Ashaid’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Jan
26

Wanita itu menangis lagi di tengah hening malam, disaat bulan tlah lama kembali ke peraduan, jangkrik pun tlah bosan dengan suaranya karena bersenandung sendiri, laba-laba pun sudah tak iseng bergelantung diantara daun dan ranting tuk membuat jaring. Hari ini ia meneguhkan hati tuk melakukan semuanya, ia tlah menemukan orang yang dicarinya selama ini, orang yang telah melahirkan duka panjang sepanjang sisa hidupnya dalam kesendirian. Ia menjadi sendiri karena sebuah duka yang tak teraba hadirnya pada suatu petang. Ia tak menyiapkan apa-apa, tak ada rencana matang seperti yang dilakukan para pasukan militer ketika berperang, tak ada apapun. Hanya ada satu alasan kuat yang ia pegang, karena orang itu penyebab duka pada suatu petang. Alasan itu ada dalam genggamannya, ia dapatkan akhirnya. Ia ingat saat itu hujan deras adalah hal yang paling kuat terekam pada otaknya, pada batinnya. Hujan deras yang menemaninya bersenandung kecil menyiapkan sebuah makan malam sederhana, hanya untuk berdua. Ada sesuatu yang berkilat terlihat selintas, tersimpan dibalik tas tangannya, ia hanya membawa sebuah perhiasaan terakhir yang ia pegang saat kabar duka itu sampai di telinganya, saat hujan deras di suatu petang.

Malam semakin meyakinkan eksistensinya waktu ini. Senja telah lama pulang, dan dingin semakin menggerayangi kulit bagi mereka yang belum lelap dalam gelap, angin semakin menggemerutukkan tulang yang malas berbalut daging tebal. Seorang lelaki dengan sok kuatnya bertahan duduk di dalam sebuah ruang yang terbentang. Duduk diantara susunan kursi-kursi yang meninggalkan kesan bahwa belum lama telah terisi. Ruang ini belum lama ramai, namun tak lama menjadi sepi. Ruang ini belum lama begitu riuh dan padat oleh lengking suara dan tepuk tangan, namun tak lama kembali kosong.

Panggung itu kini telah kosong…

Padahal tadi dengan seksama Danar melihatnya di atas sana, menari, bermain peran dengan cantiknya, menjadi seorang bidadari yang sepi, menyendiri di dunianya.

Dan panggung ini kini kembali menjadi sebuah ruang kosong, kosong melompong. Danar merasa dirinya pun turut kosong, jiwanya menjadi tak penuh kala sosok yang dicari tlah hilang. Aku tak bisa kendalikan apa-apa lagi bisiknya lirih, dan bangku panjang disana pun kosong.

Kecewa tlah berkecamuk dalam dadanya, kecewa ia yang dinanti tak kunjung hadir, menampakkan sedikit bayang dihadapannya, barang sedikit. Apakah bayangnya pun turut ikut enggan? Pikirnya terus melayang, mengambang, akhirnya jatuh tanpa pegangan. Danar terpekur diam. Matanya kembali memandang selembar kertas, terlihat jelas sosok perempuan dengan sebuah senyum tipis, senyum yang abadi. Adakah senyum ini dulu memang tulus? Pikirnya, kali ini benaknya mulai berspekulasi.

”aku akan memberimu kesempatan pabila suatu saat kau dapat menemukanku, dan disaat kau hadir dan ku mau temuimu, tak perlu lagi aku menjawab dengan kata, kau sudah tau jawabanku, begitupun sebaliknya, deal?”. percakapan terakhir antara keduanya pada suatu petang.

Dan rasanya kini, Danar pun tlah mendapat jawaban yang selama ini ia tunggu, ia cari.

Danar menyerah, lelaki itu merasa telah kalah dan payah. Satpam yang sedari tadi menunggunya kesal untuk keluar akhirnya tersenyum mengembang, walau kekesalan masih terlihat dari sorot matanya, mata tak kan pernah bisa berbohong.

