereka.

Bianca dan Becky, keduanya memiliki karakteristik yang jauh berbeda satu sama lain.

Kisah yang mereka jalani dan hadapi dalam novel ini pun tidak dapat dikatakan sama. Namun yang menjadi hal penting untuk digaris bawahi adalah masalah culture yang ada di dalam masing-masing novel ini. Bianca seorang warga negara Indonesia yang lahir ditengah lingkungan budaya keluarga yang tidak sepenuhnya timur dan terhitung begitu hedon karena limpangan harta dan jenis pergaulan kelas atas. Namun nyatanya masih menggunakan sistem perjodohan untuk menyatukan dua perusahaan besar. Bianca pun yang tak kuasa menolak akhirnya pasrah menerima. Ada sebuah alasan yang membuat Bi merasa terikat dan tidak bisa melepas semua ini begitu saja, yaitu keluarga. Mau bagaimana pun nama baik keluarga dan perusahaan keluarga Hanafiah lah yang akan menjadi taruhannya.

Kehidupan yang sudah terakulturasi dengan budaya barat tidak selamanya membuat orang bisa melepas tanggung jawabnya begitu saja dari keluarga. Lain hal dengan Becky, menjelang pernikahannya orangtua kedua belah pihak masing-masing mengajukan konsep pernikahan bagi keduanya dan sulit untuk diputuskan mana yang akan di pilih.

Dari bagian ini pun saya menangkap bahwa ternyata di luar negeri pun sebebas-bebasnya orang melakukan segala hal, sejauh apapun ia telah lepas dari keluarganya akan tetapi masih ada yang membuat mereka masih merasa terikat dengan keluarganya. Becky tinggal jauh dari orangtuanya, memiliki kekasih dan telah tinggal bersama dengan kekasihnya tersebut. Namun ketika akan menikah pihak keluarga merasa perlu untuk ikut menentukan bagaimana pernikahan mereka nanti. Becky dan Bianca, keduanya masih memiliki kesadaran bahwa keluarga merupakan bagian penting dari hidup mereka. Walaupun mereka memiliki harapan yang lain dan kadang harapan itu harus terus diperjuangkan atau malah dikorbankan.

Kisah para perempuan dalam chicklit ini terutama dalam novel karya Sitta Karina rasanya terlalu berlebihan dan dapat dibilang menjual mimpi para perempuan. Sulit untuk menemui seluruh kejadian atau mungkin beberapa kejadian yang ada di dalam novel dalam realitas kehidupan. Padahal pada dasarnya karya fiksi itu harus dapat mengandung unsur kenyataan. Dalam Sopaholic Ties the Knot rasanya cukup menggambarkan bagaimana realitas yang terjadi di luar sana. Kebiasaan tinggal bersama pacar di luar jalur pernikahan, dll karena kita mengetahui sendiri bagaimana budaya di negeri barat yang bertolak belakang dengan budaya timur kita. Tidak salah juga terhadap anggapan yang kurang positif terhadap chicklit yang menyatakan bahwa chicklit hanya membahas hal-hal yang dangkal di permukaan saja.

Aisha Shaidra/180110060005

DARI KISAH CINTA KE ASAL-USUL

DALAM DUA CERITA SANGKURIANG DAN WATUGUNUNG

Legenda merupakan salah satu bentuk cerita prosa rakyat yang diyakini oleh yang empunya cerita merupakan suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Biasanya cerita-cerita legenda ini terjadi pada suatu waktu dan tempat yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.

Sangkuriang merupakan salah satu legenda yang terkenal, cerita lisan ini bersifat tradisi dan telah dikenal sejak lama. Sangkuriang yang merupakan folklor masyarakat sunda memang sudah turun-menurun dikisahkan ibu pada anak-anaknya tentang kisah seorang anak yang mencintai ibunya sendiri bahkan hendak menikahinya.

Tak jauh berbeda dengan Sangkuriang, cerita Watugunung yang berasal dari Bali pun memiliki kisah yang cukup serupa namun taksama. Sangkuriang merupakan anak dari Dayang Sumbi yang merupakan putri yang dilahirkan dari rahim seekor babi yang bernama Céléng Wayungyang yang secara tidak sengaja meminum air seni Baginda Sungging Perbangkara. Lantas karena suatu hal yang boleh dikatakan sebagai pengalaman tidak wajar Dayang Sumbi pun mengandung seorang anak dari seekor anjing hutan bernama Tumang. Bayi tersebut lantas lahir dan tumbuh menjadi seorang anak lelaki yang sehat, pandai berburu dan diberi nama Sang Kuriang.

