ANTARA REALITAS DAN MIMPI DALAM
SELUAS LANGIT BIRU DAN SHOPAHOLIC TIES THE KNOT
To live hapily, “it’s every girl’s dream”
Masalah perempuan di Indonesia sesungguhnya begitu banyak membutuhkan perhatian. Sebut saja mulai dari masalah TKW, perdagangan perempuan dan anak, dan lain sebagainya. Akan tetapi pemberitaan mengenai hal tersebut dirasa kaku dan menyebabkan orang tidak terlalu peka terhadap permasalahan yang demikian. Untuk menceritakan hal-hal seperti itu rasanya tidak harus melulu melalui media pemberitaan. Kita dapat mengemasnya dalam bentuk lain, seperti dalam bentuk karya fiksi cerpen atau mungkin novel.
Sesungguhnya hingga saat ini banyak penulis perempuan yang telah mencoba menuliskan cerita mengenai permasalahan di sekitar perempuan juga. Akan tetapi, novel-novel yang ada khususnya yang menceritakan tentang perempuan, hanya bercerita seolah-olah perempuan tidak menghadapi permasalahan besar yang menyangkut dengan masalah-masalah yang pelik. Novel bergenre Chicklit merupakan salah satunya. Novel-novel chicklit merupakan novel yang memang menempatkan perempuan sebagai tokoh utama dengan beragam permasalahan yang pada dasarnya memang dihadapi oleh para perempuan itu sendiri. Rata-rata hanya bercerita tentang perempuan di tengah hal-hal kecil dan sepele.
Bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang terlahir di bawah naungan nama sebuah keluarga besar pemegang banyak perusahaan besar di negeri ini? Memiliki penampilan fisik sempurna, kecerdasan yang mengagumkan, serta memiliki saudara sepupu yang sedemikian banyaknya dengan beragam karakteristiknya. Itulah gambaran kecil mengenai salah satu tokoh utama dalam novel Seluas langit Biru karya penulis muda Sitta Karina. Adalah Bianca seorang perempuan yang cukup boyish, bercita-cita menjadi seorang jurnalis tiba-tiba dijodohkan oleh neneknya dengan Sultan Syahrizki seorang pewaris dan pemilik perusahaan Mata Cakra. Adapun tujuan perjodohan ini adalah untuk memperkuat ikatan antara dua perusahaan besar. Bianca yang modern pun takhabis pikir akan keputusan neneknya yang memilihnya menjadi “tumbal” untuk membantu menyelamatkan perusahaan milik kleuarga besar mereka. Selain dihadapkan dengan masalah perjodohan seperti ini, Bianca pun bertemu dengan Aozora lelaki slengean yang taklain adalah adiknya Sultan. Beragam masalah mulai muncul dan menghadapi Bianca, Sultan, Zora, dan beberapa orang di sekitar mereka. Zora yang selama ini selalu merasa menjadi bayang-bayang Sultan pun mulai menolak untuk mundur dari kakaknya ketika ia menyadari bahwa ia mencintai Bianca, dan Bianca pun menyadari hal itu, ia yang selama ini kuat ternyata tetap membutuhkan body guard, partner yang mengerti dirinya lebih dari siapapun.
Sedangkan dalam Shopaholic Ties The Knot terdapat Becky sang tokoh utama. Becky adalah seorang perempuan lajang, gila belanja, memiliki karir yang baik. Memiliki seorang Kekasih Luke yang merupakan seorang pengacara. Pada suatu hari Luke, memintanya untuk menikah dengannya, sebuah kebahagiaan baru bagi Becky namun juga mendatangkan beragam kerumitan menjelang pernikahannya tersebut karena orangtua dari kedua belah pihak pun mulai turut ambil bagian dalam rencana pernikahan mereka.
Bianca dan Becky, keduanya memiliki karakteristik yang jauh berbeda satu sama lain.
Kisah yang mereka jalani dan hadapi dalam novel ini pun tidak dapat dikatakan sama. Namun yang menjadi hal penting untuk digaris bawahi adalah masalah culture yang ada di dalam masing-masing novel ini. Bianca seorang warga negara Indonesia yang lahir ditengah lingkungan budaya keluarga yang tidak sepenuhnya timur dan terhitung begitu hedon karena limpangan harta dan jenis pergaulan kelas atas. Namun nyatanya masih menggunakan sistem perjodohan untuk menyatukan dua perusahaan besar. Bianca pun yang tak kuasa menolak akhirnya pasrah menerima. Ada sebuah alasan yang membuat Bi merasa terikat dan tidak bisa melepas semua ini begitu saja, yaitu keluarga. Mau bagaimana pun nama baik keluarga dan perusahaan keluarga Hanafiah lah yang akan menjadi taruhannya.
Kehidupan yang sudah terakulturasi dengan budaya barat tidak selamanya membuat orang bisa melepas tanggung jawabnya begitu saja dari keluarga. Lain hal dengan Becky, menjelang pernikahannya orangtua kedua belah pihak masing-masing mengajukan konsep pernikahan bagi keduanya dan sulit untuk diputuskan mana yang akan di pilih.
Dari bagian ini pun saya menangkap bahwa ternyata di luar negeri pun sebebas-bebasnya orang melakukan segala hal, sejauh apapun ia telah lepas dari keluarganya akan tetapi masih ada yang membuat mereka masih merasa terikat dengan keluarganya. Becky tinggal jauh dari orangtuanya, memiliki kekasih dan telah tinggal bersama dengan kekasihnya tersebut. Namun ketika akan menikah pihak keluarga merasa perlu untuk ikut menentukan bagaimana pernikahan mereka nanti. Becky dan Bianca, keduanya masih memiliki kesadaran bahwa keluarga merupakan bagian penting dari hidup mereka. Walaupun mereka memiliki harapan yang lain dan kadang harapan itu harus terus diperjuangkan atau malah dikorbankan.
Kisah para perempuan dalam chicklit ini terutama dalam novel karya Sitta Karina rasanya terlalu berlebihan dan dapat dibilang menjual mimpi para perempuan. Sulit untuk menemui seluruh kejadian atau mungkin beberapa kejadian yang ada di dalam novel dalam realitas kehidupan. Padahal pada dasarnya karya fiksi itu harus dapat mengandung unsur kenyataan. Dalam Sopaholic Ties the Knot rasanya cukup menggambarkan bagaimana realitas yang terjadi di luar sana. Kebiasaan tinggal bersama pacar di luar jalur pernikahan, dll karena kita mengetahui sendiri bagaimana budaya di negeri barat yang bertolak belakang dengan budaya timur kita. Tidak salah juga terhadap anggapan yang kurang positif terhadap chicklit yang menyatakan bahwa chicklit hanya membahas hal-hal yang dangkal di permukaan saja.
Aisha Shaidra/180110060005