Negriku kini sedang ramai-ramainya…warna-warni berseliberan dilangit biru yang kadang masih suka mendung, negeri ini sedang krisis, namun manisnya masih sempat memepersiapkan pesta besar untuk siapa dan apa? Saya taktahu….

Negriku ini banyak yang suka, ibaratnya biduan jelita yang dinanti banyak pria, tubuh sempurna dan wajah molek tanpa riasan berlebih, setiap lekuk adalah keindahan dan kekayaan…

Namanya juga laksana wanita, sedikit terlena…lupalah ia….

Kemarin negeriku baru saja berpesta, Saya dipanggil pulang, lantas saya pulang, ke rumahku

Di tanah kelahiranku, pesta negeri ini pun sampai…

Akhirnya saya pulang juga, mumpung libur, mumpung lagi Pemilu, tapi saya pulang bukan untuk itu…

Saya jadi ingat kemarin siang, 11.50, ibu saya bertanya, mau ke TPS gak?

Saya yang sedang asik mengetik sambil diselingi menonton film, hanya bilang entah, “gak tau bu, mau mungkin Cuma hadir, tapi…jam berapa sekarang?”

“sepuluh menit lagi jam dua belas!”

“emang kenapa?”

“TPS tutup jam segitu..”

“oh, ya udah gak usah berarti….”

Waaa…santai sekali jawaban yang saya berikan, dan saya lanjut menonton film….

Bukan kenapa2 juga c, bukan gak mau berpartisipasi juga, tapi ada hal lain yang membuat saya juga harus berpikir lebih dalam untuk ikut berperan dalam momen besar ini, memilih pemimpin…biar lebih bombastis “MEMILIH PEMIMPIN!”

Ini bukan permainan, saya setuju seperti apa yang Gita Gutawa bilang, memilih pemimpin pun seperti itu, bukan permainan…orang mungkin akan banyak memberi respon kurang baik terhadap sikap yang saya ambil, jujur saya GOLPUT, dan sebenarnya semenjak saya mendapatkan KTP 3 tahun silam, sejak itu pun saya sama sekali belum pernah menggunakan hak pilih yang saya miliki.

Hak pilih yang pernah saya gunakan hanya untyuk memilih ketua kelas, ketua angkatan, memilih pada dua kali pemilihan Presiden Mahasiswa di kampus…

Track record memilih yang masih sangat minim bukan?

Saya setuju dengan perkataan seorang wartawan yang saya kenal di Bandung, beliau bilang nasib bangsa ditentukan utamanya dari keridhoan Allah terhadap akidah dan akhlak seluruh elemen rakyatnya Memilih pemimpin hanya satu faktor…

Bayangkan saja kita harus memilih, dan pilihan kita sangat banyak, sedangkan pengalaman kita sebagai orang yang pernah duduk di bangku sekolah pun hanya dihadapkan untuk memilih satu dari maksimal lima pilihan yang tersedia

Pengalaman itu memang tidak bisa dijadikan alasan kita tidak mau memilih atau kami malas memilih karena pilihannya banyak, tapi…apa harus seperti ini caranya?

Memilih ratusan orang yang wajahnya terpampang dalam kertas ukuran A2, nenek saya saja sewaktu mencontreng kemarin menghabiskan waktu sekitar seperempat jam karena kebingungan dan kerepotan dengan ukuran kertas yang begitu lebar x panjang! Merepotkan!

Sudah semakin terbukti bahwa sistem yang begitu diagungkan dan dibanggakan ini begitu bobrok, sistem ini bobrok, karena dari awalnya pun memang sudah rusak…

Hampir pukul 12 teman saya mengirimkan pesan, intinya dia bilang dia baru saja menggambar bebas di TPS…see? Orang yang datang pun belum tentu memilih, sorenya ketika penghitungan sudah dimulai, banyak kertas suara di TPS dekat rumah saya ditulis dengan kata-kata yang mengungkapkan kepusingan masyarakat, contohnya ada beberapa kertas bertuliskan “LIEUR” dalam bahasa indonesia berarti pusing…o..la..la….

