ANALISIS KEBERPIHAKAN PRAMOEDYA TERHADAP TOKOH PEREMPUAN DALAM TIGA KARYANYA: SUATU PENDEKATAN SOSIOLOGIS
Diajukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah
Pengantar Sosiologi Sastra
Dosen Pembina
Kusman K.M.,S.U.
Indra Sarathan,S.S
Oleh
Aisha Shaidra
180110060005
Manusia selama hidupnya telah menjadi anggota dari masyarakat, dan tentunya telah memiliki beragam pengalaman dalam hubungan sosial serta bermasyarakat. Oleh karena itu penelitian terhadap manusia akan terus muncul tiada habisnya, karena manusia ketika sudah berada dalam konteks bermasyarakat akan memunculkan beragam permasalahan yang terus berkesinambungan. Beragam hal yang timbul dari kehidupan sosial masyarakat banyak menjadi sorotan, salah satunya menjadi sorotan untuk diangkat dalam karya sastra. Oleh karena itu tidak salah apabila muncul pernyataan bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan sosial.
Beberapa pengarang telah mengangkat kehidupan masyarakat menjadi tema utama dalam karyanya. Ketimpangan sosial, seperti masalah kemiskinan, masih kuatnya nilai feodalisme, partriarki di masyarakat, bobroknya nilai dan norma, menjadi masalah yang menarik untuk di sorot.
Realitas pada sastra merupakan suatu cara pandang penciptanya dalam melakukan pengingkaran atau pelurusan atas realitas sosial yang melingkupi kehidupannya. Dengan demikian, sastra merupakan potret sosial yang menyajikan kembali realitas masyarakat yang pernah terjadi dengan cara yang khas sesuai dengan penafsiran dan ideologi pengarangnya.
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang satu ini sering kali melatarbelakangi ceritanya dengan paparan sejarah maupun pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisan awalnya banyak mengambil latar belakang masa sebelum Perang Dunia Kedua, terutama kehidupan di sekitar kota Blora tempat ia tinggal di masa kecil, serta masa-masa seputar revolusi kemerdekaan.
Selain latar belakang Pramoedya yang sering berkaitan dengan karya-karyanya, penulis juga menangkap bagaimana sosok Pramoedya memberi porsi besar pada tokoh perempuan hampir dalam setiap karyanya. Tokoh perempuan ini muncul nampak sebagai bentuk keberpihakan gagasan-gagasan Pram. Pramoedya juga menggambarkan perempuan sebagai orang yang tertindas sehingga transformasi dari korban jadi pejuang dia paparkan dalam karya-karyanya tersebut.
1.2 Pembatasan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini penulis membatasi permasalahan yang akan diteliti, yaitu :
1) sejauh mana peran para tiga tokoh perempuan ini pada karya Pramoedya
2) bagaimana kesamaan dan juga perbedaan dari ketiga tokoh perempuan dalam tiga novel Pramoedya
3) apa yang melatarbelakangi Pramoedya menjadikan tiga tokoh perempuan tersebut menjadi tokoh utama pada masing-masing novel
1.3 Tujuan Penelitian
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberpihakan Pramoedya terhadap tokoh perempuan dalam tiga karyanya.
1.4 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan ilmu yang mempelajari komponen-komponen dalam dunia sastra serta hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat. Karya sastra sebagai cermin realitas, yang kebanyakan mengacu pada pengalaman pribadi atau lingkungan masyarakat pengarang. Oleh karena itu, sangatlah tepat metode ini dipakai sebagai acuan dalam makalah ini.
1.5 Sumber Data
data dalam penelitian ini bersumber dari (1) sumebr data primer yaitu teks Bumi Manusia (2005), Gadis Pantai (2007), dan Midah si manis Bergigi Emas (2005) karya Pramoedya Ananta Toer oleh Lentera Dipantara, (2) sumber data sekunder yaitu dokumen tertulis yang berupa teks yang membahas ketiga novel ini maupun tulisan lainnya yang berkaitan dengan penelitian.