Watugunung merupakan anak dari Dewi Shinta, yang pada usia masih kecil melarikan diri karena dimarahi oleh Dewi Shinta, pada suatu hari ibunya khilaf lalu memukul kepala Watugunung hingga berdarah ketika merebut nasi yang sedang dimasak. Kisah terpisahnya Sang Kuriang dan Watugunung dari ibu mereka masing-masing begitu mirip, mereka pergi karena ibu mereka murka dan memukul kepala mereka dengan centong nasi.

Kemiripan kisah pada cerita-cerita lisan memang sudah menjadi hal yang lumrah. Legenda sendiri biasanya bersifat migratoris, yakni dapat berpindah-pindah sehingga dikenal luas di beberapa wilayah yang berbeda-beda. Cerita legenda tersebar dalam bentuk pengelompokan yang biasanya berkisar antara satu tokoh atau suatu kejadian tertentu.

Kedua cerita legenda ini, Sang kuriang dan Watugunung, menceritakan tentang tokoh dan asal-usul dari sesuatu. Sang Kuriang dan Watugunung, keduanya sama-sama sempat mengalami hal yang serupa sebelum mereka terpisah dari ibunya, yaitu mendapatkan pukulan karena kemarahan dari ibunya masing-masing. Mereka berkelana dalam waktu yang cukup lama dan atas kehendak dewata pula mereka kembali dipertemukan dnegan ibunya msiang-masing namun dengan ingatan dan rasa yang berbeda. Sang Kuriang juga Watugunung sama-sama tidak mengingat bahwa wanita yang mereka temui saat mereka telah dewasa ini adalah ibunya, perasaan yang timbul pun adalah perasaan cinta laki-laki dewasa kepada lawan jenisnya, bukan lagi perasaan yang anak kepada ibu ataupun sebaliknya.

Cerita Sang Kuriang merupakan cerita legenda yang mengisahkan asal-usul terjadinya Tangkuban Perahu, yang saat ini dikenal sebagai salah satu objek wisata terkenal di Jawa Barat. Begitu pun dengan Watugunung, cerita legenda ini juga merupakan asal-usul munculnya Wuku, yang merupakan perhitungan hari bulan. Wuku Watugunung dipercaya memberi pengaruh watak keras hati bagi manusia yang dilahirkan pada wuku tersebut.

Asal-usul Wuku ini berawal dari proses pengangkatan dua isteri serta 27 anak Prabu Watu-Gunung ke surga dilakukan satu persatu pada setiap minggu. Inilah permulaan adanya 30 wuku yang dijadikan dasar perhitungan Pawukon atau zodiak Jawa.

Rupanya kisah cinta yang tidak hanya terpaut oleh masalah usia tapi juga terpaut oleh pertalian darah memang sudah ada sejak dulu. Beginilah sifat dari cerita yang bermula dari apa yang mungkin direkayasa atau juga bisa dicipta dari apa yang memang sudah pernah terjadi. Di luar segala kemungkinan benar tidaknya atau dapat diyakini tidaknya asal-usul dari suatu benda, nama, tempat, dan sebagainya, legenda adalah salahsatu wujud dari kebudayaan lisan masyarakat negeri ini.

AISHA SHAIDRA

180110060005

SASTRA BANDINGAN

MENGENAL DAN MEMBEDAKAN JENIS SERTA BENTUK DARI:

PANTUN, SYAIR, DAN KWATRIN


Puisi adalah sebuah karya sastra yang terdiri dari struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana kepuitisan. Dari zaman ke zaman puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaharuan (inovasi) (Teeuw dalam Pradopo).

Puisi merupakan karangan terikat. Makna terikat disini adalah puisi tersebut sesungguhnya terikat oleh hakikatnya itu sendiri, bukan aturan yang dibentuk oleh sesuatu di luar puisi itu sendiri. Dalam artian aturan di luar puisi itu ditentukan oleh penyair yang membuat dahulu atau masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada jenis-jenis puisi lama yang memiliki beragam aturan yang tidak boleh dilanggar.

Pemaknaan puisi sebagai jenis karangan terikat maksudnya adalah terikat oleh banyak baris dalam tiap bait, banyak kata dan suku kata dalam tiap baris, adanya rima, dan irama.

Pantun, Syair, dan Kwatrin

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang paling banyak dikenal luas di berbagai wilayah di Indonesia. Pantun lahir dan berkembang di kalangan masyarakat yang akrab dengan alam, dan bentuk pewarisan pantun ini biasanya diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Perkembangan pantun selanjutnya sudah ditransformasikan dalam bentuk budaya tulisan, tidak lagi lisan seperti zaman dahulu.

