Monthly Archives: March 2009

AMELID

Pada satu hening sebuah nada sangat berarti

Membantu mengawal kisah yang bermula dari

Sebuah kesepian

Ada sebuah keraguan, dan selalu ada keraguan saat hal-hal seperti itu kembali datang dan mengusik, seandainya ada kepastian yang mampu membuatku yakin untuk mengalihkan semua, atau mungkin sebaliknya…bisa saja aku pergi tanpa kembali berpaling, atau mungkin tetap berdiam tanpa menunggu, walau sebenarnya menunggu tanpa jelas

Membaca apa yang ada dalam benak selama ini sudah cukup membuatku penat, menjernihkan segala yang keruh tlah cukup membuatku lelah, sejenak aku tlah capai oleh segala

Namun tetap saja yang satu iu belum pula mengabur barang sedikit

Semuanya masih saja jelas, dan aku semakin sulit tuk terpejam, bahkan enggan

Karena dalam gelap pandangan bayangan itu semakin jelas

Semakin meyakinkan nyatanya eksistensi sebuah keberadaan dalam sebuah alam yang dinamakan khayalan

Jenuhku tak hilang

Sebatang rokok kunyalakan dalam sebuah ruang sempit

Asap mulai memenuhi ruang pada isapan yang ke sekian kalinya

Pertama kalinya aku racuni diri

Tak menunggu bahkan bukan pula menantang namanya mati

Aku masih punya sekian besar ketakutan menghadapinya

Asap sudah membumbung dan tak menembus langit

Asap kembali turun dan meresap kedalam semua bagian yang ada

Yang berpori…yang dapat dimasuki

Abu mulai menumpuk, tak menggunung hanya menjadi gundukan kecil saja

Kamarku, ruang kecil ini mulai berkabut

Lelaki itu kini mengambil sebatang rokok lagi, setelah ia menenggak habis kopinya yang sudah dingin, sialnya korek tak mau menyala kekesalan sudah bertumpu pada ibu jarinya yang mulai kewalahan karena pemantik tak juga mengeluarkan api. Dilemparnya korek gas yang ia pungut di jalan sehabis menonton pertandingan sepakbola antar RW dilapangan dekat rumahnya.

“Apakah kamu berani tuk mencintai aku?”

“tentu saja aku berani, tapi dengan caraku sendiri.”

“bagaimana caramu menunjukkannya padaku?”

Lelaki itu hanya membalas tanya dengan senyuman tipis, pandangan matanya cukup jelas menjawab semua, tak lama ia pun berpaling.

“maaf, aku melihatmu seperti itu…maaf”.

***

“padahal aku maunya dia ngomong sesuatu, bukan malah diam!”

“terus setelah itu kalian bicara apa lagi?”,m kali ini perempuan dihadapannya diam, menunduk, lantasmelempar pandangan ke segala arah memainkan jemarinya.

“aku ngerti, aku gak bisa banyak bantu, malah aku di luar kuasa untuk ikut campur, itu urusan kalian dan kalian sudah dewasa, kamu dan dia..

aku memang mencintainya, dan aku mencintainya dengan caraku. Takbisa kumencintainya dengan cara yang sama seperti lelaki lain mencintainya perempuannya, aku mencintainya dengan caraku. Takmungkin aku benturkan semuanya pada idealisme yang masih kucoba bangun ini, idealism yang berdasarkan hasil pencarianku selama ini, sialnya dia pun hadir pada waktu yang berdekatan. Ada kalanya aku harus memilih, namun jika dituntut antara mencintainya atau tidak sama sekali, aku jelas memilih yang pertama, namun semuanya kembali lagi, pada caraku, caraku menunjukkan bahwa apa yang kupunya dan bisa kuberi padanya adalah semata dari segala apa yang ada disini, ujarnya seraya menunjuk dadanya.