1.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara:
1. Studi Pustaka. Membaca, mencatat dan memberikan tanda tentang kejadian atau tingkah laku yang sesuai dengan metode sosiologi sastra yang terdapat pada novel Bumi Manusia, Gadis Pantai, dan Midah si manis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer.
2. Memilih data yang terkait dengan konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin realitas sosial, dan fungsi sosial sastra yang diwujudkan dalam bentuk data yang berupa kutipan
3. Mengumpulkan beberapa informasi dari internet atau literatur-literatur yang mendukung variable penelitian yaitu mengenai peran tokoh perempuan dalam novel Pramoedya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tema
Setiap karya fiksi tentunya mengandung makna dan memiliki tema. Untuk dapat memahami tema apa yang terkandung dalam sebuah karya tentunya pembaca harus dapat memahami dan menafsirkan segala unsur pembangun cerita yang terdapat dalam sebuah karya.
Tema (theme), menurut Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2005:67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Dengan kata lain tema menduduki peran penting dalam sebuah karya, karena tema merupakan landasan dari sebuah karya yang menjadi pondasi berkembangnya suatu cerita. Tema sebuah karya akan selalu berkaitan dengan makna kehidupan. Melalui karyanya itulah pengarang meanwarkan makna tertentu kehidupan. Pengarang mengajak pembaca untuk merasakan serta menghayati kehidupan tersebut dengan cara memandang permasalahan sebagaimana ia memandangnya (Nurgiyantoro, 2005).
Dalam karyanya Pram mencoba mengajak pembaca untuk melihat tokoh perempuan masing-masing pada zamannya. Bagaimana mereka menghadapi permasalahan, mencoba keluar dari kungkungan partriarki dan feodalisme yang membuat posisi mereka tersisihkan dalam golongan-golongan strata sosial, dan pada waktu itu orang biasa tidak punya hak apapun dan diperlakukan secara tidak manusiawi.tema semacam ini menurut Shipley dalam Nurgiyantoro, termasuk dalam tema tingkat sosial, man as socious. Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat aksi-interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan alam., mengandung banyak permasalahan dan konflik, dan lain-lain yang menjadi objek pencarian tema.
Masalah-masalah sosial itu antara lain berupa masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta, propaganda, hubungan atasan-bawahan, dan berbagai masalah dan hubungan sosial lainnya yang biasa muncul dalam karya yang berisi kritik sosial.
2.2 Aspek Pendekatan Sosiologis
Pendekatan sosiologis menganggap karya sastra sebagai milik masyarakat. Pendekatan ini sepanjang sejarahnya di dunia barat selalu menduduki posisi penting. Menurut Kutha Ratna (2006:60), Dasar pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh : a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat, dan d) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat, dengan demikian perlu diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut:
1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat.
2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, meyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.
3. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalsah kemasyarakatan.
4. Berbeda dnegan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.
5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.
BAB II
GAMBARAN UMUM PENGARANG DAN KARYANYA
2.1 Tentang Pramoedya
Pramoedya lahir pada 6 Februari 1925. Ayah Pram adalah seorang guru nasionalis kiri, sedangkan ibunya berasal dari keluarga ningrat. Dalam suasana yang feodal, ibunya tidak pernah melakukan pekerjaan rumahnya sendirian, karena selalu dilayani pembantu. Namun, karena pengaruh pemikiran sang ayah, ibu Pram akhirnya berubah dan mau mengerjakan semuanya sendirian.
Perempuan, terutama ibu dan neneknya menjadi inspirasi Pram dalam menelurkan karya-karyanya. Sebut saja tokoh Nyai Ontosoroh, si perempuan kuat dalam “tetralogi Buru”. Demikian pula dengan tokoh gadis pantai yang merupakan prototipe dari neneknya, ibu dari ibu kandungnya. Selain itu, perempuan yang juga telah menginspirasinya adalah Kartini yang dia nilai sebagai sosok perempuan mandiri.