Dan nyatanya seseorang memperhatikannya sedari tadi, disana dibalik tirai, di belakang panggung. Matanya sayu memandang tak jemu dengan segala pedih dan luka yang sulit terpeta. Gadis itu ada, dia disana, Danar! Ah andaikan ia sadar dan mau mencari, padahal kenapa kau tak berusaha sedikit untuk berlari ke belakang panggung usai pementasan tadi, berlari mengejar bayangannya yang paling akhir terlihat sebelum habis terseret diri yang diikuti lampu yang temaram. Tapi nyatanya gadis itu pun tak menghampiri, itu sudah merupakan tanda-tanda.

Gadis itu, akhirnya turut menyerah pada egonya, ia tak teruskan reaksi matanya tuk memandang sosok yang berjarak beberapa meter di hadapannya. Ia akhirnya pamit pergi, pamit pada panggung yang baru saja menjadi medan pentas eksistensi dirinya sebagai seorang penari, hingar bingar suara masih terekam jelas, beragam pujian yang mengalir untuknya rasanya cukup membuatnya basah dan gerah, yang jelas ia sama sekali tak menyangka, penampilan perdananya di atas pentas besar ini akan mendapat pujian seperti itu. Ia tlah peroleh mimpinya. Ia berkemas, bersiap meninggalkan gedung megah ini, sambil menatap siluet punggung yang tersisa di luar sana, lewat jendela.

”Aku akan pergi,” dan gurat bibir yang menggigil itu menjelaskannya dengan pasti. Ketegasan itu begitu jelas, segala ketegangan yang tampak dari wajahnya seakan menahan sesuatu tuk tak jatuh pada waktu yang tak tepat seperti sekarang ini. Saat airmata sudah tak bisa lagi terbendung tuk mengalir tak pasti, karena dada telah sesak mendesak akan meledak seperti gunung. Namun ia berhasil menahan semuanya itu, tuk tak jatuh di waktu yang tak tepat seperti saat itu, petang itu.

Mereka berusaha untuk saling menahan diri tengah hujan yang turun deras, sesungguhnya si lelaki sudah tak tega melihat wajah pias perempuan dihadapannya, Namun ia cukup tahu sebesar apa ego yang dimiliki sosok dihadapannya itu. ”pergilah”, dan akhirnya kata-kata itu yang terlontar dari bibir si lelaki, sambil menahan getar sebuah kombinasi dari rasa dingin dan ketegaran serta keberanian untuk melepaskan.

”terima kasih, kata-katamu itu turut membebaskan aku, aku pamit…”. tanpa menunggu lama lagi perempuan itu akhirnya pergi, pergi tanpa mau kembali menoleh untuk melihat sosok dengan raut wajah yang sudah sulit tuk ungkap rasanya.

Siapa sangka sebuah potret mampu membawa Silla kembali pada saat seperti itu? Kembali menarik dirinya pada deras hujan yang secara langsung menembakinya dengan rentetan peluru air tiada henti, tak hanya padanya juga pada Ranu. Deras hujan yang membiaskan kata-kata satu sama lain sehingga mereka harus bersusah payah meninggikan volume suara agar masing-masing dapat saling menangkap makna kata, dan mata pun ikut bicara.

Pernahkah pada suatu hari kau melihat hujan turun, dan ia lupa untuk memberi kesejukkan disela kedatangannya itu?

Itulah yang terjadi saat itu, tak ada makna sejuk dikala hujan turun karena keduanya terlampau panas oleh suasana yang mereka ciptakan sendiri.

Silla, kembali terlena oleh scene lampaunya, slide-slide masa lalu mulai hadir memenuhi benak dan tanpa sadar, apa yang seharusnya jatuh, yang ia tahan agar tak jatuh diwaktu yang menurutnya tak tepat waktu itu, akhirnya rapuh juga. Silla, hanya bisa meraba wajah itu, menelusuri lekuk wajah yang sama terasa datarnya, karena itu hanya hasil rekam kamera yang tercetak. Semuanya telah berlalu selama sepuluh musim untuk dua musim yang dilalui negeri ini setiap tahunnya.