Ya, mungkin terdengar egois atau bagaimana, tapi ya…beginilah aku, masih dihadapkan pada nyata aku takbisa menolak yang ada, namun aku memiliki batasan saat berhadapan dengannya. Toh dia tahu dan telah sadar, masalahnya sekarang ia mempertanyakan semuanya, tentang perasaanku dan kesungguhanku…

Aku merasakan semua yang dia beri itu tulus, tapi saat semua tak terucap dan hanya bisa kuterka, aku jadi belum bisa menyakinkan diri ini sunggu-sungguh…aku bisa merasakan bagaimana ia mencoba menunjukkan sesuatu lewat sesuatu, lewat tutur kata, sikap dan tatapan yang selalu ia jaga, aku faham…mungkin ia memiliki suatu alasan untuk bertindak seperti itu, tapi aku perempuan biasa, takbisa aku lama-lama berada dalam keadaan yang seperti ini, aku hanya ingin diyakinkan dengan perkataan langsung dri mulutnya yang sering tersenyum itu…

Aku hanya bisa tersenyum setiap mendengar ia bicara, melihat tingkah polosnya, raut wajahnya ketika marah, ekspresi-ekspresi konyolnya…entahlah sepertinya dekat dia aku bisa tersenyum lebar lebih lama..dan merasa sebuah kekonyolan ternyata dapat menghadirkan kebahagiaan juga…

Ini konyol kan? Interaksi antara kita lewat e-mail, atau surat yang ia ketik berlembar-lembar lantas ia simpan di dalam Flashdisk lalu ia berikan padaku dengan alasan di depan banyak orang “copy-kan aku lagu-lagu baru! Mentang-mentang aku penyiar radio, padahal aku tahu maksudnya, lagu apa yang ia mau!

Lagu lama! Kalau ngobrol langsung…kita duduk berdampingan dan mata menatap ke depan, dia disampingku namun setiap aku bicara matanya hanya lurus ke depan, terkadang ia menoleh tapi itu hanya sebentar, tak seimbang dengan durasi waktu kita berbicara! Tapi sekali ia menoleh itulah saat yang selalu kutunggu..ia tersenyum….

lantas perempuan ini pun tersenyum mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu itu…

Aku akan selalu mengingatnya, semuanya…dia itu simpulannya. Dia yang bisa mengembalikan senyumku dan hanya pada dia aku bisa tersenyum seperti itu, aku tak tahu malah awalnya aku tak menyadarinya…

Love me or Leave me! Aku jadi ingin mengajukan hal itu padanya! Tapi…aku takbisa menerima konsekuensi kalau ia memilih pilihan kedua….Leave me…aku terlanjur telah terbiasa menjalani hal-hal konyol ini bersamanya, hal konyol yang selalu kunantikan….

Lucky I’m in love with my best friend….he..heeh….sejenak ia terkekeh mendengar lantunan lagu yang ia nyanyikan…

Lucky…ya aku merasa beruntung..tapi, sangat disayangkan hanya dengan cara seperti ini, sesungguhnya aku bisa mencintainya dengan cara yang lebih, aku berani menunggu waktu namun aku taktahu apa ia mau melakukan hal serupa?

Menunggu waktu yang tepat tiba…

Indah pada waktunya, apa itu yang ia tunggu…kalu ia aku mau!

Inspirasi dari kisah beberapa orang teman dan kenalan ,

Duadua di Dua Belas

Aisha Shaidra

“untuk apa Kau mengajakku tuk turut kegiatan kalian besok siang?”

“kok? Hey, kamu lupa? Besok perayaan hari Ibu! Kita akan melakukan aksi damai, longmarch, seraya membagikan flyer dan bunga pada orang yang kita temui di jalan, setelah itu kita akan mengunjungi panti jompo!”

“iya, Aku tahu…tapi apa untungnya bagiku? Merayakan hari ibu? Heh, sehebat apa itu yang namanya Ibu? Sampai ia diberi sebuah hari spesial setiap tahun, sesuci hari perayaan hari besar keagamaan? Kalaupun ada hari untuk yang namanya orangtua, Aku lebih memilih hari nenek!”

“nenek juga ibu, ibu dari orang tua kita!”

“beda, karena nenekku bukan orangtua dari yang namanya orangtua yang seharusnya Aku miliki!”

“ya sudah, dia tak mau ikut, ya sudah, kenapa kamu harus berepot-repot memaksa dia?”