Pendidikan :
SD Blora, Radio Volkschool Surabaya (1940-41), Taman Dewasa/ Taman Siswa (1942-43), Sekolah Stenografi (1944-45), dan Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945).
Karier :
Juru ketik Kantor Berita Jepang Domei (1942-45), Letnan dua dalam Resimen 6 Divisi Siliwangi (1946), Redaktur Balai Pustaka (1950-51), pimpinan Literary & Features Agency Duta (1951-54), Redaktur bagian penerbitan “ The Voive of Free Indonesia” (1954), Anggota pimpinan Pusat Lekra (1958), Ketua Delegasi Indonesia dalam Komperensi Pengarang Asia Afrika di Tashkent, Uni Sovyet (1958), Anggota Dewan Ketua Komite Perdamaian Indonesia (1959), Redaktur Lentera”(1962-65), Dosen Fakultas Sastra Universitas Res Publica, Jakarta, Dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai, Jakarta.
Karya Novel :
Perburuan (1950),Bumi dan Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Arus Balik,dan Arok Dedes.Kranji Bekasi Jatuh (1947), Keluarga Gerilya, Percikan Revolusi (1950) ,Mereka yang dilumpuhkan, Bukan Pasar Malam, Di Tepi Kali Bekasi, Dia yang Menyerah (1951), Gulat di Jakarta (1953), Midah si Manis Bergigi Emas, Korupsi (1954), Calon arang (1957), Hoakiau di Indonesia (1959), Panggil Aku Kartini Saja (1962), Bumi Manusia, edisi Inggris Anak Semua Bangsa (1980),Tempo Doeloe (1982), Jejak Langkah, Sang Pemula (1985), Gadis Pantai, Rumah Kaca (1987).
Penghargaan :
Hadiah Pertama Sayembara yang diadakan oleh Balai Pustaka (1949), Mendapat Hadiah Sastra Yamin (1964).
Sebagai penulis Pramoedya menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutak-atik bahasa.
Pramoedya mulai menulis sejak ia duduk di Sekolah Rakyat. Bakat ini ia warisi dari ayahnya, Toer, bekas guru dan aktivis PNI cabang Blora. Karya pertamanya, Kemana, muncul di majalah Pancaraya tahun 1947. Saat itu ia masih tercatat sebagai murid di Taman Siswa. Di tahun yang sama, terbit novelnya, Kranji Bekasi Jatuh dan Sepuluh Kepala Nica.
Ia tergolong penulis yang serius mempersiapkan diri sebelum berkarya. Ia adalah sosok pendokumentasi data yang baik, dan mampu membungkus data-data yang akurat dengan alur cerita yang memukau dan gaya bahasa yang orisinil. Itulah sebabnya banyak pihak menilai karya-karya memiliki standar mutu literer yang tinggi. Berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri telah membuktikannya. Pramoedya menerima Freedom-to-write Award dari PEN American Center (1989), The Fund for free Expression Award (1990), Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award dari Filipina (31 Agustus 1995). Banyak novelnya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing.
Pengalaman hidupnya seolah ditakdirkan dramatis. Pram pernah jadi pihak yang menekan saat Lekra berjaya. Lantas tersuruk jadi tahanan politik selama 14 tahun 2 bulan tanpa pengadilan disusul status tahanan rumah. Ia sempat ditahan di penjara Salemba, kemudian dipindahkan ke Nusakambangan. Pada tanggal 16 Agustus 1969, Pramoedya memulai hari-hari pembuangannya yang terentang hingga 10 tahun di Pulau Buru, sebuah pulau di bagian selatan Maluku. Bersama ribuan tahanan politik lainnya, ia menebang kayu, membuka lahan, berternak ayam, dan dilarang menulis. Izin untuk menulis baru ia terima empat tahun kemudian, dan dari sanalah ia menulis beberapa karya penting, di antaranya empat serangkai novel yang kemudian lebih banyak dikenal sebagai Karya Buru, mengacu ke tempat novel-novel itu ditulis dan pengarangnya ditahan. Juga menyaksikan dengan sesak karya dan harta literaturnya dibakar militer, pun pelarangan terhadap tulisan-tulisannya.
Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia
Nyai Ontosoroh adalah seorang wanita pribumi yang bernama asli Sanikem, perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Oleh Mellema, ia diajari baca tulis, juga bahasa Belanda. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan menolak untuk menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman. Hingga ketika mendekati akhir hidupnya, Mellema menjadi pecundang besar. Ia sibuk bermabukan dan bermain-main di rumah bordil. Sebaliknya, Sanikem telah bermetamorfosis menjadi Nyai Ontosoroh. Tidak hanya bisa baca tulis dan berbahasa Belanda tanpa cela, ia bahkan memimpin perusahaan keluarga. Menjadi ibu tunggal bagi Robert dan Annelies Mellema. Juga bisa bersolek dengan necis layaknya priyayi, meski darah biru tak pernah mengalir dalam tubuhnya.
Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Annelis. Bahkan ia adalah sang ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan.
Oleh Pramoedya tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi sebagai seorang yang telah mendapat pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu. Sisi feminis dalam novel ini pun muncul dan ditonjolkan dalam sudut pandang Nyai Ontosoroh sendiri, yang dalam cerita itu, bukanlah nyai biasa. Bukanlah gundik biasa. Zaman itu, Nyai (baca: gundik) identik dengan kebobrokan moral dan kebodohan. Sehingga jika ada seorang wanita Pribumi mendapatkan predikat Nyai, sudah dipastikan, masyarakat akan mencap jelek wanita itu. Tapi ternyata, Nyai Ontosoroh adalah Nyai yang berbeda dengan Nyai kebanyakan. Ia mampu membaca dan berbahasa Belanda dengan sangat baik. Sebuah hal yang hampir mustahil terjadi di masa itu. Itulah yang menarik Minke untuk bergaul dengan Nyai Ontosoroh walaupun ramai orang membicarakan mereka.
Akan tetapi, di tengah segala perjuangannya pada akhirnya Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Namun, bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: “Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!”
2.3 Gadis Pantai
Berkisah tentang seorang gadis dari perkampungan nelayan pesisir Jepara yang dinikahi oleh seorang bendoro. Pernikahan tersebut mengubah kehidupan Gadis Pantai tak lagi menjadi warga nelayan. Statusnya meningkat menjadi wanita bangsawan. Namun, perubahan status tersebut tidak membawa kebahagiaan bagi Gadis Pantai. Gadis Pantai dipaksa berpisah dari keluarganya. Oleh keluarga sang Bendoro, bapak dan ibu Gadis Pantai dilarang berkunjung ke rumah Gadis Pantai karena dianggap berstatus lebih rendah. Bahkan, bapak dan ibu Gadis Pantai menyapa anaknya dengan sebutan Mas Nganten (gelar untuk wanita bangsawan, yang wajib digunakan rakyat kecil untuk menyapa golongan wanita bangsawan).
Perubahan status dari rakyat kecil menjadi bangsawan atau kelas sosial priyayi menuntut perubahan aspek lahiriah. Mulai dari bahasa yang digunakan sampai dengan pola hidup. Sejak perubahan status menjadi priyayi, Gadis Pantai dipaksa mengubah pola hidupnya. Hal ini bukan hal yang mudah bagi Gadis Pantai. Bahkan, Gadis Pantai merasa dicabut dari hakikatnya sebagai manusia demi status barunya.
Gadis Pantai sebenarnya menggambarkan keadaan sosial asyarakat feodal yang mempertahankan perbedaan kelas sosial. Dalam masyarakat Jawa, kelas priyayi/bangsawan yang menganggap dirinya sebagai keturunan dewa sangat merendahkan kelas rakyat kecil/wong cilik.
