THE OLDMAN AND THE SEA DALAM DUA PENERJEMAHAN : MASALAH MEMAKNAI KATA
Membaca sebuah karya terjemahan bagi saya pribadi kadang bisa menjadi masalah kadang tidak. Pada dasarnya keberadaan sastra terjemahan cukup menolong kita yang ingin membaca sebuah karya sastra asing, namun memiliki keterbatasan dalam memahami bahasa untuk dapat mengerti isi dari suatu karya. Selanjutnya yang mungkin menjadi masalah adalah, apakah kita dapat menangkap apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh pengarang aslinya? Sedangkan yang kita baca bisa dikatakan membaca melalui tangan kedua.
Bukan berarti menafikan atau mencurigai si penerjemah tidak bisa menyampaikan maksud si pengarang saat ia menerjemahkan sebuah karya pada bahasa yang lain. Akan tetapi sebuah kendala adalah bedanya budaya yang ada apabila si penerjemah tidak begitu faham dengan beragam faktor yang mendukung lahirnya sebuah karya ini.
Sebuah simpulan kecil, penerjemah tidak hanya harus dapat memahami suatu bahasa secara kelengkapan struktur bahasa, makna, dan sebagainya tapi juga ia harus dapat menerima maksud yang pengarang ingin sampaikan, sehingga ketika ia menerjemahkan sebuah karya sastra, ia berangkat dari pemahamannya terhadap isi dan makna, sehingga ketika menerjemahkan ia pun tidak hanya bermain mengartikan kalimat-kalimat, namun ia pun bermain dengan kata-kata untuk dapat menyampaikan maksud yang sama dalam bahasa yang berbeda.
Sebuah karya terjemahan tidak dapat kita bandingkan dengan karya aslinya secara struktur maupun dari gaya bahasanya. Karena sebuah karya terjemahan merupakan wujud baru, kalau boleh dikatakan karya terjemahan adalah hasil pengkhianatan dengan kreatifitas. Makna pengkhianatan yang saya peroleh dari mata kuliah sastra bandingan yang saya ikuti minggu lalu, adalah sebuah tindakan seorang penerjemah dalam mengkhianati karya yang ia terjemahkan agar ia bisa menampung karya yang ia terjemahkan tepat ke dalam bahasa sasaran. Banyak karya sastra asing yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, apalagi apabila karya tersebut sudah menjadi sastra kanon atau merupakan sebuah masterpiece yang memang dirasa perlu untuk diterjemahkan dalam berbagai bahasa sebagai tanda layaknya sebuah karya untuk dikenal dan diketahui banyak orang di berbagai belahan dunia. The Old Man and The Sea merupakan sebuah masterpice yang diakui di dunia sastra karya Ernest Hemingway. Banyak ahli bahasa yang telah menerjemahkan karya ini, termasuk di Indonesia.
Ada dua terjemahan dari novel The Old Man and The Sea yang coba saya bandingkan, yaitu terjemahan Sapardi Djoko Damono dengan terjemahan karya Dian Vita Ellyati. Dari awal sudah nampak berbeda, bagaimana Sapardi dan Dian menyampaikan sebuah kalimat sesuai dengan gaya penerjemahan mereka.
Dalam terjemahan Sapardi kita dapat menemukan kalimat sebagai berikut :
Ia seorang lelaki tua yang sendiri saja dalam sebuah perahu menangkap ikan di Arus Teluk Meksiko dan kini sudah genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekor ikanpun. (Damono, 1975: 5)
Sedangkan Dian dengan gaya bahasanya sendiri menerjemahkan kalimat tersebut dalam bahasa sebagai berikut :
Adalah seorang lelaki tua yang pergi ke laut seorang diri dalam sebuah perahu di Arus Teluk Meksiko yang telah berlayar selama 84 hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun. (Ellyati, 2008: 3)
Memang secara umum apa yang mereka sampaikan sama saja, namun kita sebagai pembaca tentu dapat memilih mana yang lebih enak dibaca dan mana yang maknanya dapat langsung dirasakan. Bagaimana kita menggambarkan sosok lelaki tua yang sendiri saja dalam kalimat Sapardi dengan sosok lelaki tua yang pergi ke laut seorang diri dalam kalimatnya Dian. Bagaimana kita membaca genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekor ikanpun, dengan yang telah berlayar selama 84 hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun. Ihwal Sapardi memilih memaparkan sebuah hitungan hari dengan menulisnya dalam tiga suku kata dan Dian yang lebih memilih menuliskannya dalam bentuk angka, dari situ pun kita dapat merasakan mana yang lebih enak untuk kita baca dalam sebuah karya saat pengarang menjelaskan tentang sekian waktu yang telah dilewati seorang lelaki tua di laut, bagaimana kita sebagai pembaca dapat mencoba untuk ikut merasakan cukup lamanya waktu tersebut dilalui oleh seorang lelaki tua sendiri di lautan.