“Aku bukannya memaksa, tapi, Aku tak habis fikir, bisa-bisanya ia berkata seperti itu…”

“kenapa tidak? Itu mungkin saja, dari apa yang dia lontarkan tadi jelas kok masalahnya, Aku bisa menangkap maksud dan alasannya!”

“Aku juga faham, Ka! Tapi baru sekali tadi Aku lihat sisi Wina yang lain, dia begitu emosi, dia terlihat seperti seorang pendendam, dari ekspresi wajahnya, lontaran kata-katanya…”

“kamu sudah lupa waktu perkenalan saat kita Ospek Jurusan?”

“memang ada apa?”

“saat Wina maju memperkenalkan diri…”

“perkenalkan, nama saya Winidya Narita, tapi nenek saya suka memanggil saya Wina, pun teman-teman saya waktu SMP, SMA…saya berasal dari Bogor, tapi waktu saya masih kecil sempat tinggal di Solo, ya…sampai kelas empat SD saya tinggal di sana. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan, saya rasa itu cukup, terima kasih, ada yang mau bertanya?”

“tempat tanggal lahir?”

“oh…itu, entahlah secara pasti saya sendiri tidak tahu, tapi yang tertera di akte, dan surat-surat yang memerlukan data seperti itu menyebutkan kalau saya lahir pada tanggal satu November, delapan belas tahun silam.”

“Tempatnya? Solo?”

“…entah, ingatan saya sewaktu lahir sudah hilang, sehingga saya sama sekali tidak dapat mengingat di mana saya dilahirkan, pun orang yang melahirkan saya, entahlah, saya rasa cukup, terima kasih.”

Ibu? Apa artinya seorang Ibu? Ketika kita katanya harus selalu mengagungkan namanya setelah Tuhan, ketikan kita harus meyakini bahwa surga tuhan ada di telapak kakinya, ketika kita diajari oleh para pendidik di negara ini bahwa ia adalah sosok yang harus selalu dihormati, ia adalah sosok yang penuh kasih, penuh sayang…

Begitu agungnya sosok seorang Ibu sehingga dalam hadist pun namanya disebut tiga kali berturut-turut barulah nama ayah, sekali kata “ah” kita lontar padanya adalah sebuah dosa besar. Satu keuntungan bagiku, mungkin secara sadar sampai saat ini Aku tak menanggung dosa besar itu, karena Aku tak pernah melontarkan kata “ah” pada seorang ibu, yang sampai sekarang tidak pernah kutahu seperti apa rupa dan dimana rimbanya.

Aku masih selalu memepertanyakan alasan Aku dipertahankan dalam kandungan seorang perempuan sampai Aku dilahirkan, namun akhirnya Aku ditelantarakan. Untungnya seorang Nenek yang sejatinya tak punya hubungan darah setetes pun denganku sudi membesarkanku. Ia seorang wanita tua yang semakin ringkih dari tahun ke tahun, namun senyum diwajahnya tak pernah ikut menua, itulah obat kebahagiaan abadi yang kupunya, Aku tak punya kuasa tuk menghardiknya dengan beragam kata kasar yang biasa kulontar pada orang-orang yang kurang ajar padaku, kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut nenek sebagai bahan ajar padaku, Aku diajarinya tentang kelembutan, keharusan seorang anak perempuan, setidaknya sampai batas usia anak sekolah dasar Aku tumbuh menjadi anak yang penurut, mewarisi kelembutan nenek. Kepindahan kami merupakan titik tolak mulai terjadinya perubahan pada diriku, semakin banyak tanya yang orang lontarkan mengenai keberadaan orangtuaku yang selalu takbisa kujawab, dan tatapan tanya itu hanya bisa kubalas dengan tangis dan berlari ke pelukan nenek, semakin hari Aku semakin mempertanyakan semuanya, dimana orangtua itu? Kenapa orang merasa perlu ada orangtua? Kenapa takpunya orang tua rasanya begitu aib? Padahal apa yang salah? Aku sempat beberapa kali bertanya pada nenek tentang siapa ibuku siapa ayahku, nenek pun hanya bisa menggeleng, sampai akhirnya ia bercerita bahwa Aku adalah bayi yang ditemukannya di sebuah tong sampah!

