DARI KISAH CINTA KE ASAL-USUL
DALAM DUA CERITA SANGKURIANG DAN WATUGUNUNG
Legenda merupakan salah satu bentuk cerita prosa rakyat yang diyakini oleh yang empunya cerita merupakan suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Biasanya cerita-cerita legenda ini terjadi pada suatu waktu dan tempat yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.
Sangkuriang merupakan salah satu legenda yang terkenal, cerita lisan ini bersifat tradisi dan telah dikenal sejak lama. Sangkuriang yang merupakan folklor masyarakat sunda memang sudah turun-menurun dikisahkan ibu pada anak-anaknya tentang kisah seorang anak yang mencintai ibunya sendiri bahkan hendak menikahinya.
Tak jauh berbeda dengan Sangkuriang, cerita Watugunung yang berasal dari Bali pun memiliki kisah yang cukup serupa namun taksama. Sangkuriang merupakan anak dari Dayang Sumbi yang merupakan putri yang dilahirkan dari rahim seekor babi yang bernama Céléng Wayungyang yang secara tidak sengaja meminum air seni Baginda Sungging Perbangkara. Lantas karena suatu hal yang boleh dikatakan sebagai pengalaman tidak wajar Dayang Sumbi pun mengandung seorang anak dari seekor anjing hutan bernama Tumang. Bayi tersebut lantas lahir dan tumbuh menjadi seorang anak lelaki yang sehat, pandai berburu dan diberi nama Sang Kuriang.
Watugunung merupakan anak dari Dewi Shinta, yang pada usia masih kecil melarikan diri karena dimarahi oleh Dewi Shinta, pada suatu hari ibunya khilaf lalu memukul kepala Watugunung hingga berdarah ketika merebut nasi yang sedang dimasak. Kisah terpisahnya Sang Kuriang dan Watugunung dari ibu mereka masing-masing begitu mirip, mereka pergi karena ibu mereka murka dan memukul kepala mereka dengan centong nasi.
Kemiripan kisah pada cerita-cerita lisan memang sudah menjadi hal yang lumrah. Legenda sendiri biasanya bersifat migratoris, yakni dapat berpindah-pindah sehingga dikenal luas di beberapa wilayah yang berbeda-beda. Cerita legenda tersebar dalam bentuk pengelompokan yang biasanya berkisar antara satu tokoh atau suatu kejadian tertentu.
Kedua cerita legenda ini, Sang kuriang dan Watugunung, menceritakan tentang tokoh dan asal-usul dari sesuatu. Sang Kuriang dan Watugunung, keduanya sama-sama sempat mengalami hal yang serupa sebelum mereka terpisah dari ibunya, yaitu mendapatkan pukulan karena kemarahan dari ibunya masing-masing. Mereka berkelana dalam waktu yang cukup lama dan atas kehendak dewata pula mereka kembali dipertemukan dnegan ibunya msiang-masing namun dengan ingatan dan rasa yang berbeda. Sang Kuriang juga Watugunung sama-sama tidak mengingat bahwa wanita yang mereka temui saat mereka telah dewasa ini adalah ibunya, perasaan yang timbul pun adalah perasaan cinta laki-laki dewasa kepada lawan jenisnya, bukan lagi perasaan yang anak kepada ibu ataupun sebaliknya.
Cerita Sang Kuriang merupakan cerita legenda yang mengisahkan asal-usul terjadinya Tangkuban Perahu, yang saat ini dikenal sebagai salah satu objek wisata terkenal di Jawa Barat. Begitu pun dengan Watugunung, cerita legenda ini juga merupakan asal-usul munculnya Wuku, yang merupakan perhitungan hari bulan. Wuku Watugunung dipercaya memberi pengaruh watak keras hati bagi manusia yang dilahirkan pada wuku tersebut.
Asal-usul Wuku ini berawal dari proses pengangkatan dua isteri serta 27 anak Prabu Watu-Gunung ke surga dilakukan satu persatu pada setiap minggu. Inilah permulaan adanya 30 wuku yang dijadikan dasar perhitungan Pawukon atau zodiak Jawa.
Rupanya kisah cinta yang tidak hanya terpaut oleh masalah usia tapi juga terpaut oleh pertalian darah memang sudah ada sejak dulu. Beginilah sifat dari cerita yang bermula dari apa yang mungkin direkayasa atau juga bisa dicipta dari apa yang memang sudah pernah terjadi. Di luar segala kemungkinan benar tidaknya atau dapat diyakini tidaknya asal-usul dari suatu benda, nama, tempat, dan sebagainya, legenda adalah salahsatu wujud dari kebudayaan lisan masyarakat negeri ini.
AISHA SHAIDRA
180110060005
SASTRA BANDINGAN