Zaman dahulu pantun menduduki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Melayu. Pantun banyak digunakan dalam permainan kanak-kanak, dalam percintaan, upacara peminangan dan pernikahan, nyanyian, dan upacara adat. Secara umum setiap tahap kehidupan masyarakat Melayu dihiasi oleh pantun.

Bentuk pantun terdiri atas dua bagian yaitu sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, yang biasanya kerap kali berkaitan dengan alam—hal ini mencirikan budaya agraris masyarakat tersebut—dan biasanya sampiran tidak memiliki hubungan dengan bagian kedua yang merupakan isi dari pantun yang menyampaikan maksud. Dua baris terakhir pada pantun, merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik yang berpola a-b-a-b, pola pantun ini tidak bisa berpola a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a.

Cukup mirip dengan pantun, kwatrin pun merupakan puisi yang terdiri atas empat baris tiap sajaknya. Akan tetapi bedanya kwatrin tidak terikat akan pola seperti pola a-b-a-b yang terdapat pada pantun.

Dalam perkembangannya, kwatrin termasuk dalam jenis puisi baru berdasarkan jumlah baris. Kwatrin dalam sastra melayu sering digunakan sebagai kata-kata sindiran maupun ungkapan atas isi hati yang dituangkan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dalam hal ini nampak tidak ada perbedaan antara pantun dengan kwatrin, akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal perpaduan antara lirik dan dialog.

Syair juga merupakan bentuk puisi dalam sastra Melayu lama. Kata syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti perasaan. Dari kata syu’ur, muncul kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Namun, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair di negeri Arab.

Bentuk syair terdiri dari empat baris serangkap dengan rima a-a-a-a dan a-b-a-b, namun pola yang paling populer adalah a-a-a-a. Tiap baris syair terdiri dari delapan hingga dua belas suku kata. Tiap empat baris membentuk satu bait syair, dan merupakan satu kesatuan arti.

Bait syair yang terdiri dari empat baris agak mirip dengan pantun. Letak perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris isi yang berdiri sendiri, sementara bait syair merupakan bagian dari sebuah cerita yang panjang. Syair juga merupakan salah satu bentuk sastra yang sangat populer pada masyarakat Melayu selain pantun.

Isi yang dikandung dalam syair biasanya merupakan falsafah hidup, nasihat, dan tentang keagamaan. Akan tetapi sleain itu adapula syair yang berisikan tentang cerita sejarah, kisah romantis, syair kiasan, dan sebagainya. Syair tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, akan tetapi juga sarat akan pengajaran dan pewarisan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.

Contoh pantun :

Untuk apa orang ke hulu
Kalau klek sudah berlubang
Untuk apa hamba menunggu
Kalau adik sudah bertunang


Hari minggu jalan ke pasar
Disana belanja membeli udang
Hatiku pilu rasa terbakar
Bunga kupuja dipetik orang


Habislah buah pisang nangka
Pisang serawak tegak sebatang
Habislah tuah hilanglah muka
Pinangan awak ditolak orang


Fajar subuh sudahlah terbit
Tanda hari menjelang siang
Terbakar tubuh dadaku sakit
Adinda kini dipinang orang


Galah bukan sebarang galah
Galah orang pemanjat pinang
Salah bukan sebarang salah
Salah abang lambat meminang

Contoh Kwatrin:

Ada yang ingin diucapkan angin

Mungkin dingin. Seperti ada yang ingin diucapkan.

Mungkin kegelisahan musik yang gemetar

Pada gitarmu. Seperti deru

Ada yang ingin diucapkan angin

Pada kegelapan. Malam yang mengalirkan badai.

Dan laut pasang. Pada lagumu.

Sebuah balada tak selesai

Tapi ada yang ingin diucapkan padamu

Mungkin rindu. Ketika angin itu

Memberat di ruang tunggu. Dan cuaca pada palka

Seperti ingin memberhentikan waktu.