Bendoro sebagai tokoh priyayi ketika menikahi Gadis Pantai tidak duduk bersanding dengan mempelai wanita. Kehadirannya diwakili oleh sebilah keris. Bahkan, dalam novel tersebut tidak digambarkan adanya prosesi akad nikah sebagaimana layaknya pernikahan dua orang mempelai. Karena keris itu dianggap telah membawa mandat dari Bendoro, sejak itu Bendoro sudah merasa menikahi Gadis Pantai. Kehadiran keris itu pun mau tak mau dianggap oleh keluarga Gadis Pantai sebagai wakil Bendoro dan sejak saat itu Gadis Pantai harus mengakui bahwa dirinya telah diperistri oleh Bendoro.
Pada akhir cerita, Gadis Pantai dicerai oleh Benodoro setelah melahirkan anak perempuan. Anak itu diambil paksa oleh Bendoro karena menurutnya status sosial anak tersebut lebih tinggi daripada ibunya, si Gadis Pantai. Karena Gadis Pantai telah dicerai, statusnya tidak lagi sebagai bangsawan atau golongan priyayi. Dia kembali menjadi rakyat kecil. Seorang bangsawan atau golongan priyayi dalam masyarakat Jawa dianggap tidak layak hidup bersama dengan rakyat kecil.
2.4 Midah si Manis Bergigi Emas
Midah adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang terpandang dan beragama. Ayahnya adalah Hadji Abdul, seorang yang taat bragama, fanatik terhadap musik-musik berbau Arab. Sewaktu kecil kehidupan Midah dapat dikatan sangat emnyenangkan. Ia acapkali dimanja oleh orang tuanya, karena ia adalah anak tunggal. Situasi menjadi berubah ketika Midah mempunyai seorang adik, dan kembali memiliki adik yang terus bertambah. Perhatian orangtuanya terutama ayahnya mulai beralih sepenuhnya pada adik-adiknya. Mulai saat itu Midah merasa telah terkucil di rumahnya sendiri.
Karena tidak betah dengan situasi seperti itu, Midah mulai sering keluar rumah dan pulang pada sore hari bahkan malam hari. Tapi orang tuanya tetap bersikap tidak peduli. Situasi tidak berubah sama sekali, hal ini makin membuat Midah menjadi tambah betah bermain di jalanan. Akibat sering bermain itulah akhirnya Midah terpikat dnegan pengamen keliling, terutama pada lagu-lagu keorncong yang mereka bawakan. Lantas dibelinya beberapa lagu keroncong, namun ketika ayahnya mengetahuinya ia dihajar habis-habisan gara-gara mendengar lagu haram di rumah. Pengalaman tersebut membuatnya diam-diam membenci ayahnya. Hingga pada suatu hari ayahnya ingin menikahkannya dnegan laki-laki pilihannya ayahnya; berasal dari Cibatok, berharta, ta’at beragama. Setelah tiga bulan pernikahannya, Midah lari dari Suaminya, Haji Terbus setelah mengetahui bahwa laki-laki itu memiliki banyak istri, Midah pergi dengan membawa beban hamil.
Dalam pelariannya Midah terseret di tengah jalanan kota jakarta era 50-an. Ia memulai karir sebagai penyanyi jalanan, mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan lain, tak jarang karena kecantikannya banyak yang menggodanya, bahkan sempat hampir diperkosa. Setelah melewati beragam permasalahan yang cukup panjang. Ia memulai dari awal untuk menjadi seorang penyanyi namun di sisi lain dirinya harus membayar mahal semuanya itu. Midah, Si Manis Bergigi Emas telah berbicara tentang seorang perempuan yang secara sadar memilih kehidupan yang bebas berkaitan dengan seksualitas.
