
di GEDE

di GEDE
Ada dua aspek penting dari awal sejarah film untuk melihat bagaimana status dan peranan film ditumbuhkan.
- Film dilahirkan sebagai tontonan umum (awal 1900-an), karena semata-mata menjadi alternatif bisnis besar jasa hiburan di masa depan manusia kota.
- Film dicap ‘hiburan rendahan’ orang kota. namun sejarah membuktikan bahwa film mampu melakukan kelahiran kembali untuk kemudian mampu menembus seluruh lapisan masyarakat, juga lapisan menengah dan atas, termasuk lapisan intelektual dan budayawan. bahkan kemudian seiring dengan kuatnya dominasi sistem Industri Hollywood, lahir film-film perlawanan yang ingin lepas dari wajah seragam Hollywood yang kemudian melahirkan film-film Auteur. Yakni film-film personal sutradara yang sering disebut sebagai film seni.
Dalam pertumbuhannya, baik film hiburan yang mengacu pada Hollywood ataupun film-film seni kadang tumbuh berdampingan, saling memberi namun juga bersitegang. Masing-masing memiliki karakter diversifikasi pasar, festival dan pola pengembangannya sendiri.
Sementara pada proses pertumbuhan film Indonesia tidak mengalami proses kelahiran kembali, yang awalnya dicap rendahan menjadi sesuai dengan nilai-nilai seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah ke atas, juga intelektual dan budayawan.
FIlm merupakan media komunal dan cangkokan dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian. Ia cangkokan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara. Juga komunal berbagai kesenian baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik. Maka kemampuan bertumbuh film sangatlah bergantung pada tradisi bagaimana unsur-unsur cangkokan teknologi dan unsur seni dari film -yang dalam masyarakat masing-masing berkembang pesat- dicangkok dan dihimpun. Dengan demikian tidak tertinggal dan mampu bersaing dengan teknilogi media, dan seni lainnya.
Sejarah film Indonesia menunjukkan unsur-unsur cangkokan dan komunal dari film tak mengalami pertumbuhan berarti. Akibatnya ketika masyarakat dimanjakan unsur visual dan audio, dari perkembangan teknologi media dan seni lainnya seperti televisi, seni rupa, dan lain-lain, masyarakat Indonesia tak mendapatkannya dalam film.(1)
Perfilman Indonesia pernah mengalami krisis hebat ketika Usmar Ismail menutup studionya tahun 1957. Pada tahun 1992 terjadi lagi krisis besar. Tahun 1991 jumlah produksi hanya 25 judul film (padahal rata-rata produksi film nasional sekitar 70 – 100 film per tahun). Yang menarik, krisis kedua ini tumbuh seperti yang terjadi di Eropa tahun 1980, yakni tumbuh dalam tautan munculnya industri cetak raksasa, televisi, video, dan radio. Dan itu didukung oleh kelembagaan distribusi pengawasannya yang melahirkan mata rantai penciptaan dan pasar yang beragam sekaligus saling berhubungan, namun juga masing-masing tumbuh lebih khusus. Celakanya di Indonesia dasar struktur dari keadaan tersebut belum siap. Seperti belum efektifnya jaminan hukum dan pengawasan terhadap pasar video, untuk menjadikannya pasar kedua perfilman nasional setelah bioskop.(2)
Faktor yang mempengaruhi rendahnya mutu film nasional salah satunya adalah rendahnya kwalitas teknis karyawan film. Ini disebabkan kondisi perfilman Indonesia tidak memberikan peluang bagi mereka yang berpotensi untuk berkembang.Penurunan jumlah film maupun penonton di Indonesia sudah memprihatinkan. Jumlah penonton dalam skala nasional tahun 1977/78 – 1987/88 tercatat 937.700.000 penonton dan hingga tahun 1992 menurun sekitar 50 persen. Bahkan di Jakarta dari rata-rata 100.000 – 150.000 penonton, turun menjadi 77.665 penonton tahun 1991. Demikian juga dengan jumlah film, dari rata-rata 75 – 100 film pertahun, tahun 1991 / 92 menurun lebih daripada 50 % tahun 1993 surat izin produksi yang di keluarkan Deppen RI, sampai bulan Mei baru tercatat 8 buah film nasional untuk diproduksi.(3)
Berikut tabel jumlah produksi film nasional sejak tahun 1987 (4)
1990 1991 1992 1993 1994 115 57 31 27 32 Mengapa mereka menonton film Indonesia ? (5)
Daya tarik utama mereka menonton film Indonesia karena
- Mengetahui tema, cerita, jenis film seperti terlihat dalam poster dan iklan (60%).