Kwatrin Malam -Acep Zamzam Noor –

Contoh syair :

Seri Negeri gelaran diberi
Sebuah pulau cantik berseri
Bernaung dibawah sebuah negeri
Raja berdaulat Paduka Seri

Lautnya biru pantainya indah

Makam Mahsuri lagenda sejarah
Puteri Melayu tak mudah menyerah

Tujuh keturunan dimakan sumpah

Pulau lagenda dimakan sumpah

Tujuh keturunan tamatlah sudah

Kini makmur melimpah ruah

Semua penghuni tersenyum megah

Zaman dulu, karena belum ada tradisi tulis, sajak dibuat agar sesuatu mudah diingat. Begitupun dengan adanya pantun, syair, dan kwatrin. Ketiga jenis puisi ini lahir dari budaya lisan masyarakat untuk berkomunikasi dalam menyampaikan suatu maksud yang tidak secara eksplisit.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi

http://id.wikipedia.org/wiki/Sajak

http://id.wikipedia.org/wiki/Pantun

melayu online.htm

Pengkajian Puisi, Rachmat Djoko Pradopo

Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se-Bandung Raya 2009

Parlemen Pemuda Indonesia Daerah Bandung

Pendahuluan

Negara Indonesia mengadopsi konsepsi trias politika dalam kelembagaan pemerintahan di tingkat pusat. Meskipun tidak sepenuhnya diadopsi secara keseluruhan. Salah satu lembaga yang memiliki peranan penting dalam jalannya proses pemerintahan adalah lembaga legislatif. Lembaga ini secara umum memiliki tugas pokok dalam hal legislasi, pengawasan dan penganggaran. Lembaga ini merupakan bentuk representasi dari aspirasi rakyat. Namun sayangnya, lembaga yang notabenenya sangat diharapkan oleh rakyat ini sampai saat ini dinilai masih belum berpihak terhadap kepentingan masyarakat sebagai konstituen yang memilihnya. Proses pemilu legislatif yang merupakan pintu awal masuk lembaga legislatif ini juga dinilai masih jauh dari yang diharapkan.

Akan tetapi, peran masyarakat sebagai partisipan politik dalam lembaga legislatif hanya sampai pada tahapan rekruitmennya. Setelah sampai pada pintu parlemen, perlahan langkah partisipatif pun mundur. Masyarakat seolah lepas tangan dengan pilihannya sehingga kontrol sosial pun melemah. Hal itu merupakan salah satu cikal bakal terjadinya penyelewengan pada lembaga legislatif kita. Padahal seharusnya masyarakat tidak hanya sebatas mengantarkan para wakil mereka, tetapi juga mengawal mereka sampai selesai menjabat sebagai representasi dirinya di DPR, DPRD Propinsi ataupun DPRD Kabupaten/Kota.

Dalam rangka mengungkapkan pemikiran pelajar tingkat SMA/se-derajat mengenai parlemen di tanah air sebagai upaya memberi kontribusi bagi reformasi parlemen maka, kami Parlemen Pemuda Indonesia Daerah Bandung mengajukan suatu kegiatan bertajuk “Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se-Bandung Raya”.

Maksud dan Tujuan Kegiatan

1. Mendorong pelajar tingkat SMA sederajat untuk berfikir kritis dan mampu menyampaikan hasil pemikiranya dengan baik tentang parlemen.

2. Sebagai wadah untuk menghimpun aspirasi pelajar dalam mengembangkan bidang keilmuwan (sosial) yang dimilikinya.

Nama Kegiatan:

Adapun kegiatan yang akan kami selenggarakan adalah:

“Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se-Bandung Raya”

Bentuk dan Sasaran Kegiatan

Lomba essay ini mengangkat tema seputar pemikiran atau gagasan dari pelajar SMA sederajat se – Bandung Raya mengenai parlemen berdasarkan topik yang telah ditentukan. Para peserta yang dinyatakan lulus seleksi sebagai finalis (10 besar) oleh dewan juri, diharuskan mengikuti tahap seleksi selanjutnya. Pada tahap penjurian ini para finalis diminta untuk mempresentasikan hasil tulisannya di hadapan dewan juri. Selanjutnya dewan juri akan melakukan tanya jawab dengan finalis. Adapun tulisan para finalis ini nantinya akan dibukukan oleh panitia, sebagai bentuk kontribusi dan kepedulian nyata kaum muda terhadap bangsa. Berikut alur kegiatan Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se Bandung Raya :

PENGUMPULAN KARYA TULIS

SELEKSI TAHAP I

PENGUMUMAN 10 FINALIS

SELEKSI TAHAP II PRESENTASI

PENGUMUMAN PEMENANG

Tema Tulisan :

“Aku dan Parlemen”

Topik :

1. Parlemen Indonesia Harapanku

2. Yang Muda Yang Berparlemen

3. Fenomena Pemilu Legislatif 2009

4. Jika Aku Menjadi Anggota Parlemen

5. Perempuan dalam Parlemen

Ketentuan Lomba

1. Peserta lomba tulisan ini adalah siswa SMA se-derajat se-Bandung Raya.

2. Peserta melampirkan kartu pelajar yang masih berlaku, biodata, dan nomor kontak.

3. Peserta lomba adalah perseorangan dan hanya diperbolehkan mengirimkan satu tulisan essay.

4. Peserta harus menulis dengan tema yang telah ditetapkan oleh panitia dan memilih satu dari beberapa topik yang tersedia.