Ada penyesalan selama itu, penyesalan akibat kerasnya sifat. Sesungguhnya pisah yang di ungkap adalah pisah karena ego, karena diri tak mau menerima salah dari diri lain, padahal itu harus dapat dimaklumi oleh manusia.

Pasalnya kesalahan memang bukan merupakan hal yang makroskopis, kasatmata, ya walaupun tidak tapi dapat dirasa. Silla ingat kata terakhir yang lelaki itu,  ”pergilah”, kata itu keluar tanpa emosi namun sarat makna, begitu datar namun berat. Silla langsung pergi tanpa mau lagi berpaling, ia teguh pada langkahnya.

Bus sudah ada dihadapannya, Silla menaikinya dengan setengah sadar, dan setengah diri masih ada dalam lamunan masa silam. Suara dentum tabrakan mengembalikannya pada dunianya kini, suara itu yang membuatnya menoleh ke belakang, melalui kaca bus yang perlahan tlah maju ia melihat lelaki itu telah terkapar, dengan jarak yang cukup dekat dengan keberadaannya tadi, tempat ia duduk sendiri di bangku halte menunggu bis terakhir, sebuah halte dekat sebuah gedung pertunjukan, dekat sebuah taman, taman yang sama, beberapa musim lalu.

Seseorang telah menjadi korban tabrak lari malam itu, di tengah larut, telah jatuh seorang korban yang telah menerima total derita, derita menanti, derita mencari, mendapat jawab tak seirama, lalu pergi, tak lama kemudian ia mati.

Seorang perempuan berlari, menyusulnya, bukan tangis lagi yang keluar dari kedua matanya. Lampu jalan masih bisa memberi terang yang jelas, perempuan itu yang tadi Silla tonton penampilannya di atas panggung, perempuan yang menari sepenuh hati, dan itu terlihat dari sinar matanya, karena mata tak pernah berbohong.

Perempuan itu meraung, menarik tubuh yang sudah tak bernyawa, membiarkan darah-darah itu menempel pada bajunya dan sebagian kulit putihnya.

Silla kembali ditarik masa lalu, di tempat yang sama ia sempat alami hal seperti itu, posisinya persis seperti perempuan itu. Tapi entah, apakah kisahnya sama seperti itu? Apakah ego yang melatari semuanya itu?

Bahasa seperti apa yang mampu menggambarkan keberadaanmu yang jauh dari sudut pantauku kini?penyesalan…dan sekarang Kau begitu jauh, pesan kepergianmu waktu itu sungguh tak ada yang dapat aku tangkap maknanya sedikitpun. Semua sudah lama berlalu, kisah kita hanya tinggal cerita, dan cerita kita akankah nanti menjadi pedoman dalam buku-buku pelajaran bagi anak-anak sekolah? Pelajaran untuk bisa berpikir lebih dewasa, untuk mau menerima, dan rela…Setidaknya pelajaran bagi anak-anak kita? Anakku saja mungkin, nyata kau sudah tak ada, atau mungkin tak juga aku, jadi bukan anak-anak kita. Ranu, aku siap dengan keberadaan maupun ketiadaanmu…atau mungkin aku siap tuk menyusulmu, disana.

Silla, entah mendapat firasat atau apa, seketika bersedia untuk mati menyergap pikirannya. Nyatanya jauh disana, di dekat kosannya, seorang wanita telah siap untuk merenggut nyawanya.

Puteraku, Ibu akan menyusulmu sebentar lagi, setelah semua dendam mampu ibu hapuskan….

Dan wanita itu masih sabar menunggu penghuni rumah yang ia kunjungi malam ini pulang.