Cara memilih yang baru memberikan peluang cukup besar juga bagi masyarakat untuk berkreatifitas dengan pulpen dan kertas rupanya…untungnya saya tidak datang ke sana, karena kalau saya datang ke TPS palagi kalau diberi kertas dan pulpen tangan ini langsung gatal untuk bercoratcoret…

Saya tergabung dalam Garda Pemilu di kampus saya, mengikuti beberapa program pencerdasan pada mahasiswa dan masyarakat untuk peka dan peduli terhadap pemilu kali ini, namun nyatanya saya sendiri tidak tercerdaskan, bukan berarti saya jadi orang bermuka dua atau bagaimana, dari awal saya menyadari hal itu, saya masih belum punya pilihan, saya masih pusing dengan banyak pilihan, saya sudah bosan dengan partai2 itu walau saya baru 20 tahun…saya mengikuti kegiatan tadi puun untuk mengetahui bagaimana cara berpikir dan pandangan dari orang2 yang tergabung di dalam sini, naumn ternyata saya tidak terlalu mendapatkan banyak pemikiran baru dan berbeda, rata-rata sama walau yang beda masih tetap ada…kecenderungan terhadap partai ada yang sudah punya, walau tidak ditunjukan (baguslah, karena area kampus adalah area netral untuk hal seperti ini) tapi dari sikap dan perkataan kadang tertangkap kemana arahnya…tapi kembali pada tujuan awal saya bergabung, menambah jaringan, pengalaman dan teman.

Saya juga sadar saya telah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan kepemimpinan, kelegislatifan, kepemiluan…tapi dari semua materi dan pengalaman yang saya dapat itu semua mengerucut pada kecenderungan saya untuk GOLPUT smenetara ini, samapai memang pada akhirnya akan muncul pemimpin yang sesuai dengan kesesuaian hati saya (kadang menggunakan hati untuk menentukan pilihan cukup efektif)

Saya GOLPUT bukan berarti saya apatis, 2004 yang menang telak GOLPUT, bukankah itu bukti bahwa GOLPUT adalah sesuatu yang harus jadi perhatian besar, apatiskah ia, takpeduli, tak percaya, atas dasar idealis, administratif…dll…mungkin adalah beragam latarbelakang golput itu sendiri, tapi ayolah pelajari bagian ini, kenapa bisa terjadi!

ANALISIS KEBERPIHAKAN PRAMOEDYA TERHADAP TOKOH PEREMPUAN DALAM TIGA KARYANYA: SUATU PENDEKATAN SOSIOLOGIS
Diajukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah
Pengantar Sosiologi Sastra
Dosen Pembina
Kusman K.M.,S.U.
Indra Sarathan,S.S
Oleh
Aisha Shaidra
180110060005


Manusia selama hidupnya telah menjadi anggota dari masyarakat, dan tentunya telah memiliki beragam pengalaman dalam hubungan sosial serta bermasyarakat. Oleh karena itu penelitian terhadap manusia akan terus muncul tiada habisnya, karena manusia ketika sudah berada dalam konteks bermasyarakat akan memunculkan beragam permasalahan yang terus berkesinambungan. Beragam hal yang timbul dari kehidupan sosial masyarakat banyak menjadi sorotan, salah satunya menjadi sorotan untuk diangkat dalam karya sastra. Oleh karena itu tidak salah apabila muncul pernyataan bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan sosial.

Beberapa pengarang telah mengangkat kehidupan masyarakat menjadi tema utama dalam karyanya. Ketimpangan sosial, seperti masalah kemiskinan, masih kuatnya nilai feodalisme, partriarki di masyarakat, bobroknya nilai dan norma, menjadi masalah yang menarik untuk di sorot.