Berikutnya contoh perbandingan pemilihan kata lain yang juga berbeda dalam penerjemahan yang dilakukan oleh Sapardi dengan Dian yang menurut saya terasa cukup menimbulkan perbedaan yang signifikan bagi pembaca dalam memaknainya.
“ya,” kata anak itu. “ Mau kau kutraktir bir di teras dan sesudah itu kita bawa pulang perlengkapan ini?”
“kenapa tidak?” kata lelaki tua itu. “kita sama-sama nelayan.” (Damono, 1975: 6)
Perhatikan pula bagaimana Dian dengan penerjemahannya pada kalimat berikut :
“ya,” si bocah menjawab. ”Bolehkah aku menawarimu segelas bir di beranda dan kemudian kita akan membawa peralatan ke rumah.”
“ kenapa tidak?” lelaki tua itu berkata. “sebagai sesama lelaki.” (Ellyati, 2008: 4)
Bagaimana Sapardi lebih memilih kata anak yang mengacu pada tokoh Manolin, dan Dian memilih kata bocah untuk merujuk pada tokoh yang sama. Menurut KBBI anak memiliki makna sebagai keturunan yang kedua; manusia yang masih kecil sedangkan bocah sebagai anak (kecil); kanak-kanak. Secara umum makna keduanya tidak terlalu berbeda jauh, namun ketika telah digunakan dalam penjelasan akan terasa berbeda mengambarkan Manolin yang digambarkan masih dalam wujud seorang anak dan bocah, rasanya bocah lebih cenderung menggambarkan sosok anak kecil yang masih polos dan belum tahu banyak tentang apa-apa, masih lebih suka bermain dan sebagainya. Padahal Manolin tidak seperti itu juga, ia sudah mulai mengerti masalah berlayar, bisa diajak berbincang tentang kenelayanan, baseball, dan sudah mencoba bir pula. Lalu ketika Sapardi lebih memilih kata anak, selalnjutnya ia menggambarkan hubungan Manolin dengan Santiago yang lebih terasa keegaliterannya, mereka berdialog layaknya teman. Berbeda dengan Dian yang masih menunjukkan bahwa pertautan usia yang sangat jauh anatara Manolin dan santiago menimbulkan rasa sungkan dan tingkatan dari manolin kepada Santiago.
Selain itu pula pada kalimat terakhir yang diucapkan oleh Santiago pada Manolin,
Sapardi menggunakan kalimat berikut:
“kenapa tidak?” kata lelaki tua itu. “kita sama-sama nelayan.”
Berbeda dengan Dian yang lebih memilih menggunakan kalimat seperti di bawah ini:
“ kenapa tidak?” lelaki tua itu berkata. “sebagai sesama lelaki.”
Kita sama-sama nelayan dan sebagai sesama lelaki tentunya menimbulkan interpretasi yang berbeda, karena kedua kata tersebut nelayan dan lelaki adalah dua kata yang berbeda bentuk dan makna. Nelayan bisa saja lelaki bisa saja perempuan, tapi lelaki tidak semuanya nelayan. Rasa yang muncul ketika membaca kalimat sebagai sesama lelaki bagi saya pribadi adalah rasa yang lebih maskulin, rasa yang lebih menunjukkan kelelakian yang sebelumnya diterangkan pada tawaran Manolin kepada Santiago. Sedangkan ketika Sapardi menggunakan kita sama-sama nelayan, hal tersebut langsung menimbulkan kesan bahwa apa yang Manolin tawarkan adalah sebuah kegiatan atau hal yang lumrah bagi para nelayan. Selanjutnya hal tersebut kembali lagi pada penerimaan dan pemahaman pembaca. Mana yang dirasa lebih enak dan nyaman, serta maksud yang ingin disampaikan dapat lebih terasa langsung.
Hal-hal seperti inilah yang seperti saya sampaikan di awal menjadi masalah atau tidak ketika membaca karya terjemahan. Masalah memaknai dan memahami apa yang penerjemah coba sampaikan. Pemahaman merupakan sebuah penerimaan yang cermat atas kandungan yang dimaksud dari penyampaian suatu bahasa. Kadang penyampaian yang kurang baik akan menimbulkan resepsi yang kurang baik atau malah tidak tepat, sehingga pemahaman itu sendiri tidak dapat terjadi karena kemandegan bahasa penyampaian yang tidak sesuai.
