Duadua di Dua Belas
Aisha Shaidra
“untuk apa Kau mengajakku tuk turut kegiatan kalian besok siang?”
“kok? Hey, kamu lupa? Besok perayaan hari Ibu! Kita akan melakukan aksi damai, longmarch, seraya membagikan flyer dan bunga pada orang yang kita temui di jalan, setelah itu kita akan mengunjungi panti jompo!”
“iya, Aku tahu…tapi apa untungnya bagiku? Merayakan hari ibu? Heh, sehebat apa itu yang namanya Ibu? Sampai ia diberi sebuah hari spesial setiap tahun, sesuci hari perayaan hari besar keagamaan? Kalaupun ada hari untuk yang namanya orangtua, Aku lebih memilih hari nenek!”
“nenek juga ibu, ibu dari orang tua kita!”
“beda, karena nenekku bukan orangtua dari yang namanya orangtua yang seharusnya Aku miliki!”
“ya sudah, dia tak mau ikut, ya sudah, kenapa kamu harus berepot-repot memaksa dia?”
“Aku bukannya memaksa, tapi, Aku tak habis fikir, bisa-bisanya ia berkata seperti itu…”
“kenapa tidak? Itu mungkin saja, dari apa yang dia lontarkan tadi jelas kok masalahnya, Aku bisa menangkap maksud dan alasannya!”
“Aku juga faham, Ka! Tapi baru sekali tadi Aku lihat sisi Wina yang lain, dia begitu emosi, dia terlihat seperti seorang pendendam, dari ekspresi wajahnya, lontaran kata-katanya…”
“kamu sudah lupa waktu perkenalan saat kita Ospek Jurusan?”
“memang ada apa?”
“saat Wina maju memperkenalkan diri…”
“perkenalkan, nama saya Winidya Narita, tapi nenek saya suka memanggil saya Wina, pun teman-teman saya waktu SMP, SMA…saya berasal dari Bogor, tapi waktu saya masih kecil sempat tinggal di Solo, ya…sampai kelas empat SD saya tinggal di sana. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan, saya rasa itu cukup, terima kasih, ada yang mau bertanya?”
“tempat tanggal lahir?”
“oh…itu, entahlah secara pasti saya sendiri tidak tahu, tapi yang tertera di akte, dan surat-surat yang memerlukan data seperti itu menyebutkan kalau saya lahir pada tanggal satu November, delapan belas tahun silam.”
“Tempatnya? Solo?”
“…entah, ingatan saya sewaktu lahir sudah hilang, sehingga saya sama sekali tidak dapat mengingat di mana saya dilahirkan, pun orang yang melahirkan saya, entahlah, saya rasa cukup, terima kasih.”
Ibu? Apa artinya seorang Ibu? Ketika kita katanya harus selalu mengagungkan namanya setelah Tuhan, ketikan kita harus meyakini bahwa surga tuhan ada di telapak kakinya, ketika kita diajari oleh para pendidik di negara ini bahwa ia adalah sosok yang harus selalu dihormati, ia adalah sosok yang penuh kasih, penuh sayang…
Begitu agungnya sosok seorang Ibu sehingga dalam hadist pun namanya disebut tiga kali berturut-turut barulah nama ayah, sekali kata “ah” kita lontar padanya adalah sebuah dosa besar. Satu keuntungan bagiku, mungkin secara sadar sampai saat ini Aku tak menanggung dosa besar itu, karena Aku tak pernah melontarkan kata “ah” pada seorang ibu, yang sampai sekarang tidak pernah kutahu seperti apa rupa dan dimana rimbanya.
Aku masih selalu memepertanyakan alasan Aku dipertahankan dalam kandungan seorang perempuan sampai Aku dilahirkan, namun akhirnya Aku ditelantarakan. Untungnya seorang Nenek yang sejatinya tak punya hubungan darah setetes pun denganku sudi membesarkanku. Ia seorang wanita tua yang semakin ringkih dari tahun ke tahun, namun senyum diwajahnya tak pernah ikut menua, itulah obat kebahagiaan abadi yang kupunya, Aku tak punya kuasa tuk menghardiknya dengan beragam kata kasar yang biasa kulontar pada orang-orang yang kurang ajar padaku, kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut nenek sebagai bahan ajar padaku, Aku diajarinya tentang kelembutan, keharusan seorang anak perempuan, setidaknya sampai batas usia anak sekolah dasar Aku tumbuh menjadi anak yang penurut, mewarisi kelembutan nenek. Kepindahan kami merupakan titik tolak mulai terjadinya perubahan pada diriku, semakin banyak tanya yang orang lontarkan mengenai keberadaan orangtuaku yang selalu takbisa kujawab, dan tatapan tanya itu hanya bisa kubalas dengan tangis dan berlari ke pelukan nenek, semakin hari Aku semakin mempertanyakan semuanya, dimana orangtua itu? Kenapa orang merasa perlu ada orangtua? Kenapa takpunya orang tua rasanya begitu aib? Padahal apa yang salah? Aku sempat beberapa kali bertanya pada nenek tentang siapa ibuku siapa ayahku, nenek pun hanya bisa menggeleng, sampai akhirnya ia bercerita bahwa Aku adalah bayi yang ditemukannya di sebuah tong sampah!
