AMELID
Pada satu hening sebuah nada sangat berarti
Membantu mengawal kisah yang bermula dari
Sebuah kesepian
Ada sebuah keraguan, dan selalu ada keraguan saat hal-hal seperti itu kembali datang dan mengusik, seandainya ada kepastian yang mampu membuatku yakin untuk mengalihkan semua, atau mungkin sebaliknya…bisa saja aku pergi tanpa kembali berpaling, atau mungkin tetap berdiam tanpa menunggu, walau sebenarnya menunggu tanpa jelas
Membaca apa yang ada dalam benak selama ini sudah cukup membuatku penat, menjernihkan segala yang keruh tlah cukup membuatku lelah, sejenak aku tlah capai oleh segala
Namun tetap saja yang satu iu belum pula mengabur barang sedikit
Semuanya masih saja jelas, dan aku semakin sulit tuk terpejam, bahkan enggan
Karena dalam gelap pandangan bayangan itu semakin jelas
Semakin meyakinkan nyatanya eksistensi sebuah keberadaan dalam sebuah alam yang dinamakan khayalan
Jenuhku tak hilang
Sebatang rokok kunyalakan dalam sebuah ruang sempit
Asap mulai memenuhi ruang pada isapan yang ke sekian kalinya
Pertama kalinya aku racuni diri
Tak menunggu bahkan bukan pula menantang namanya mati
Aku masih punya sekian besar ketakutan menghadapinya
Asap sudah membumbung dan tak menembus langit
Asap kembali turun dan meresap kedalam semua bagian yang ada
Yang berpori…yang dapat dimasuki
Abu mulai menumpuk, tak menggunung hanya menjadi gundukan kecil saja
Kamarku, ruang kecil ini mulai berkabut
—
Lelaki itu kini mengambil sebatang rokok lagi, setelah ia menenggak habis kopinya yang sudah dingin, sialnya korek tak mau menyala kekesalan sudah bertumpu pada ibu jarinya yang mulai kewalahan karena pemantik tak juga mengeluarkan api. Dilemparnya korek gas yang ia pungut di jalan sehabis menonton pertandingan sepakbola antar RW dilapangan dekat rumahnya.
“Apakah kamu berani tuk mencintai aku?”
“tentu saja aku berani, tapi dengan caraku sendiri.”
“bagaimana caramu menunjukkannya padaku?”
Lelaki itu hanya membalas tanya dengan senyuman tipis, pandangan matanya cukup jelas menjawab semua, tak lama ia pun berpaling.
“maaf, aku melihatmu seperti itu…maaf”.
***
“padahal aku maunya dia ngomong sesuatu, bukan malah diam!”
“terus setelah itu kalian bicara apa lagi?”,m kali ini perempuan dihadapannya diam, menunduk, lantasmelempar pandangan ke segala arah memainkan jemarinya.
“aku ngerti, aku gak bisa banyak bantu, malah aku di luar kuasa untuk ikut campur, itu urusan kalian dan kalian sudah dewasa, kamu dan dia..
aku memang mencintainya, dan aku mencintainya dengan caraku. Takbisa kumencintainya dengan cara yang sama seperti lelaki lain mencintainya perempuannya, aku mencintainya dengan caraku. Takmungkin aku benturkan semuanya pada idealisme yang masih kucoba bangun ini, idealism yang berdasarkan hasil pencarianku selama ini, sialnya dia pun hadir pada waktu yang berdekatan. Ada kalanya aku harus memilih, namun jika dituntut antara mencintainya atau tidak sama sekali, aku jelas memilih yang pertama, namun semuanya kembali lagi, pada caraku, caraku menunjukkan bahwa apa yang kupunya dan bisa kuberi padanya adalah semata dari segala apa yang ada disini, ujarnya seraya menunjuk dadanya.
Ya, mungkin terdengar egois atau bagaimana, tapi ya…beginilah aku, masih dihadapkan pada nyata aku takbisa menolak yang ada, namun aku memiliki batasan saat berhadapan dengannya. Toh dia tahu dan telah sadar, masalahnya sekarang ia mempertanyakan semuanya, tentang perasaanku dan kesungguhanku…
Aku merasakan semua yang dia beri itu tulus, tapi saat semua tak terucap dan hanya bisa kuterka, aku jadi belum bisa menyakinkan diri ini sunggu-sungguh…aku bisa merasakan bagaimana ia mencoba menunjukkan sesuatu lewat sesuatu, lewat tutur kata, sikap dan tatapan yang selalu ia jaga, aku faham…mungkin ia memiliki suatu alasan untuk bertindak seperti itu, tapi aku perempuan biasa, takbisa aku lama-lama berada dalam keadaan yang seperti ini, aku hanya ingin diyakinkan dengan perkataan langsung dri mulutnya yang sering tersenyum itu…
Aku hanya bisa tersenyum setiap mendengar ia bicara, melihat tingkah polosnya, raut wajahnya ketika marah, ekspresi-ekspresi konyolnya…entahlah sepertinya dekat dia aku bisa tersenyum lebar lebih lama..dan merasa sebuah kekonyolan ternyata dapat menghadirkan kebahagiaan juga…
Ini konyol kan? Interaksi antara kita lewat e-mail, atau surat yang ia ketik berlembar-lembar lantas ia simpan di dalam Flashdisk lalu ia berikan padaku dengan alasan di depan banyak orang “copy-kan aku lagu-lagu baru! Mentang-mentang aku penyiar radio, padahal aku tahu maksudnya, lagu apa yang ia mau!
Lagu lama! Kalau ngobrol langsung…kita duduk berdampingan dan mata menatap ke depan, dia disampingku namun setiap aku bicara matanya hanya lurus ke depan, terkadang ia menoleh tapi itu hanya sebentar, tak seimbang dengan durasi waktu kita berbicara! Tapi sekali ia menoleh itulah saat yang selalu kutunggu..ia tersenyum….
lantas perempuan ini pun tersenyum mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu itu…
Aku akan selalu mengingatnya, semuanya…dia itu simpulannya. Dia yang bisa mengembalikan senyumku dan hanya pada dia aku bisa tersenyum seperti itu, aku tak tahu malah awalnya aku tak menyadarinya…
Love me or Leave me! Aku jadi ingin mengajukan hal itu padanya! Tapi…aku takbisa menerima konsekuensi kalau ia memilih pilihan kedua….Leave me…aku terlanjur telah terbiasa menjalani hal-hal konyol ini bersamanya, hal konyol yang selalu kunantikan….
Lucky I’m in love with my best friend….he..heeh….sejenak ia terkekeh mendengar lantunan lagu yang ia nyanyikan…
Lucky…ya aku merasa beruntung..tapi, sangat disayangkan hanya dengan cara seperti ini, sesungguhnya aku bisa mencintainya dengan cara yang lebih, aku berani menunggu waktu namun aku taktahu apa ia mau melakukan hal serupa?
Menunggu waktu yang tepat tiba…
Indah pada waktunya, apa itu yang ia tunggu…kalu ia aku mau!
Inspirasi dari kisah beberapa orang teman dan kenalan ,