Wanita itu menangis lagi di tengah hening malam, disaat bulan tlah lama kembali ke peraduan, jangkrik pun tlah bosan dengan suaranya karena bersenandung sendiri, laba-laba pun sudah tak iseng bergelantung diantara daun dan ranting tuk membuat jaring. Hari ini ia meneguhkan hati tuk melakukan semuanya, ia tlah menemukan orang yang dicarinya selama ini, orang yang telah melahirkan duka panjang sepanjang sisa hidupnya dalam kesendirian. Ia menjadi sendiri karena sebuah duka yang tak teraba hadirnya pada suatu petang. Ia tak menyiapkan apa-apa, tak ada rencana matang seperti yang dilakukan para pasukan militer ketika berperang, tak ada apapun. Hanya ada satu alasan kuat yang ia pegang, karena orang itu penyebab duka pada suatu petang. Alasan itu ada dalam genggamannya, ia dapatkan akhirnya. Ia ingat saat itu hujan deras adalah hal yang paling kuat terekam pada otaknya, pada batinnya. Hujan deras yang menemaninya bersenandung kecil menyiapkan sebuah makan malam sederhana, hanya untuk berdua. Ada sesuatu yang berkilat terlihat selintas, tersimpan dibalik tas tangannya, ia hanya membawa sebuah perhiasaan terakhir yang ia pegang saat kabar duka itu sampai di telinganya, saat hujan deras di suatu petang.
Malam semakin meyakinkan eksistensinya waktu ini. Senja telah lama pulang, dan dingin semakin menggerayangi kulit bagi mereka yang belum lelap dalam gelap, angin semakin menggemerutukkan tulang yang malas berbalut daging tebal. Seorang lelaki dengan sok kuatnya bertahan duduk di dalam sebuah ruang yang terbentang. Duduk diantara susunan kursi-kursi yang meninggalkan kesan bahwa belum lama telah terisi. Ruang ini belum lama ramai, namun tak lama menjadi sepi. Ruang ini belum lama begitu riuh dan padat oleh lengking suara dan tepuk tangan, namun tak lama kembali kosong.
Panggung itu kini telah kosong…
Padahal tadi dengan seksama Danar melihatnya di atas sana, menari, bermain peran dengan cantiknya, menjadi seorang bidadari yang sepi, menyendiri di dunianya.
Dan panggung ini kini kembali menjadi sebuah ruang kosong, kosong melompong. Danar merasa dirinya pun turut kosong, jiwanya menjadi tak penuh kala sosok yang dicari tlah hilang. Aku tak bisa kendalikan apa-apa lagi bisiknya lirih, dan bangku panjang disana pun kosong.
Kecewa tlah berkecamuk dalam dadanya, kecewa ia yang dinanti tak kunjung hadir, menampakkan sedikit bayang dihadapannya, barang sedikit. Apakah bayangnya pun turut ikut enggan? Pikirnya terus melayang, mengambang, akhirnya jatuh tanpa pegangan. Danar terpekur diam. Matanya kembali memandang selembar kertas, terlihat jelas sosok perempuan dengan sebuah senyum tipis, senyum yang abadi. Adakah senyum ini dulu memang tulus? Pikirnya, kali ini benaknya mulai berspekulasi.
”aku akan memberimu kesempatan pabila suatu saat kau dapat menemukanku, dan disaat kau hadir dan ku mau temuimu, tak perlu lagi aku menjawab dengan kata, kau sudah tau jawabanku, begitupun sebaliknya, deal?”. percakapan terakhir antara keduanya pada suatu petang.
Dan rasanya kini, Danar pun tlah mendapat jawaban yang selama ini ia tunggu, ia cari.
Danar menyerah, lelaki itu merasa telah kalah dan payah. Satpam yang sedari tadi menunggunya kesal untuk keluar akhirnya tersenyum mengembang, walau kekesalan masih terlihat dari sorot matanya, mata tak kan pernah bisa berbohong.