Aku dianggap sampah? Lantas kenapa jika mereka, setidaknya Ia Ibuku itu, kalau menyadari Aku adalah sampah mengapa ia harus menunggu sembilan bulan lamanya? Kenapa tak ia gugurkan saja Aku? Toh akhirnya Aku ia buang? Kalau pun ia tak mau merawat Aku setelah melahirkanku, kenapa tak ia berikan Aku pada sebuah panti? Kenapa harus pada sebuah tong sampah ia titipkan Aku? Siapa yang akan menemukan seorang bayi pada sebuah tong sampah? Kucing? Paling-paling tukang sampah, pemulung! Kalau Aku ditemukan mereka, dan kalaupun mereka mau membawaku, adanya aku hanya akan menambah beban hidup mereka!
Ibu, begitu pendeknyakah akalmu?
Kalau setelah kau simpan aku di tong sampah itu, lantas tak lama kemudian ternyata kau mati tertabrak, atau apa…aku berdoa pada Tuhan semoga ia memaafkan dosamu itu!
Kalau ternyata kau masih hidup sampai sekarang, dan keadaanmu tidak lebih sama dengan keadaanku, aku pertanyakan lagi, apa bedanya kalau saat itu aku tetap kau bawa, toh keadaan kita tak jauh berbeda?
Kalau kau masih hidup dan kau kaya raya, selamat, berarti kau memang telah membuang sial!
Tapi kalau kau masih hidup dan punya keluarga, apalagi punya anak, ingin kupertanyakan seberapa banyak ingatanmu terbang untuk mengingatku yang dulu pernah kau buang? Atau seberapa kuat kau bertahan tuk melupakan aku yang cukup lama mendekam dalam rahimmu itu? Apakah aku ada aib yang begitu besar hingga hanya pada sebuah tong sampah kau titipkan aku? Apa yang kau katakan pada tong itu saat kau letakkan aku diantara aneka sampah, dan aku masih berbalut darah? Walau aku tak mengingat masa itu, aku bisa membanyangkan dalam beberapa waktu tubuhku ini dijilati lalat, dikerumuni beragam bakteri, dan segala macam hewan yang tak terlihat,, kubanykangan aku yang lemah menggeliat, aku yang lemah tak berdaya ketika tubuh ini dijilati lalat karena amisnya darahmu pada tubuh kecilku!
Ibu, kalau memang sekarang kau masih ada dan punya anak lagi dari rahimmu itu, dan kau mau merawat dan membesarkannya, berarti kau tak kapok melahirkan namun kau kapok untuk membuang anak. Kalau itu terjadi, ada benarnya mungkin latar belakang sperma yang membuahi telurmu lah yang mendorong nalurimu tuk membuangku, lantas sekarang kau mau merawatnya—anak yang kau lahirkan lagi itu. Siapa ayahku Ibu? Hanya kau dan tuhan yang tahu! Mungkin disinilah salah satu peran penting seorang ibu, ia yang dapat memberikan keterangan dan kepastian siapa ayah dari anak-anak yang dikandungnya. Dari kejelasan itu mungkin selanjutnya membawa pada keputusan akankah janin itu ia lahirkan, lalu akankah bayi itu ia rawat dan besarkan? Kemudian ia didik dan berikan kasih sayang. Nampaknya jelas kenapa aku termasuk dari bayi yang dibuang.
“Ka, barisan aksi damai kita didahului aksi lain!”
“apa? Aksi dari komunitas lain? LSM? Atau apa?”
“aksi mereka bertolak belakang dnegan aksi kita! Mereka mempertanyakan sejauh mana peran seorang Ibu? Dan tidak hanya itu, mereka menuntut untuk tidak diberlakukan lagi adanya peringatan hari Ibu.”
“ada-ada saja, ada orang yang kamu kenal dari barisan itu?”
“ada”
“siapa?’
“Wina.”
Jatinangor , di penghujung 2008
(Ibu, kalaupun ternyata ada orang-orang seperti ini, Aku katakan batapa beruntungnya memiliki seorang Ibu)