Jatinangor, 2008

Jan
26

Nama           :   ADE WIJAYA SUKMA
Ttl                 :   Sukabumi – 22 Januari 1988
Alamat        :   Bojong Genteng Rt 02/04, Bojong Genteng, Sukabumi
 
Nama           :   ADI TISA ZULKAMAL
Ttl            :        Sukabumi – 08 Juli 1987
Alamat         :   Kampung Malinggut Rt 01/03, Warnajati,Cibadak- Sukabumi
 
Nama               :    HENNY HARDIYANTI H
Ttl                :          Sukabumi, 30 Mei 1986
Alamat            :    Kp. Bantar Muncang Rt. 07/02, CibadakSukabumi
 
Nama               :    KRISTIA NIDIANINGRUM
Ttl                :          Sukabumi, 09 September 1988
Alamat            :    Gg. Seruni Rt. 02/17 Sekarwangi, CibadakSukabumi
 
Nama               :    LANI NURLANI
Ttl                :          Sukabumi, 03 April 1988
Alamat            :    Kp. Bojong Mesjid Rt. 02/04, CibadakSukabumi
 
Nama               :    LEVI TANIA FITRIANI
Ttl                :          Sukabumi, 19 Mei 1988
Alamat            :    Kp. Negla Sari Rt. 03/024, CibadakSukabumi
 
Nama               :    LINA SULASTRI
Ttl                :          Sukabumi, 27 Februari 1988
Alamat            :    Kp. Lingkung Sari No. 8 Rt. 03/21, CibadakSukabumi
 
Nama               :    LINDA DAMAYANTI
Ttl                :          Sukabumi, 04 April 1987
Alamat            :    Kp. Sunda Wenang Rt. 27/11, ParungkudaSukabumi
 
Nama               :    MILA SAVITRI
Ttl                :          Sukabumi, 26 Mei 1987
Alamat            :    Jl. Caringin No. 158 Kp. Talaga CicantayanSukabumi
 
Nama               :    MIRNA SUSILAWATI
Ttl                :          Sukabumi, 27 November  1988
Alamat            :    Kp. Pajagan Rt. 06/03 Parakan Salak– Sukabumi
 
Nama               :    NANI NUR HANDAYANI
Ttl                :          Sukabumi, 19 Agustus 1988
Alamat            :    Desa Benda Rt. 03/07 Cicurug– Sukabumi
 
Nama               :    NATALIA VENI HANDAYANI
Ttl                :          Sukabumi, 08 April 1988
Alamat            :    Kp. Salagedang Rt. 01/02 Pangkalan Cikidang– Sukabumi
 
 
 
Nama               :    NURUL MULYA ALAMSYAH
Ttl                :          Sukabumi, 02 Mei 1988
Alamat            :    Kp. Kongsi Rt. 01/06 No 25 Cicurug– Sukabumi
 
 
Nama         :    RAHAYU INDRIANI
Ttl                :          Jakarta, 07 Oktober 1985
Alamat            :     Kp. Caringin Lebak Rt. 08/05 Caringin– Sukabumi
 
Nama         :    RINA ISMAYANTI
Ttl                :          Jakarta, 13 Juni 1987
Alamat            :    Kp. Bojong Kuring Rt. 02/026 Cibadak– Sukabumi
 
Nama         :    RISMA ARISTIAMI
Ttl                :          Jakarta, 13 Desember 1988
Alamat            :    -
 
Nama         :    SANDI KURNIAWAN
Ttl                :          Jakarta, 27 Juli 1987
Alamat            :    Jl. Primer No. 354 Rt. 01/05 Cibadak- Sukabumi
 
Nama         :    TINA ANDRIANI
Ttl                :          Sumedang, 28 September 1988
Alamat            :    Jl. Lodaya II Rt. 02/08 Karang Tengah, Cibadak- Sukabumi
 
Nama         :    TRI HARTINING TIYASTUTI
Ttl                :          Sukabumi, 16 Februari 1988
Alamat            :    Komp. Asrama Armed 13 Rt. 2/11 Cikembar-Sukabumi
 