2.5 Ideologi dan Sosiologi Pengarang
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa tujuan analisis sosiologi sastra adalah memberikan penafsiran terhadap ideologi penciptanya. Pramoedya dalam tiga novelnya melalui karakter dan tokoh perempuannya hampir selalu menyuarakan kaum yang tertindas oleh praktek kolonialisme dan feodalisme. Di samping itu melalui Midah Pram pun memperlihatkan ketegangan antara jiwa seorang humanis dan moralis. Di satu sisi ia ingin menegaskan bahwa perempuan begitu kuatnya dalam menghadapi ganasnya kehidupan, permepuan yang tegar dan gentar menghadapi apapun. Namun di sisi lain ia pun ingin memeperlihatkan kebusukan para kaum moralis—lewat tokoh hadji Terbus dan Hadji Abdul—yang hanya rajin beribadah namun miskin akan rasa kemanusiaan.
Tema pemasungan kebebasan dan perlawanan atas ketertindasan menjadi dominan karena memang tidak jauh dari kehidupan Pram. Pram kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto. Akibat aktif dalam organisasi Lekra yang menjadi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI), Pram sering dituduh sebagai penganut komunisme. Tuduhan yang membawanya ke pengasingan di Pulau Buru dan pencekalan selama kekuasaan Orde Baru. Padahal, dalam pengakuannya, dirinya tidak pernah mempelajari ajaran Karl Marx tersebut.
Dalam karya-karyanya, Pram berupaya untuk membela orang-orang yang tertindas dan menyuarakan penderitaan mereka para perempuan.
Meskipun tokoh-tokoh perempuan dalam buku-buku karya Pramoedya dalam melawan ketertindasan jarang ada yang menang atau rata-rata kalah tetapi buku-buku tersebut menampilkan proses perlawanan yang luar biasa. Pramoedya seakan ingin mengatakan bagaimana proses melawan itu yang penting meskipun tidak menang, Pramoedya juga menempatkan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki pendapat sendiri dan mengapresiasi pikiran-pikiran perempuan.
BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Suatu kejadian merupakan problema sosial, hal tersebut belum tentu sepenuhnya mendapat perhatian dari masyarakat. Sebaliknya keajdian yang menjadi sorotan di masyarakat belum tentu menjadi suatu problematika sosial.
Kepincangan-kepincangan yang menjadi problematika sosial di masyarakat bergantung dari sistem nilau-nilai sosial masyarakat tersebut. Ada beberapa nilai yang dihadapi masyarakat pada umumnya, yaitu kemiskinan. Hal ini merupakan keadaan orang tidak sanggup untuk memelihara dirinya sendiri yang sesuai dengan taraf kehidupan kelompoknya, dan juga tidak mampu untuk memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. (Soekanto, 1987:349).
Masalah kemiskinan ini yang menajdi salahsatu penyebab sosial kedudukan para tokoh perempuan dalam tiga novel Pram ini mengalami perubahan sosial. Yang masing-masing ada yang sempat terangkat, namun akhirnya harus kembali terpuruk karena kalah oleh sebuah aturan sistem yang berlaku.
Tokoh perempuan yang muncul sebagai bentuk keberpihakan dalam gagasan Pram muncul menjadi objek yang punya pikiran sendiri-sendiri, sosok perempuan yang ditampilkan bukan cuma mempermanis tapi sosok perempuan yang independen dalam berpikir.
Pram menunculkan tokoh-tokoh seperti itu terispirasi dari kedekatannya dengan Ibu dan Neneknya.