- Tertarik pada bintang utamanya (26%)
- Resensi film di surat kabar dan majalah hanya 10 % dan inipun kebanyakan dari yang berusia 20 – 25 tahun.
Penggemar film di Indonesia(6)
Kelompok 1.
Cenderung memilih mutu film sebab menonton film bukan sekedar mencari hiburan tapi menikmati karya seni film dalam arti yang lebih luas.Kelompok 2.
Cenderung mengikuti arus. Pertimbangan mutu film tetap merupakan referensi bagi mereka.Kelompok 3.
Tidak terlalu memilih, sekedar mencari hiburan saja.Penonton Film Indonesia.(7)
Berdasarkan angket penonton tahun 1988 dan 1989 yang dilakukan di Bandung, penonton film Indonesia adalah sebagian besar berusia antara 15 – 35 tahun (90%) dengan tekanan usia pada 20 – 25 tahun (40%), lelaki (57%) dan wanita (43%) yang berpendidikan SMA dan perguruan tinggi sebanyak 42% sedangkan 50% mengaku abstain. Mereka ini mengaku menonton film Indonesia lebih dari sekali selama sebulan (59%) dan ada 12% yang menonton lebih dari 5 kali dalam sebulan.
Latar Budaya Penonton Film Indonesia.
Film Indonesia sekarang ini adalah kelanjutan dari tradisi tontonan rakyat sejak masa tradisional, masa penjajahan sampai masa kemerdekaan ini. Untuk meningkatkan apresiasi penonton film Indonesia adalah menyempurnakan permainan trick-trick serealistis dan sehalus mungkin, seni akting yang lebih sungguh-sungguh, pembenahan struktur cerita, pembenahan setting budaya yang lebih dapat dipertanggungjawabkan, penyuguhan gambar yang lebih estetis dsb.
Peningkatan mutu filmis dari genre-genre film nasional yang laris sekarang ini dapat meningkatkan daya apresiasi film bermutu di lingkungan penonton urban yang marginal ini, tetapi mungkin juga dapat ditonton oleh golongan penonton yang terpelajar dan intelektual.
Golongan Penonton Film Indonesia yang Lain.
Ketidakadilan produksi film nasional sekarang ini terletak pada pelayanannya yang hanya kepada penonton ‘berbudaya daerah’ semacam di atas. Dugaan sementara bahwa golongan terpelajar di Indonesia dipenuhi selera seni pertunjukannya oleh film-film impor yang kondisi atau referensi budayanya cukup baik diapresiasi oleh mereka. Namun kondisi semacam ini tidak dapat terus menerus dilakukan karena film-film impor tersebut jauh dari sejarah, mitos, kondisi dan masalah-masalah Indonesia sendiri.
Untuk membuat film bermutu yang laris di semua golongan penonton dengan latar belakang budaya mereka yang berbeda-beda adalah dengan memberi kesempatan kepada para sineas.
Studi Kasus
Pusat Perfilman Usmar Ismail
Dibangun diatas tanah seluas 1,8 Ha di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Luas bangunan seluruhnya meliputi 11.550 M2 yang terdiri dari :
1. Bangunan induk (perkantoran) seluas 1.620 M2 terdiri dari 3 lantai :
- Lantai I disewakan untuk kantor-kantor perusahaan perfilman.
- Lantai II untuk kantor-kantor organisasi perfilman.
- Lantai III untuk Kantor Pusat Perfilman dan Sinematek.
2.Ruang Preview, lobby, ruang proyektor, cafetaria dan ruang sidang sebanyak 3 buah keseluruhannya seluas 1.250 M2 . Ruang preview berkapasitas 200 orang dan dapat berfungsi sebagai ruang sidang dan pertemuan.
3.Gedung Bioskop seluas 3400 M2 dengan kapasitas 800 orang yang terdiri dari ruang mekanik, ruang menyimpan film, lobby dan gudang.
Kompleks Pusat Perfilman terdiri dari 3 buah gedung yaitu :
a.Gedung Bioskop yang terletak pada bagian depan komplek menghadap jalan Rasuna Said
b.Ruang Preview Room terletak dibagian belakang komplek
c.Gedung Pusat Perfilman yang terdiri dari kantor organisasi dan perusahaan perfilman, kantor Pusat Perfilman, dan Sinematek.
