Negriku kini sedang ramai-ramainya…warna-warni berseliberan dilangit biru yang kadang masih suka mendung, negeri ini sedang krisis, namun manisnya masih sempat memepersiapkan pesta besar untuk siapa dan apa? Saya taktahu….
Negriku ini banyak yang suka, ibaratnya biduan jelita yang dinanti banyak pria, tubuh sempurna dan wajah molek tanpa riasan berlebih, setiap lekuk adalah keindahan dan kekayaan…
Namanya juga laksana wanita, sedikit terlena…lupalah ia….
Kemarin negeriku baru saja berpesta, Saya dipanggil pulang, lantas saya pulang, ke rumahku
Di tanah kelahiranku, pesta negeri ini pun sampai…
Akhirnya saya pulang juga, mumpung libur, mumpung lagi Pemilu, tapi saya pulang bukan untuk itu…
Saya jadi ingat kemarin siang, 11.50, ibu saya bertanya, mau ke TPS gak?
Saya yang sedang asik mengetik sambil diselingi menonton film, hanya bilang entah, “gak tau bu, mau mungkin Cuma hadir, tapi…jam berapa sekarang?”
“sepuluh menit lagi jam dua belas!”
“emang kenapa?”
“TPS tutup jam segitu..”
“oh, ya udah gak usah berarti….”
Waaa…santai sekali jawaban yang saya berikan, dan saya lanjut menonton film….
Bukan kenapa2 juga c, bukan gak mau berpartisipasi juga, tapi ada hal lain yang membuat saya juga harus berpikir lebih dalam untuk ikut berperan dalam momen besar ini, memilih pemimpin…biar lebih bombastis “MEMILIH PEMIMPIN!”
Ini bukan permainan, saya setuju seperti apa yang Gita Gutawa bilang, memilih pemimpin pun seperti itu, bukan permainan…orang mungkin akan banyak memberi respon kurang baik terhadap sikap yang saya ambil, jujur saya GOLPUT, dan sebenarnya semenjak saya mendapatkan KTP 3 tahun silam, sejak itu pun saya sama sekali belum pernah menggunakan hak pilih yang saya miliki.
Hak pilih yang pernah saya gunakan hanya untyuk memilih ketua kelas, ketua angkatan, memilih pada dua kali pemilihan Presiden Mahasiswa di kampus…
Track record memilih yang masih sangat minim bukan?
Saya setuju dengan perkataan seorang wartawan yang saya kenal di Bandung, beliau bilang nasib bangsa ditentukan utamanya dari keridhoan Allah terhadap akidah dan akhlak seluruh elemen rakyatnya Memilih pemimpin hanya satu faktor…
Bayangkan saja kita harus memilih, dan pilihan kita sangat banyak, sedangkan pengalaman kita sebagai orang yang pernah duduk di bangku sekolah pun hanya dihadapkan untuk memilih satu dari maksimal lima pilihan yang tersedia
Pengalaman itu memang tidak bisa dijadikan alasan kita tidak mau memilih atau kami malas memilih karena pilihannya banyak, tapi…apa harus seperti ini caranya?
Memilih ratusan orang yang wajahnya terpampang dalam kertas ukuran A2, nenek saya saja sewaktu mencontreng kemarin menghabiskan waktu sekitar seperempat jam karena kebingungan dan kerepotan dengan ukuran kertas yang begitu lebar x panjang! Merepotkan!
Sudah semakin terbukti bahwa sistem yang begitu diagungkan dan dibanggakan ini begitu bobrok, sistem ini bobrok, karena dari awalnya pun memang sudah rusak…
Hampir pukul 12 teman saya mengirimkan pesan, intinya dia bilang dia baru saja menggambar bebas di TPS…see? Orang yang datang pun belum tentu memilih, sorenya ketika penghitungan sudah dimulai, banyak kertas suara di TPS dekat rumah saya ditulis dengan kata-kata yang mengungkapkan kepusingan masyarakat, contohnya ada beberapa kertas bertuliskan “LIEUR” dalam bahasa indonesia berarti pusing…o..la..la….
Cara memilih yang baru memberikan peluang cukup besar juga bagi masyarakat untuk berkreatifitas dengan pulpen dan kertas rupanya…untungnya saya tidak datang ke sana, karena kalau saya datang ke TPS palagi kalau diberi kertas dan pulpen tangan ini langsung gatal untuk bercoratcoret…
Saya tergabung dalam Garda Pemilu di kampus saya, mengikuti beberapa program pencerdasan pada mahasiswa dan masyarakat untuk peka dan peduli terhadap pemilu kali ini, namun nyatanya saya sendiri tidak tercerdaskan, bukan berarti saya jadi orang bermuka dua atau bagaimana, dari awal saya menyadari hal itu, saya masih belum punya pilihan, saya masih pusing dengan banyak pilihan, saya sudah bosan dengan partai2 itu walau saya baru 20 tahun…saya mengikuti kegiatan tadi puun untuk mengetahui bagaimana cara berpikir dan pandangan dari orang2 yang tergabung di dalam sini, naumn ternyata saya tidak terlalu mendapatkan banyak pemikiran baru dan berbeda, rata-rata sama walau yang beda masih tetap ada…kecenderungan terhadap partai ada yang sudah punya, walau tidak ditunjukan (baguslah, karena area kampus adalah area netral untuk hal seperti ini) tapi dari sikap dan perkataan kadang tertangkap kemana arahnya…tapi kembali pada tujuan awal saya bergabung, menambah jaringan, pengalaman dan teman.
Saya juga sadar saya telah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan kepemimpinan, kelegislatifan, kepemiluan…tapi dari semua materi dan pengalaman yang saya dapat itu semua mengerucut pada kecenderungan saya untuk GOLPUT smenetara ini, samapai memang pada akhirnya akan muncul pemimpin yang sesuai dengan kesesuaian hati saya (kadang menggunakan hati untuk menentukan pilihan cukup efektif)
Saya GOLPUT bukan berarti saya apatis, 2004 yang menang telak GOLPUT, bukankah itu bukti bahwa GOLPUT adalah sesuatu yang harus jadi perhatian besar, apatiskah ia, takpeduli, tak percaya, atas dasar idealis, administratif…dll…mungkin adalah beragam latarbelakang golput itu sendiri, tapi ayolah pelajari bagian ini, kenapa bisa terjadi!