5. Panjang halaman tulisan antara 5-7 halaman

6. Hal-hal yang dinilai dari tulisan adalah format tulisan, kreativitas dan gagasan, topik yang dikemukakan, data dan sumber informasi (akurasi dan relevansi), pembahasan, simpulan dan transfer gagasan.

7. Tulisan yang dikirimkan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk media apapun dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan tulisan lainnya.

8. Finalis yang terpilih diwajibkan mengikuti presentasi sebagai rangkaian penjurian selanjutnya.

9. Pengumuman finalis akan dilaksanakan pada 22 Mei 2009

10. Presentasi hasil tulisan dan proses penjurian tahap II bagi para finalis akan dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2009 di tempat yang telah ditentukan oleh panitia.

11. Hasil tulisan pemenang akan dipublikasikan

12. Seluruh tulisan yang masuk menjadi hak penuh panitia.

13. Tulisan dikirimkan ke alamat email : parlemenpemuda@yahoo.com paling lambat tanggal 17 Mei 2009 dengan melampirkan formulir pendaftaran.

14. Informasi lebih lanjut silahkan lihat di www.parlemenpemuda09.blogspot.com

Format Tulisan

1. Tata Letak :

a. Tulisan diketik 1.5 spasi pada kertas berukuran A4, (font 12, dengan tipe huruf Times New Roman).

b. Batas Pengetikan :

· Samping kiri 4 cm

· Samping kanan 3 cm

· Batas atas dan batas bawah masing-masing 3 cm

· Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah.

2. Pengetikan Kalimat

Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok ke dalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.

3. Penomoran Halaman

Penomoran halaman memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas (1, 2, 3 dst.).

Contact person : Yuanita Utami (081808057540)

Agil Purnama (02276980568)

Duadua di Dua Belas

Aisha Shaidra

“untuk apa Kau mengajakku tuk turut kegiatan kalian besok siang?”

“kok? Hey, kamu lupa? Besok perayaan hari Ibu! Kita akan melakukan aksi damai, longmarch, seraya membagikan flyer dan bunga pada orang yang kita temui di jalan, setelah itu kita akan mengunjungi panti jompo!”

“iya, Aku tahu…tapi apa untungnya bagiku? Merayakan hari ibu? Heh, sehebat apa itu yang namanya Ibu? Sampai ia diberi sebuah hari spesial setiap tahun, sesuci hari perayaan hari besar keagamaan? Kalaupun ada hari untuk yang namanya orangtua, Aku lebih memilih hari nenek!”

“nenek juga ibu, ibu dari orang tua kita!”

“beda, karena nenekku bukan orangtua dari yang namanya orangtua yang seharusnya Aku miliki!”

“ya sudah, dia tak mau ikut, ya sudah, kenapa kamu harus berepot-repot memaksa dia?”

“Aku bukannya memaksa, tapi, Aku tak habis fikir, bisa-bisanya ia berkata seperti itu…”

“kenapa tidak? Itu mungkin saja, dari apa yang dia lontarkan tadi jelas kok masalahnya, Aku bisa menangkap maksud dan alasannya!”

“Aku juga faham, Ka! Tapi baru sekali tadi Aku lihat sisi Wina yang lain, dia begitu emosi, dia terlihat seperti seorang pendendam, dari ekspresi wajahnya, lontaran kata-katanya…”

“kamu sudah lupa waktu perkenalan saat kita Ospek Jurusan?”

“memang ada apa?”

“saat Wina maju memperkenalkan diri…”

“perkenalkan, nama saya Winidya Narita, tapi nenek saya suka memanggil saya Wina, pun teman-teman saya waktu SMP, SMA…saya berasal dari Bogor, tapi waktu saya masih kecil sempat tinggal di Solo, ya…sampai kelas empat SD saya tinggal di sana. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan, saya rasa itu cukup, terima kasih, ada yang mau bertanya?”

“tempat tanggal lahir?”

“oh…itu, entahlah secara pasti saya sendiri tidak tahu, tapi yang tertera di akte, dan surat-surat yang memerlukan data seperti itu menyebutkan kalau saya lahir pada tanggal satu November, delapan belas tahun silam.”