Gaya bangunan seperti juga bangunan-bangunan perkantoran yang dibangun pada tahun 70-an bergaya International Style, bercat putih dengan dominasi garis-garis horizontal. Bangunan ini baik exterior maupun interiornya tidak mencerminkan bangunan kesenian yang umumnya representatif.
Media Center, Hamburg, Germany
Arsitek : Medium Architekten
Lokasi : Ottensen, Hamburg
Ide membuat Media Center ini datang dari The Hamburger Filmburo - sebuah badan yang menyokong pembuat-pembuat film swasta- yang membutuhkan sarana perkantoran dan studio.
Media Center ini merupakan restrukturisasi dari bangunan lama yang sejak tahun 1868 berfungsi sebagai pabrik besi baja yang memproduksi baling-baling kapal. Pabrik ini bangkrut dan diubah fungsinya menjadi Media Center. Sejak 1970 Medium Architekten, Peter Wiesner, Thiess Jentz, Heiko Popp dan Jan Stormer menitik beratkan pada pembentukan kembali, pengembangan dan penambahan struktur bangunan tambahan yang dapat melayani penggunaan modern. Mereka menggambarkannya sebagai Soft Architecture yang mencangkokkan fungsi dan bentuk-bentuk baru pada bangunan lama. hasilnya berupa ekspresi dari struktur bata merah yang masif dengan rangka baja yang diekspos seperti struktur pabrik.
Di bagian manapun dari bangunan dapat terbaca masa lalu dan kekinian. Bangunan ini lebih sebagai sebuah sculpture darpada arsitektur. Seperti dalam perancangannya, Arsitek selalu membawa kapur dan menggambarkannya langsung di lokasi.
Ruang- ruang :
- Film Cafe
- Toko-toko dengan perkantoran diatasnya
- Kompleks bioskop
- Perkantoran untuk Perusahaan perfilman
- Eisenstein Restaurant
- Lembaga film dan teater
- Perpustakaan film dan video untuk umum.
Arts Library, Seoul Arts Center.
Merupakan bagian dari komplek Seoul Arts Center yang terdiri dari Concert Hall, Calligraphy Hall, Festival Hall, Arts Gallery, Korean Music Center, dan Arts Library. Kompleks ini dibangun di atas tanah seluas 234.385 M2 dengan luas total bangunan 120.000 M2 . Arts Library ini memiliki total luas 23.175 M2 yang dibagi menjadi 4 lantai.
Pada Lantai Basement terdapat Perpustakaan Film yang memiliki 2 bioskop dengan kapasitas 100 dan 140 orang, studio workshop, ruang kuliah, ruang penyompanan film, dan perpustakaan rujukan. Perpustakaan ini menjadi tempat untuk mencari informasi, mempelajari, mengembangkan dan menyajikan program-program film dimana film dinikmati dan dipelajari sebagai salah satu bentuk seni.
Pada lantai 1 terdapat Ruang Pelayanan Referensi yang menyediakan berbagai informasi tentang seni. Di lantai ini juga terdapat Perpustakaan anak yang dimaksudkan untuk memperkenalkan seni pada anak-anak sejak dini.
Pada lantai 2 terdapat perpustakaan seni, koleksi barang cetakan dan ruang mikro film. Perpustakaan ini menggunakan sistem pelayanan komputer untuk memudahkan pencarian informasi.
Ruang Audio-Visual terdapat di lantai 3 yang dilengkapi dengan ruang-ruang saji untuk perorangan maupun kelompok.
Konsep Arts Library ini mengikuti Master Plan konsep Seoul Arts Center yaitu sebuah tempat interaksi. Interaksi antara Tua dan Muda, interaksi antara Barat dan Timur dan interaksi antara masa lalu dan masa kini. Hal ini terlihat dari ekspresi bangunan yang mencerminkan kombinasi antara teknologi Barat dengan bentuk-bentuk eksotis Dunia Timur.