|
PERSAMAAN
|
|
Hal yang disorot
|
Gadis Pantai
|
Nyai Ontosoroh
|
Midah
|
|
Asal mula
|
Daerah
|
Daerah
|
Daerah
|
|
Fisik
|
Menarik
|
Menarik
|
Menarik
|
|
Pernikahan
|
Bukan istri pertama
|
Bukan istri pertama
|
Bukan istri pertama
|
|
Anak dari pernikahan
|
1 orang perempuan
|
2 orang anak, Pr&laki-laki
|
1 orang anak laki-laki
|
|
Peran dalam cerita
|
Tokoh utama
|
Tokoh utama
|
Tokoh utama
|
|
PERBEDAAN
|
|
Hal yang disorot
|
Gadis Pantai
|
Nyai Ontosoroh
|
Midah
|
|
Latar belakang keluarga
|
Miskin, tidak berpendidikan
|
Miskin, berpendidikan
|
Terpandang, beragama, berpendidikan
|
|
Pendidikan
|
Rendah
|
Tinggi
|
Sedang
|
|
Suami
|
Pribumi, Priyayi
|
Belanda
|
Pribumi, Priyayi
|
|
Status Pernikahan
|
Cerai
|
Cerai
|
Tidak jelas
|
|
Hak atas anak
|
Dibawa suami
|
Dibawa pihak suami
|
Diasuh orang tua
|
Para tokoh perempuan tersebut (Nyai Ontosoroh, Gadis Pantai, dan Midah) masing-masing mengalami perubahan status sosial setelah menikah. Sanikem yang setelah menikah berganti nama menjadi Nyai Ontosoroh yang awalnya hanya anak seorang jurutulis yang miskin namun berpendidikan. Setelah menikah dengan Tuan Mellema lambat laun Nyai Ontosoroh mulai menjadi pribadi yang baru, lebih pandai, lebih berpendidikan, bahkan ia sendiri pun menyadari perubahan tersebut dan memiliki pergelutan dnegan pikirannya adakah ia masih seorang pribumi yang dulu atau tidak.
Ya, Ann Sanikem yang lama makin lama makin lenyap. Mama tumbuh jadi pribadi baru dengan pengelihatan dan pandangan baru. Rasanya aku bukan budak yang dijual di Tulangan beberapa tahun yang lalu. Rasanya aku takpunya masalalu lagi. Kadanga aku bertanya pada diri sendiri: adakah aku sudah menjadi wanita Belanda berkulit cokelat? Aku tak berani menjawab, sekalipun dapat kulihat betapa terkebelakangnya pribumi sekelilingku. Mama takpunya pergaulan banyak dnegan orang Eropa, kecuali dengan papamu.
Pernah aku tanyakan padanya, apa wanita eropa diajar sebagaimana aku diajar sekarang ini? Tahu kau jawabannya?
“kau lebih mampu daripada rata-rata mereka, apalagi yang Peranakan.” (Bumi Manusia:134)
Gadis Pantai merasa dirinya tidak dipandang tidak sederajat oleh suaminya. Gadis pantai mungkin melambangkan nasib perempuan Indonesia yang masih belum memperoleh derajat kemanusiaannya. Dalam novel ini kedudukan kaum perempuan masih dipandang lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan kedudukan laki-laki. Perempuan acapkali dipandang tidak memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu. Ia hanya diposisikan sebagai orang yang hanya bisa bergerak dalam posisi privat, tidak sampai pada ruang publik.
Refleksi pendegradasian terhadap kaum perempuan dapat disimak dari kisah tokoh Mbok yang mengatakan bahwa perempuan di kota menjadi milik laki-laki. Perempuan tidak pernah memiliki dirinya sendiri, sehingga oleh laki-laki ia tidak berhak menjadi dirinya sendiri.
Gadis Pantai direndahkan derajat keamnusiaannya denagn penghinaan, meskipun ia telah diangkat menjadi istri Bendoro, namun eksistensinya sebagai seorang “Gadis pantai” tetap diungkit.
Dibandingkan dengan tokoh lainnya usia pernikahan Midah dapat dikatakan yang paling muda, saat ia mengandung tiga bulan dirinya sudah tidak kuta lagi untuk menanggung segalanya, apalagi setelah ia mengetahui bahwa suaminya memiliki banyak istri yang tersebar di seluruh wilayah Cibatok. Tidak banyak hal yang diungkap setelah Midah menikah, bagaimana peran suami terhadapnya semuanya terangkum dalam paragraf berikut:
Di tangan lelaki ini Midah tak ubahnya dengan sejumput tembakau. Ia bisa dipilin pendek dipilin panjang—dipilin dalam berbagai bentuk.