“Tempatnya? Solo?”

“…entah, ingatan saya sewaktu lahir sudah hilang, sehingga saya sama sekali tidak dapat mengingat di mana saya dilahirkan, pun orang yang melahirkan saya, entahlah, saya rasa cukup, terima kasih.”

Ibu? Apa artinya seorang Ibu? Ketika kita katanya harus selalu mengagungkan namanya setelah Tuhan, ketikan kita harus meyakini bahwa surga tuhan ada di telapak kakinya, ketika kita diajari oleh para pendidik di negara ini bahwa ia adalah sosok yang harus selalu dihormati, ia adalah sosok yang penuh kasih, penuh sayang…

Begitu agungnya sosok seorang Ibu sehingga dalam hadist pun namanya disebut tiga kali berturut-turut barulah nama ayah, sekali kata “ah” kita lontar padanya adalah sebuah dosa besar. Satu keuntungan bagiku, mungkin secara sadar sampai saat ini Aku tak menanggung dosa besar itu, karena Aku tak pernah melontarkan kata “ah” pada seorang ibu, yang sampai sekarang tidak pernah kutahu seperti apa rupa dan dimana rimbanya.

Aku masih selalu memepertanyakan alasan Aku dipertahankan dalam kandungan seorang perempuan sampai Aku dilahirkan, namun akhirnya Aku ditelantarakan. Untungnya seorang Nenek yang sejatinya tak punya hubungan darah setetes pun denganku sudi membesarkanku. Ia seorang wanita tua yang semakin ringkih dari tahun ke tahun, namun senyum diwajahnya tak pernah ikut menua, itulah obat kebahagiaan abadi yang kupunya, Aku tak punya kuasa tuk menghardiknya dengan beragam kata kasar yang biasa kulontar pada orang-orang yang kurang ajar padaku, kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut nenek sebagai bahan ajar padaku, Aku diajarinya tentang kelembutan, keharusan seorang anak perempuan, setidaknya sampai batas usia anak sekolah dasar Aku tumbuh menjadi anak yang penurut, mewarisi kelembutan nenek. Kepindahan kami merupakan titik tolak mulai terjadinya perubahan pada diriku, semakin banyak tanya yang orang lontarkan mengenai keberadaan orangtuaku yang selalu takbisa kujawab, dan tatapan tanya itu hanya bisa kubalas dengan tangis dan berlari ke pelukan nenek, semakin hari Aku semakin mempertanyakan semuanya, dimana orangtua itu? Kenapa orang merasa perlu ada orangtua? Kenapa takpunya orang tua rasanya begitu aib? Padahal apa yang salah? Aku sempat beberapa kali bertanya pada nenek tentang siapa ibuku siapa ayahku, nenek pun hanya bisa menggeleng, sampai akhirnya ia bercerita bahwa Aku adalah bayi yang ditemukannya di sebuah tong sampah!

Aku dianggap sampah? Lantas kenapa jika mereka, setidaknya Ia Ibuku itu, kalau menyadari Aku adalah sampah mengapa ia harus menunggu sembilan bulan lamanya? Kenapa tak ia gugurkan saja Aku? Toh akhirnya Aku ia buang? Kalau pun ia tak mau merawat Aku setelah melahirkanku, kenapa tak ia berikan Aku pada sebuah panti? Kenapa harus pada sebuah tong sampah ia titipkan Aku? Siapa yang akan menemukan seorang bayi pada sebuah tong sampah? Kucing? Paling-paling tukang sampah, pemulung! Kalau Aku ditemukan mereka, dan kalaupun mereka mau membawaku, adanya aku hanya akan menambah beban hidup mereka!

Ibu, begitu pendeknyakah akalmu?

Kalau setelah kau simpan aku di tong sampah itu, lantas tak lama kemudian ternyata kau mati tertabrak, atau apa…aku berdoa pada Tuhan semoga ia memaafkan dosamu itu!

Kalau ternyata kau masih hidup sampai sekarang, dan keadaanmu tidak lebih sama dengan keadaanku, aku pertanyakan lagi, apa bedanya kalau saat itu aku tetap kau bawa, toh keadaan kita tak jauh berbeda?

Kalau kau masih hidup dan kau kaya raya, selamat, berarti kau memang telah membuang sial!