Dan nyatanya seseorang memperhatikannya sedari tadi, disana dibalik tirai, di belakang panggung. Matanya sayu memandang tak jemu dengan segala pedih dan luka yang sulit terpeta. Gadis itu ada, dia disana, Danar! Ah andaikan ia sadar dan mau mencari, padahal kenapa kau tak berusaha sedikit untuk berlari ke belakang panggung usai pementasan tadi, berlari mengejar bayangannya yang paling akhir terlihat sebelum habis terseret diri yang diikuti lampu yang temaram. Tapi nyatanya gadis itu pun tak menghampiri, itu sudah merupakan tanda-tanda.
Gadis itu, akhirnya turut menyerah pada egonya, ia tak teruskan reaksi matanya tuk memandang sosok yang berjarak beberapa meter di hadapannya. Ia akhirnya pamit pergi, pamit pada panggung yang baru saja menjadi medan pentas eksistensi dirinya sebagai seorang penari, hingar bingar suara masih terekam jelas, beragam pujian yang mengalir untuknya rasanya cukup membuatnya basah dan gerah, yang jelas ia sama sekali tak menyangka, penampilan perdananya di atas pentas besar ini akan mendapat pujian seperti itu. Ia tlah peroleh mimpinya. Ia berkemas, bersiap meninggalkan gedung megah ini, sambil menatap siluet punggung yang tersisa di luar sana, lewat jendela.
”Aku akan pergi,” dan gurat bibir yang menggigil itu menjelaskannya dengan pasti. Ketegasan itu begitu jelas, segala ketegangan yang tampak dari wajahnya seakan menahan sesuatu tuk tak jatuh pada waktu yang tak tepat seperti sekarang ini. Saat airmata sudah tak bisa lagi terbendung tuk mengalir tak pasti, karena dada telah sesak mendesak akan meledak seperti gunung. Namun ia berhasil menahan semuanya itu, tuk tak jatuh di waktu yang tak tepat seperti saat itu, petang itu.
Mereka berusaha untuk saling menahan diri tengah hujan yang turun deras, sesungguhnya si lelaki sudah tak tega melihat wajah pias perempuan dihadapannya, Namun ia cukup tahu sebesar apa ego yang dimiliki sosok dihadapannya itu. ”pergilah”, dan akhirnya kata-kata itu yang terlontar dari bibir si lelaki, sambil menahan getar sebuah kombinasi dari rasa dingin dan ketegaran serta keberanian untuk melepaskan.
”terima kasih, kata-katamu itu turut membebaskan aku, aku pamit…”. tanpa menunggu lama lagi perempuan itu akhirnya pergi, pergi tanpa mau kembali menoleh untuk melihat sosok dengan raut wajah yang sudah sulit tuk ungkap rasanya.
Siapa sangka sebuah potret mampu membawa Silla kembali pada saat seperti itu? Kembali menarik dirinya pada deras hujan yang secara langsung menembakinya dengan rentetan peluru air tiada henti, tak hanya padanya juga pada Ranu. Deras hujan yang membiaskan kata-kata satu sama lain sehingga mereka harus bersusah payah meninggikan volume suara agar masing-masing dapat saling menangkap makna kata, dan mata pun ikut bicara.
Pernahkah pada suatu hari kau melihat hujan turun, dan ia lupa untuk memberi kesejukkan disela kedatangannya itu?
Itulah yang terjadi saat itu, tak ada makna sejuk dikala hujan turun karena keduanya terlampau panas oleh suasana yang mereka ciptakan sendiri.
Silla, kembali terlena oleh scene lampaunya, slide-slide masa lalu mulai hadir memenuhi benak dan tanpa sadar, apa yang seharusnya jatuh, yang ia tahan agar tak jatuh diwaktu yang menurutnya tak tepat waktu itu, akhirnya rapuh juga. Silla, hanya bisa meraba wajah itu, menelusuri lekuk wajah yang sama terasa datarnya, karena itu hanya hasil rekam kamera yang tercetak. Semuanya telah berlalu selama sepuluh musim untuk dua musim yang dilalui negeri ini setiap tahunnya.