Terlihat bagaimana Hadji Terbus memeprlakukan Midah sebagai istrinya, memperlakukan seenak hati, dan nampaknya Midah tidak memiliki suatu keberanian untuk mengelak dari perlakuan yang demikian.
Masing-masing tokoh walau pada awalnya menolak denagn pernikahan yang cenderung dipaksakan, namun mereka dapat mencoba untuk menjalani semuanya. Rata-rata bertahannya mereka dalam pernikahan sampai memiliki anak. Namun berbeda dengan yang lainnya Midah meninggalkan suaminya dalam keadaan masih mengandung, sedangkan gadis Pantai akhirnya diceraikan oleh suaminya setelah melahirkan seorang anak perempuan, dan tragisnya anaknya dibawa oelh suaminya. Nyai Ontosoroh harus rela melepas anak-anaknya akrena hak atas anak memang tidak ia miliki karena ia hanaylah seorang pribumi walau derajatnya sebagai seorang Nyai yang telah menikah dengan seorang warga belanda asli tidak dapat dipergunakan.
Disinilah bentuk kekalahan yang masing-msing dialami oleh para tokoh perempuan tersebut, kekalahan dari segala perjuangan yang telah diupayakan. Terlihatlah bagaimana Pram menggambarkan perempuan sebagai orang yang tertindas sehingga transformasi dari korban jadi pejuang dia paparkan dalam karya-karyanya tersebut. Pejuang yang tidak sepenuhnya kalah dalam makna sebenarnya.
BAB IV
PENUTUP
Simpulan
Peran tokoh perempuan dalam tiga novel Pramoedya menduduki peran sentral yang masing-masing memengaruhi kemana alur cerita ini akan dibawa.
Ada alasan kuat mengapa Pram cenderung lebih kuat dalam penggambaran dan pengisahan tokoh perempuan dalam karyanya, pertama karena faktor kedekatannya dengan Ibu dan neneknya, sosok perempuan dalam hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Kutha Ratna, Nyoman.2006. Teori, Metode, sdan teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soekanto, Soerjono. 1987. Sosiologi Suatu pengantar. Jakarta:Rajawali Pers.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005.Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ananta Toer, Pramoedya. 2005. Bumi Manusia. Jakarta:Lentera Dipantara
____________, 2003, Gadis pantai. Jakarta: Lentera Dipantara.
____________, 2003, Midah Simanis Bergigi Emas. Jakarta:Lentera Dipantara.
Fudzail.1995.”Bumi Manusia”, dalam Kertas Kerja Untuk Kongres Bahasa Melayu Sedunia 1995. (www.google.com).Kuala Lumpur.
Swastika Alia.2002. Perempuan dalam Sastra Indonesia:Perjalanan dari Obyek ke Subyek. Yogyakarta.
Kurniawan, Eka.2008. Tetralogi Buru dan Novel Modern.(tetralogi-buru-dan-novel-modern-178.php.htm/Eka Kurniawan Project)
Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’Artikel ini pernah dimuat di majalah Tempo, Edisi Khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008: “Indonesia yang Kuimpikan, 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri”, 19-25 Mei 2008
Nugroho, Wahid.2008. Bumi Manusia : Sebuah Testimoni. ( http:www/bumi-manusia-sebuah-testimoni.html) Sulawesi Tengah, Indonesia.
Antara .2007.Perempuan-Perempuan Perkasa Pramudya Ananta Toer.(http:www/ANTARA/Perempuan-perempuan Perkasa Pramudya AnantaToer.htm).Jakarta
Hartyanto, R. A. Konfrontasi Budaya Novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer.(http:www/konfrontasi-budaya-novel-bumi-manusia.html)