<1>)Disarikan dari tulisan Garin Nugroho : “Krisis sebagai Momentum Kelahiran”, Kompas, Agustus 1991<2> )Nugroho, Garin, “Film Indonesia, Antara Pertumbuhan dan Kecemasan” Tempo, Mei 1993
<3> )Nugroho, Garin, “Seks clip : Dunia Fragmentasi”, Kompas, 24 Juli 1994
<4> )Data dari Pusat Perfilman Usmar Ismail
<5> )Angket penonton film di Bandung tahun 1990
<6> )Sudwikatmono, “Sinepleks dan Industri Film Indonesia”, dalam Layar Perak, Jakarta : Gramedia, 1992
<7> )Disarikan dari Diskusi Perfilman 1990, Liga Film Mahasiswa ITB, Bandung, 1990
sumber : (http://www.geocities.com/Paris/7229/film.htm)
Harus diakui bahwa sampai hari ini harapan akan terjadinya reformasi yang sejati selalu disandarkan pada kaum muda. Disisi lain keinginan untuk segera menyudahi kiprah orang tua dikancah politik menjadi aspirasi kaum muda yang terus bergema.
Artikulasi mereka bermacam-macam. Misalnya kaum muda di DPR yang tergabung dalam kaukus politisi muda parlemen membentuk kabinet bayangan yang diniatkan sebagai alat kontrol pemerintahan. Beberapa “gerakan jalanan” meneriakkan potong satu generasi, dan yang lainnya menganggap pemimpin tua sudah seharusnya berhenti karena dianggap tidak mampu mengemban amanah reformasi.
Sebenarnya, jika kita lihat dengan jujur, reformasi telah memberikan ruang ekspresi yang luas, tidak hanya untuk para pemain tua, namun juga untuk kaum muda.
Di DPR, politisi muda bertebaran hampir di seluruh fraksi, dan mereka menduduki posisi-posisi yang cukup strategis seperti pimpinan komisi, pimpinan fraksi bahkan pimpinan dewan itu sendiri. Di kabinet, kaum muda juga memperoleh tempatnya untuk berkarya bagi bangsa dengan menduduki beberapa jabatan menteri, seperti menteri pemuda dan olah raga, menteri percepatan pembangunan daerah tertinggal, menteri kehutanan dan lain-lain.
Begitu juga di daerah, kaum muda tampil sebagai kepala daerah, baik sebagai gubernur, walikota maupun bupati. Namun persoalannya adalah apakah kinerja kaum muda diatas panggung reformasi ini lebih baik dari politisi tua? Apakah kaum muda terbukti lebih idealis dalam menjalankan amanah reformasi dari orang tua? Apakah kaum muda dapat dilihat secara nyata bahwa mereka lebih energik dibanding orang tua?
Ketika harapan akan reformasi ini begitu besar, sementara kemampuan kaum muda melaksanakan agenda-agenda reformasi secara konsisten hanyalah sebuah teori belaka, maka yang akan terjadi sesungguhnya adalah titik balik reformasi. Yaitu situasi dimana perubahan sama sekali tidak menjanjikan harapan, dan rakyat kembali memilih masa lalu yang dianggap lebih memberi kepastian.
Gejala titik balik reformasi ini telah nampak diberbagai lapisan masyarakat. Sulitnya situsi ekonomi menyebabkan mereka tidak peduli dengan agenda-agenda reformasi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebagaimana selalu disampaikan oleh kabinet Indonesia Bersatu tetap belum dapat mengeliminasi mereka yang tidak memiliki nasi, tak mampu menurunkan angka kemiskinan, dan tak mampu mengatasi kesenjangan sosial yang terjadi.
Reformasi menampakkan wajah kesangsaraan bagi sebagian besar anak negeri, sementara kaum muda sebagai aktor utama reformasi seolah tidak menyadari.
Kaum muda, dimana kepada mereka harapan reformasi disandarkan seperti asyik dengan akrobat politiknya sendiri. Ketika rakyat lantang berteriak menolak kenaikan harga BBM, politisi muda seolah tuli, dan memilih tidak bertentangan dengan kebijakan partai yang menyetujui kenaikan harga BBM ini.
Ketika rakyat menderita karena bencana di LAPINDO, politisi muda lebih memilih melakukan kompromi kepada pengusaha yang lalai dalam memberikan ganti rugi. Apa yang mereka perjuangkan? Reformasi? Sesungguhnya nurani mereka telah tergadai demi mempertahankan kursi yang ingin mereka duduki kembali pada pemilu 2009 nanti.
Harapan akan reformasi dan perubahan selalu disandarkan pada kaum muda. Sayangnya kenyataan menunjukkan ketika kaum muda mendapatkan apresiasi untuk duduk dikursi kehormatan dengan menjadi anggota dewan maupun duduk di kementrian, banyak diantara mereka yang tidak mampu mengemban amanah reformasi.