Ada penyesalan selama itu, penyesalan akibat kerasnya sifat. Sesungguhnya pisah yang di ungkap adalah pisah karena ego, karena diri tak mau menerima salah dari diri lain, padahal itu harus dapat dimaklumi oleh manusia.
Pasalnya kesalahan memang bukan merupakan hal yang makroskopis, kasatmata, ya walaupun tidak tapi dapat dirasa. Silla ingat kata terakhir yang lelaki itu, ”pergilah”, kata itu keluar tanpa emosi namun sarat makna, begitu datar namun berat. Silla langsung pergi tanpa mau lagi berpaling, ia teguh pada langkahnya.
Bus sudah ada dihadapannya, Silla menaikinya dengan setengah sadar, dan setengah diri masih ada dalam lamunan masa silam. Suara dentum tabrakan mengembalikannya pada dunianya kini, suara itu yang membuatnya menoleh ke belakang, melalui kaca bus yang perlahan tlah maju ia melihat lelaki itu telah terkapar, dengan jarak yang cukup dekat dengan keberadaannya tadi, tempat ia duduk sendiri di bangku halte menunggu bis terakhir, sebuah halte dekat sebuah gedung pertunjukan, dekat sebuah taman, taman yang sama, beberapa musim lalu.
Seseorang telah menjadi korban tabrak lari malam itu, di tengah larut, telah jatuh seorang korban yang telah menerima total derita, derita menanti, derita mencari, mendapat jawab tak seirama, lalu pergi, tak lama kemudian ia mati.
Seorang perempuan berlari, menyusulnya, bukan tangis lagi yang keluar dari kedua matanya. Lampu jalan masih bisa memberi terang yang jelas, perempuan itu yang tadi Silla tonton penampilannya di atas panggung, perempuan yang menari sepenuh hati, dan itu terlihat dari sinar matanya, karena mata tak pernah berbohong.
Perempuan itu meraung, menarik tubuh yang sudah tak bernyawa, membiarkan darah-darah itu menempel pada bajunya dan sebagian kulit putihnya.
Silla kembali ditarik masa lalu, di tempat yang sama ia sempat alami hal seperti itu, posisinya persis seperti perempuan itu. Tapi entah, apakah kisahnya sama seperti itu? Apakah ego yang melatari semuanya itu?
Bahasa seperti apa yang mampu menggambarkan keberadaanmu yang jauh dari sudut pantauku kini?penyesalan…dan sekarang Kau begitu jauh, pesan kepergianmu waktu itu sungguh tak ada yang dapat aku tangkap maknanya sedikitpun. Semua sudah lama berlalu, kisah kita hanya tinggal cerita, dan cerita kita akankah nanti menjadi pedoman dalam buku-buku pelajaran bagi anak-anak sekolah? Pelajaran untuk bisa berpikir lebih dewasa, untuk mau menerima, dan rela…Setidaknya pelajaran bagi anak-anak kita? Anakku saja mungkin, nyata kau sudah tak ada, atau mungkin tak juga aku, jadi bukan anak-anak kita. Ranu, aku siap dengan keberadaan maupun ketiadaanmu…atau mungkin aku siap tuk menyusulmu, disana.
Silla, entah mendapat firasat atau apa, seketika bersedia untuk mati menyergap pikirannya. Nyatanya jauh disana, di dekat kosannya, seorang wanita telah siap untuk merenggut nyawanya.
Puteraku, Ibu akan menyusulmu sebentar lagi, setelah semua dendam mampu ibu hapuskan….
Dan wanita itu masih sabar menunggu penghuni rumah yang ia kunjungi malam ini pulang.
Jatinangor, 2008