Nama        :    TUTI ALAWIYAH
Ttl         :    Sukabumi, 20 Oktober 1988
Alamat            :    Jl. Tenjo Jaya Rt.03/07, No. 684, Cibadak-Sukabumi
 
Nama        :    WIDHY WIJAYANTI SYAMSUDIN
Ttl         :    Sukabumi, 05 Desember 1988
Alamat            :    Kp. Simpenan Rt. 01/01, Bojong Kerta, Warumg Kiara- Sukabumi
 
Nama         :    YOLANDA ARIANI SEPTIANI
Ttl         :    Sukabumi, 19 September 1988
Alamat            :    Ds. Pamuruyan Rt. 02/19, Cibadak-Sukabumi
 
 
Nama        :    YUNI YUNITA
Ttl         :    Sukabumi, 10 Maret 1989
Alamat            :    Jl. Raya Segog Rt. 04/01, Batu Nunggal

Jan
26

Harapan memang seperti itu, selalu begitu setidaknya makana harapan bagiku hanya harapan yang menunggu waktu.

Jan
26

Aku telah dilemahkan oleh anganku sendiri

Jangan jadi pengecut! Jangan cari alasan!Bangkitlah jika tak mau jadi pecundang!

Kembalilah pada hidup kita masing-masing!

Jan
26

Orang bilang malam selalu bisa memberi ketenangan, selalu bisa membuat perasaan kita menjadi nyaman. Ya, awalnya aku pun merasa hal demikian, tapi tidak lagi akhir-akhir ini, terutama sebulan terakhir ini. Malam kian membuatku cemas, selalu menimbulkan rasa was-was. Bukan kenapa, semenjak peristiwa itu, persepsiku terhadap malam jadi kian berubah.

Danar, dulu baik-baik saja, selalu khas dengan senyum dan tawanya, selalu bisa bercerita apa saja, memberi nyaman, sama seperti malam, sebelum peristiwa itu datang.

Danar pun menyukai malam, sering ia mengajakku keluar malam hari, hanya untuk berjalan berdua, menapaki jalan yang sudah sepi dan lengang. Menyusuri lagi jejak-jejak keberangkatan pagi hingga kepulangan saat petang, jejak-jejak yang yang masih membekas, meninggalkan sisa. Ada bekas jejak keberangkatan kami pada suatu pagi, kami masih sama-sama mengenalnya, bekas gesekan sol sepatu karet pada tanah becek yang kini sudah mengering. “itu pasti jejakku tadi pagi!!,” sahutnya pasti, aku hanya mengangguk pelan dan sedikit menunduk mencoba memastikan apakah benar apa tidak, toh ternyata kutemukan juga sisa jejakku karena ada bekas gesekan sol sepatuku juga disana.

Ayo kita ke gunung, kita berangkat malam, agar dapat sampai menjelang fajar, dan matahari terbit yang menyapa kita sesampainya kita di puncak nanti, bagaimana? Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tatapan matanya selalu bisa membuatku yakin bahwa aku memang takperlu kuatir akan apapun selama aku masih ada di sisinya. Tatapan yang selalu hangat, tatapan yang selalu membuatku merasa nyaman pada segala suasana, asal ada bersamanya.

Kali lain ia mengajakku kembali menyusuri malam, mengajak menikmati Kota kecil kami di tengah buta. Tahukah kau? Kota kecil ini takpernah mati, walau sepi sebenarnya ia hidup dan memberi hidup bagi orang-orang yang berjuang di pagi dini. Nanti kita kembali keluar, di saat orang sudah lelap, kita kembali terjaga, kuajak kau melihat para pembawa bambu, kita tunggu mereka dari dekat pos polisi di depan jembatan penyeberangan, kita nikmati malam dengan alunan anginnya, dari sana akan kita lihat mereka jua.