Fenomena politisi muda yang melakukan tindakan asusila atau politisi yang terjerat kasus korupsi, sesungguhnya telah menciderai harapan rakyat akan reformasi itu sendiri. Yang muda yang idealis atau yang muda yang reformis sebagaimana yang selama ini didengung-dengungkan oleh banyak orang tampaknya tidak lebih dari sekedar halusinasi kolektif yang mencengkram syaraf-syaraf kesadaran publik. Pada titik ini persoalan tua muda sesungguhnya menjadi tidak berguna, karena rakyat hanya melihatnya dari karya nyata.
Satu hal yang sama-sama kita saksikan adalah bahwa tantangan kaum muda hari ini begitu luar biasa. “Hari ini kita menyaksikan bagaimana kapitalisme telah wujud dalam bentuk kolinialisme peradaban yang sempurna. Dimana negeri-negeri jajahan tidak merasa diri mereka sebagai bangsa yang terjajah. Karena yang dijajah bukanlah fisik secara langsung, namun melalui pemikiran, perilaku dan budaya” demikian dikatakan oleh Yusuf Qardhawi.
Budaya kapitalisme yang serakah, hanya mementingkan kepuasan diri sendiri serta selalu menghalalkan segala cara sebagaimana dikatakan oleh Danah Zohar dalam bukunya Spiritual Capital ternyata telah merasuk dalam kepribadian kaum muda Indonesia. Inilah sesungguhnya akar persoalan yang paling nyata, sehingga ketika mereka memiliki kuasa maka yang pertama kali dilakukan adalah pemuasan nafsu pribadi.
Politisi muda menjadi pengumpul harta tidak peduli dari mana jalannya. Kuasa mereka sebagai anggota dewan memudahkan mereka menulis memo kepada departemen atau mitra kerja mereka untuk memfasilitasi program hura-hura mereka, seperti tamasya keluar negeri bersama keluarga atas biaya Negara dengan mengatasnamakan kunjungan kerja.
Pragmatisme yang lahir dari ideologi kapitalisme seringkali menjadi tantangan nyata yang bersemayam dalam jiwa dan pikiran politisi muda. Jika kaum muda ingin tampil memimpin perubahan-perubahan besar di negeri ini, maka pragmatisme mereka terlebih dulu harus disucikan.
Hanya dengan hati yang bersih energi perubahan akan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat, seperti gerak ombak yang tanpa henti dan tanpa pamrih. Semoga harapan itu masih ada!
sumber:http://schoolofleaderunpad.wordpress.com/2008/12/01/sepuluh-hukum-kepemimpinan-i-bill-newman/
ONCE
Part of me has died
And won’t return
And part of me wants to hide
The part that’s burned
Once
Once
I knew how to talk to you
Once
Once
But not anymore
Hear the sirens
Call me home, call me home
Call me home, call me home
Part of me has vowed
To watch it burn
And the heart of me has tried
But look what it’s become
Once
Once
I knew where to look for you
Once
Once
But that was before
Once
Once
I would have laid down and died for you
Once
Once
But not anymore
Hear the sirens
Call me home, call me home
Call me home, call me home
Call me home
ada yang udah nonton filmnya? ONCE…film indie gitu, filmnya menarik, aku suka lagu-lagunya, permainan gitar ma pianonya…sederhana tapi bagus ( respon yang biasa dan sangat sederhana banget yah?) waktu itu nontonnya gak tralu fokus, sambil nundutan tapi pengen nonton!kekeuh!
diawali dari pertemuan dua orang anak adam, perkenalan yang lucu, berani, jadi pengen mencoba perkenalan kayak gitu deh sama seseorang…
kesempatan mang gak datang dua kali, kadang kita gak tau ketika kesempatan itu datang…
I started a joke which started the whole world crying
But I didn’t see that the joke was on me oh no
I started to cry which started the whole world laughing
Oh If I’d only seen that the joke was on me
I looked at the skies running my hands over my eyes
And I fell out of bed hurting my head from things that I said
‘Till I finaly died which started the whole world living
Oh If I’d only seen that the joke was on me
I looked at the skies running my hands over my eyes
And I fell out of bed hurting my head from things that I said
‘Till I finaly died which started the whole world living
Oh If I’d only seen that the joke was on me
Oh no that the joke was on me
lagunya BeeGees ini maknanya dalem banget…aquw nangkep filosofisnya yaa…seenggaknya yang pas gt sama saia…heux5
I started a joke which started the whole world crying
I started to cry which started the whole world laughing