Tapi kalau kau masih hidup dan punya keluarga, apalagi punya anak, ingin kupertanyakan seberapa banyak ingatanmu terbang untuk mengingatku yang dulu pernah kau buang? Atau seberapa kuat kau bertahan tuk melupakan aku yang cukup lama mendekam dalam rahimmu itu? Apakah aku ada aib yang begitu besar hingga hanya pada sebuah tong sampah kau titipkan aku? Apa yang kau katakan pada tong itu saat kau letakkan aku diantara aneka sampah, dan aku masih berbalut darah? Walau aku tak mengingat masa itu, aku bisa membanyangkan dalam beberapa waktu tubuhku ini dijilati lalat, dikerumuni beragam bakteri, dan segala macam hewan yang tak terlihat,, kubanykangan aku yang lemah menggeliat, aku yang lemah tak berdaya ketika tubuh ini dijilati lalat karena amisnya darahmu pada tubuh kecilku!

Ibu, kalau memang sekarang kau masih ada dan punya anak lagi dari rahimmu itu, dan kau mau merawat dan membesarkannya, berarti kau tak kapok melahirkan namun kau kapok untuk membuang anak. Kalau itu terjadi, ada benarnya mungkin latar belakang sperma yang membuahi telurmu lah yang mendorong nalurimu tuk membuangku, lantas sekarang kau mau merawatnya—anak yang kau lahirkan lagi itu. Siapa ayahku Ibu? Hanya kau dan tuhan yang tahu! Mungkin disinilah salah satu peran penting seorang ibu, ia yang dapat memberikan keterangan dan kepastian siapa ayah dari anak-anak yang dikandungnya. Dari kejelasan itu mungkin selanjutnya membawa pada keputusan akankah janin itu ia lahirkan, lalu akankah bayi itu ia rawat dan besarkan? Kemudian ia didik dan berikan kasih sayang. Nampaknya jelas kenapa aku termasuk dari bayi yang dibuang.

“Ka, barisan aksi damai kita didahului aksi lain!”

“apa? Aksi dari komunitas lain? LSM? Atau apa?”

“aksi mereka bertolak belakang dnegan aksi kita! Mereka mempertanyakan sejauh mana peran seorang Ibu? Dan tidak hanya itu, mereka menuntut untuk tidak diberlakukan lagi adanya peringatan hari Ibu.”

“ada-ada saja, ada orang yang kamu kenal dari barisan itu?”

“ada”

“siapa?’

“Wina.”

Jatinangor , di penghujung 2008

(Ibu, kalaupun ternyata ada orang-orang seperti ini, Aku katakan batapa beruntungnya memiliki seorang Ibu)

tigabelas di delapan waktu

katakanlah begitu, kami tigabelas dari tigapuluh orang yang mengikuti pealtihan parlementer di sebuah daerah di Lembang, sejak 4 Februari silam…

tigabelas yang terdiri dari lima perempuan dan sisanya kaum adam

tiga belas yang terpisah dalam tingkat ruang dalam satu bangunan

Selamat ulang tahun di seribu sembilan ratus delapan puluh…..

Selamat ulang tahun di seribu sembilan ratus sembilan puluh….

Selamat ulang tahun…di dua ribu…

Semoga panjang umur

Semoga sgala harap terkabul

Semoga…semoga…semoga…

Sampai kapan itu akan berulang dan kembali kudengar dari yang sama, dari yang lain, dari yang baru?

Sampai kapan doa-doa mengalir penuh, baik tulus baik mulus, baik hanya penuh di mulut, baik batas basa-basi.

Hari ini ulang tahunku, belum lama ucapan datang pergi, kembali seperti itu, terima kasih dan anggukan, sedikit sunggingan senyum, sedikit tidak banyak. Bukan pelit atau irit.

Belum lama pesan pun bermunculan, bermain kata, kalimat-kalimat panjang, doa lagi, harapan lagi, dorongan, pertanyaan, perintah, penekanan…tapi semoga-semoga itu tetap ada, bukan mau mengelak dari semoga, bukan bosan, tapi hanya terlampau sering saja, jadi cukup bosan, tapi ya sudah setahun sekali.

Pernah satu tahun sepi, senang tapi juga kehilangan, entah janji lupa serentak jadi pelupa, tak kupikir panjang, tapi ketika hampir petang serentak semua datang, dan hal serta kata yang sepertinya sudah jadi rutinitas kembali kudengar.

Satu selamat yang kusuka dan itu datang di dua ribu sekian…

Bukan selamat ulang tahun ini tapi selamat lain

Selamat pagi

#

Doni kemarin ditangkap.

Lalu?

Dia ditangkap polisi

Lalu?

Di Sel, biasa aksi

Sudah biasa, tapi baru ditangkap

Baru karena aksinya rusuh, Di!