Aku ingin mengajakmu melihat citylight dari bagian utara, dari atas sana, lampu-lampu kota begitu indah dan beragam, kau pasti akan sangat suka. Nanti kita beli jagung bakar, kita nikmati malam sambil makan jagung bakar, atau kau mau mencoba sate kelinci? Ya akan kubelikan, tapi nanti kalau kau jadi ketagihan jangan sering-sering memintaku membelikannya, aku takpunya uang setiap saat, sayang. Dan ia kembali tersenyum lengkap dengan tatapan hangatnya, lagi.

Hari-hari yang indah bersamanya adalah setiap malam, kalau pagi, siang, hingga petang selalu ingin segera kulalui tanpa terasa karena aku hanya ingin menikmati malam dengan segala kejutan yang selalu ia siapkan. Setiap malam selalu bisa kami lalui dengan cara berbeda.
Setiap pagi ia pergi takpernah mau sendiri, selalu mengajakku, karena ia ingin selalu kudampingi. Dan inilah istimewanya dirinya, takkan pernah membiarkanku sepi sendiri.

***

Tapi entah kenapa pagi itu tumben-tumbennya aku kau tinggalkan sendiri, pada sebuah pagi. Kau pergi, dan siang hingga petang kulalui dengan penuh keisengan, sambil menunggu kau pulang, namun sampai senja dijemput, kaupun belum datang.

Malam tiba, kau masih belum pulang, Amang tetangga kita pun jadi tumben bertanya mengapa aku sepanjang hari di rumah, dan kau pergi cukup lama, aku hanya bisa menggeleng tanpa bisa memberi jawaban, jelasnya kekhawatiranku bertambah makin.
Dan malam itu pertama kalinya kulalui tanpa kejutan, kulalui sendiri tanpa kau dan tatapan menenangkan, tatapan yang meyakinkan bahwa malam ini akan memberi keindahan yang lain lagi. Kucoba cari tatapan itu lewat fotomu yang sudah usang, namun mata itu kosong, tak beriku apa yang kuingin. Tiba-tiba aku menjadi takut takkan pernah lagi bisa menatap matamu itu, mata yang hidup dan menenangkan. Mata yang teduh dan meyakinkan. Aku takut kelak kau pulang tanpa lagi mau mengajakku menghabiskan malam dengan segala kejutan. Tiba-tiba semua ketakutan datang menyergap begitu saja.

Jelang fajar, Amang mengedor pintu tanpa nada yang berirama. Memanggil-manggil namaku dengan gusar. Aku belum tidur karena menunggu kau pulang, jadi tak kudengar lama teriakan gusar Amang dari balik pintu. Walau perasaanku semakin jadi tak tenang.

Benar saja, Amang datang membawa berita tentang kau. Alam merespon ketakutanku malam itu. Ketakutan akan kehilangan, akan tatapanmu, akan malam selanjutnya yang takkan lagi bisa kita lewati.

Sejak itu, kini kau menjadi begitu takut pada malam, pada kegelapan. Kau jadi begitu sangsi akan gelap yang menenangkan. kau jadi begitu benci pada malam, karena katamu malam taklagi istimewa, dan kau kini kecewa. Setiap malam jantungmu pasti berdegup lebih kencang, kau semakin terus meraba-raba takjelas, kau mengoceh tak karu, emosimu semakin meledak, lantas kau akhiri semua kekesalanmu di setiap malam dengan tangis, dengan aliran bening di sudut mata yang takpernah lagi membuat jiwaku nyaman dan tenteram. Aku mencari kenyamanan yang setia kau beri, namun percuma, mata itu telah pergi.

Kini keadaan kita jadi aneh begini, dulu aku bisa memahamimu lewat mata itu, bagaimana kau membuatku takjub pada malam dan segala keindahannya dari matamu, ya ku pun dengar cerita-ceritamu itu, tapi matamu mampu bercerita lebih saat itu.
Kini matamu takjauh beda dengan mata pada foto usang itu, malah lebih kosong daripada itu. Mulutmu pun taklagi bercerita tentang banyak hal, mulutmu kini lebih suka berteriak kacau, berserapah, selebihnya diam.