Aku dianggap sampah? Lantas kenapa jika mereka, setidaknya Ia Ibuku itu, kalau menyadari Aku adalah sampah mengapa ia harus menunggu sembilan bulan lamanya? Kenapa tak ia gugurkan saja Aku? Toh akhirnya Aku ia buang? Kalau pun ia tak mau merawat Aku setelah melahirkanku, kenapa tak ia berikan Aku pada sebuah panti? Kenapa harus pada sebuah tong sampah ia titipkan Aku? Siapa yang akan menemukan seorang bayi pada sebuah tong sampah? Kucing? Paling-paling tukang sampah, pemulung! Kalau Aku ditemukan mereka, dan kalaupun mereka mau membawaku, adanya aku hanya akan menambah beban hidup mereka!

Ibu, begitu pendeknyakah akalmu?

Kalau setelah kau simpan aku di tong sampah itu, lantas tak lama kemudian ternyata kau mati tertabrak, atau apa…aku berdoa pada Tuhan semoga ia memaafkan dosamu itu!

Kalau ternyata kau masih hidup sampai sekarang, dan keadaanmu tidak lebih sama dengan keadaanku, aku pertanyakan lagi, apa bedanya kalau saat itu aku tetap kau bawa, toh keadaan kita tak jauh berbeda?

Kalau kau masih hidup dan kau kaya raya, selamat, berarti kau memang telah membuang sial!

Tapi kalau kau masih hidup dan punya keluarga, apalagi punya anak, ingin kupertanyakan seberapa banyak ingatanmu terbang untuk mengingatku yang dulu pernah kau buang? Atau seberapa kuat kau bertahan tuk melupakan aku yang cukup lama mendekam dalam rahimmu itu? Apakah aku ada aib yang begitu besar hingga hanya pada sebuah tong sampah kau titipkan aku? Apa yang kau katakan pada tong itu saat kau letakkan aku diantara aneka sampah, dan aku masih berbalut darah? Walau aku tak mengingat masa itu, aku bisa membanyangkan dalam beberapa waktu tubuhku ini dijilati lalat, dikerumuni beragam bakteri, dan segala macam hewan yang tak terlihat,, kubanykangan aku yang lemah menggeliat, aku yang lemah tak berdaya ketika tubuh ini dijilati lalat karena amisnya darahmu pada tubuh kecilku!

Ibu, kalau memang sekarang kau masih ada dan punya anak lagi dari rahimmu itu, dan kau mau merawat dan membesarkannya, berarti kau tak kapok melahirkan namun kau kapok untuk membuang anak. Kalau itu terjadi, ada benarnya mungkin latar belakang sperma yang membuahi telurmu lah yang mendorong nalurimu tuk membuangku, lantas sekarang kau mau merawatnya—anak yang kau lahirkan lagi itu. Siapa ayahku Ibu? Hanya kau dan tuhan yang tahu! Mungkin disinilah salah satu peran penting seorang ibu, ia yang dapat memberikan keterangan dan kepastian siapa ayah dari anak-anak yang dikandungnya. Dari kejelasan itu mungkin selanjutnya membawa pada keputusan akankah janin itu ia lahirkan, lalu akankah bayi itu ia rawat dan besarkan? Kemudian ia didik dan berikan kasih sayang. Nampaknya jelas kenapa aku termasuk dari bayi yang dibuang.

“Ka, barisan aksi damai kita didahului aksi lain!”

“apa? Aksi dari komunitas lain? LSM? Atau apa?”

“aksi mereka bertolak belakang dnegan aksi kita! Mereka mempertanyakan sejauh mana peran seorang Ibu? Dan tidak hanya itu, mereka menuntut untuk tidak diberlakukan lagi adanya peringatan hari Ibu.”

“ada-ada saja, ada orang yang kamu kenal dari barisan itu?”

“ada”

“siapa?’

“Wina.”

Jatinangor , di penghujung 2008

(Ibu, kalaupun ternyata ada orang-orang seperti ini, Aku katakan batapa beruntungnya memiliki seorang Ibu)