Dia korlap?

Dia titip ucapan, salam dari

Ah, ya terima kasih.

Dia hanya semalam,

Yaaah….selamat balik saja

Eh…selamat pagi, katakan selamat pagi

#

Selamat ya…

Selamat, saya sudah mengira. Anak ini memang pintar

Selamat Pak, selamat Bu

Selamat, sama saja seperti kakaknya, ayahnya juga

Selamat lagi, lagi-lagi selamat, juara lagi ya?

##

Selamat pagi

Selamat siang

Selamat sore

Selamat malam

Selamat di jalan

Selamat datang

Selamat jalan

Hati-hati

Selamat adalah harapan, doa

Selamat adalah kata-kata

Panjang pendek

Selamat adalah banyak

Ada yang sedikit

Selamat adalah nama….

Sampai kapan itu akan berulang dan kembali kudengar dari yang sama, dari yang lain, dari yang baru?

Sampai kapan doa-doa mengalir penuh, baik tulus baik mulus, baik hanya penuh di mulut, baik batas basa-basi

Tak benci, bosan saja, hanya itu cukup. Selamat bosan. Aku masuk banyak keluar banyak, ikut banyak, setuju kecewa banyak kadang berimbangs ering pula tak imbang, selamat masuk, selamat tinggal, selamat bosan

Berapa waktu yang telah aku buntuti? Berapa jenis selamat didengar diucap untuk menyelamatkan, untuk membesarkan, untuk sekadar pemanis ucapan, untuk sekadar lainnya.

Selamat pagi, adalah kenangan

Kata termanis yang pernah kudengar dari sebuah mulut

Jelas pada paginya hanya sekali

Sempat berulang, berulang setiap pagi hanya untuk selamat pagi

Itu dulu

Itu Dia

Selamat pagi yang berbeda, selamat pagi yang memberi

Hanya selamat pagi, tak ada selamat siang, sore, malam

Selamat pagi

Kita bertemu di selamat pagi

###

Kamu datang

Ya, Tinur yang mengabari

Perjuangan

Apalah terserah

Kau sudah tidak mau lagi?

Sudahlah seperti ini, tapi entah

Kamu datang…

Ya?

Untuk?

Menagih janji, untuk hari kemarin

Sudah kusampaikan lewat Tinur

Aku beri balas kau dengar?

Harusnya aku yang bilang ya?

Tak apa sekali-kali aku

Tinur sampaikan semua?

Tidak tahu aku banyak memotong

Kenapa?

Terlalu banyak selamat

Bukannya itu bagus?

Banyak selamat? Tapi apa itu memberi jaminan?

Tapi itu doa, harapan banyak orang

Asal tulus aku terima, kalau tidak percuma

Berbaik sangkalah

Berburuk untuk kadang juga tak apa

Baik

Baik…

Boleh aku ucapkan yang cukup lama tak pernah kuucap?

Kamu diam itu ya?

Dapat dipastikan untuk sekarang

Kita bertemu di selamat pagi

Gara-gara selamat pagi

Sekarang pun

Kenapa?

Kita bertemu di selamat pagi

Di sel amat pagi

Ya di selamat pagi

Untuk mendengar selamat pagi kita bertemu di sel amat pagi

Putri kau begitu menyadari datang dari kerajaan nasib, dan hidup memang selalu terikat dengan nasib, kau disana tetap terikat dengan negeri yang tak mampu terpeta oleh kata, kau merasa dunia telah berbeda, dan kaucela semua dengan kata hina, berhentilah untuk merutuki nasib putri, di dunia baru kau tetap akan bisa seperti didunia kata kita dulu, namun jangan lupa satu jangan sampai kau lupa untuk bersyukur!dan jadilah putri yang dinanti oleh para raja, ratu dan seluruh semesta kembalilah suatu saat, pangeranmu akan datang di waktu yang tepat!

ayo…ayo….semangati diri tuk terus bergerak, jangan diam jangan sampai pernah diam!!!!!

aduh, belum lama lagi wall 2 wall ma temen, gak taunya dy bilang cha tipe melankolis…waduw???

segitunyakah???padahal cuma erasa diri lagi down aja, lagi ngerasa lum banyak mealkukan hal2 yang lebih penting dan berguna…ow..ow…

rasanya jadi aneh aja dinilai kayak gtu…padahals ering abnget ngeledek temen2 cowok kalo meeka sangat melankolis bahkan emlebihi saya sendiri, gaktaunya hari ini seseorang berkata demikian…