Mataku mencari matamu, mataku mencoba bercerita pada matamu, tapi percuma. Matamu hanya bisa mengeluarkan air mata saja. Mulutku takbisa berkata apa, padahal ini memang sedari dulu. Namun waktu itu kau selalu bisa membuatku merasa sempurna dengan kebisuanku. Mulutmu selalu bisa mewakili hasratku tuk bicara. Matamu yang mengajariku tuk bisa menyampaikan ingin walau tanpa bersuara.

Sekarang, kau jadi banyak bertanya bukan bercerita, kau bertanya tentang jam, kau bertanya tentang waktu. Kau bertanya apakah petang sudah mau hilang? Apakah malam sudah datang? aku taktahu harus bilang apa. Mau menjawab lewat mata, matamu kini buta. Mau bicara kau pun tau aku bisu. Namun inderamu masih cukup peka tuk menerka ketika malam tiba. Saat itulah kau mulai gusar, kau mulai menangis, kau mulai meneriaki malam.

Kadang aku merindukan malam, namun sekarang seringnya aku ingin malam selalu cepat berlalu agar kau diam, agar kau tak berteriak setiap malam, agar kau tak selalu menangisi malam, agar kau tak menyesali kecelakaan yang menimpamu pada suatu malam.

Aku masih mencari cara, bagaimana dapat memberimu kenyamanan, bagaimana kita bisa saling meyakinkan dan menguatkan serta bisa saling mengisi kekurangan yang kita punya, agar bisa penuh secara utuh. Bagaimana kita melewati hari, terutama malam dengan segala ceritanya dari sekarang, dan seterusnya.

180509-00.08
–saat sudah jarang meniti malam—

Jan
26

Pertanyaan sederhana bagi yang memiliki semangat besar saat ini…
Pernahkah kau berpikir kalau suatu saat kau akan seperti mereka?
Menjadi orang-orang yang kau tuntut dengan semangatmu kini?
Menjadi bagian dari mereka yang kini selalu kau kritisi?
Berada pada jejeran orang berjas rapi penuh wibawa dan sikap yang dijaga?
Akankah ingat bagaimana kau lantang berorasi penuh tuntutan?
Segala yang mereka laku selalu cacat di matamu
Segala yang mereka lontar taklebih dari buangan kata semata
Kau dengan segala keyakinan terhadap mereka yang akan selalu bertindak penuh cela
Tapi mungkin kau pun tahu,
Dahulu mereka pernah muda
Pernah menjadi seperti kita, dan mungkin sempat berlaku hal yang sama
Pertanyaannya , akankah semua terulang?
Ketika suatu saat kau menjadi seperti mereka?
Lantas kalau begitu, apa beda kau dengan mereka?
Hanya satu, kesempatan
mereka bisa berlaku seperti itu lebih dulu!

–aku taktahu karena kadang aku takmau mencari tahu, bertanya pada yang mungkin tahu akan sesuatu yang kuyakin aku sebenarnya bisa tahu kalau aku mencari tahu
Apakah ini termasuk pilihan? Menjatuhkan diri begitu saja pada sebuah lubang yang tidak kita tahu seberapa dalam? Yang tidak kita pikirkan sebelumnya adakah nanti jalan keluar ketika bosan berada dalam kegelapan? Dalam lubang yang taksedikitpun memberi tanda ada cahaya didalamnya
Aku kadang taksadar saat tiba-tiba menghadapi hal yang tak kusadari aku sudah masuk ke dalamnya, sudah menjadi bagian dari lingkarnya, kadang tertarik pada pusat ordinat lantas terlempar pada sisi namun takbisa menepi—

Jan
26

Debu tipis

tanpa rangka kokoh membingkai selingkung area
gemericik di atas sedikit menurun,menetes padamu

dan debu turut luntur

iseng satu jari menari padamu..Diikuti yang lain selanjutnya

tarian tanpa pola,namun mencoba berirama dengan titik yang berjatuhan serta suara rembesan…

Kaupun Mengembun pelan-pelan