Realitas pada sastra merupakan suatu cara pandang penciptanya dalam melakukan pengingkaran atau pelurusan atas realitas sosial yang melingkupi kehidupannya. Dengan demikian, sastra merupakan potret sosial yang menyajikan kembali realitas masyarakat yang pernah terjadi dengan cara yang khas sesuai dengan penafsiran dan ideologi pengarangnya.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang satu ini sering kali melatarbelakangi ceritanya dengan paparan sejarah maupun pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisan awalnya banyak mengambil latar belakang masa sebelum Perang Dunia Kedua, terutama kehidupan di sekitar kota Blora tempat ia tinggal di masa kecil, serta masa-masa seputar revolusi kemerdekaan.

Selain latar belakang Pramoedya yang sering berkaitan dengan karya-karyanya, penulis juga menangkap bagaimana sosok Pramoedya memberi porsi besar pada tokoh perempuan hampir dalam setiap karyanya. Tokoh perempuan ini muncul nampak sebagai bentuk keberpihakan gagasan-gagasan Pram. Pramoedya juga menggambarkan perempuan sebagai orang yang tertindas sehingga transformasi dari korban jadi pejuang dia paparkan dalam karya-karyanya tersebut.

1.2 Pembatasan Masalah

Dalam pembuatan makalah ini penulis membatasi permasalahan yang akan diteliti, yaitu :

1) sejauh mana peran para tiga tokoh perempuan ini pada karya Pramoedya

2) bagaimana kesamaan dan juga perbedaan dari ketiga tokoh perempuan dalam tiga novel Pramoedya

3) apa yang melatarbelakangi Pramoedya menjadikan tiga tokoh perempuan tersebut menjadi tokoh utama pada masing-masing novel

1.3 Tujuan Penelitian

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberpihakan Pramoedya terhadap tokoh perempuan dalam tiga karyanya.

1.4 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam makalah ini adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan ilmu yang mempelajari komponen-komponen dalam dunia sastra serta hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat. Karya sastra sebagai cermin realitas, yang kebanyakan mengacu pada pengalaman pribadi atau lingkungan masyarakat pengarang. Oleh karena itu, sangatlah tepat metode ini dipakai sebagai acuan dalam makalah ini.

1.5 Sumber Data

data dalam penelitian ini bersumber dari (1) sumebr data primer yaitu teks Bumi Manusia (2005), Gadis Pantai (2007), dan Midah si manis Bergigi Emas (2005) karya Pramoedya Ananta Toer oleh Lentera Dipantara, (2) sumber data sekunder yaitu dokumen tertulis yang berupa teks yang membahas ketiga novel ini maupun tulisan lainnya yang berkaitan dengan penelitian.

1.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara:

1. Studi Pustaka. Membaca, mencatat dan memberikan tanda tentang kejadian atau tingkah laku yang sesuai dengan metode sosiologi sastra yang terdapat pada novel Bumi Manusia, Gadis Pantai, dan Midah si manis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer.

2. Memilih data yang terkait dengan konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin realitas sosial, dan fungsi sosial sastra yang diwujudkan dalam bentuk data yang berupa kutipan

3. Mengumpulkan beberapa informasi dari internet atau literatur-literatur yang mendukung variable penelitian yaitu mengenai peran tokoh perempuan dalam novel Pramoedya.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tema

Setiap karya fiksi tentunya mengandung makna dan memiliki tema. Untuk dapat memahami tema apa yang terkandung dalam sebuah karya tentunya pembaca harus dapat memahami dan menafsirkan segala unsur pembangun cerita yang terdapat dalam sebuah karya.

Tema (theme), menurut Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2005:67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Dengan kata lain tema menduduki peran penting dalam sebuah karya, karena tema merupakan landasan dari sebuah karya yang menjadi pondasi berkembangnya suatu cerita. Tema sebuah karya akan selalu berkaitan dengan makna kehidupan. Melalui karyanya itulah pengarang meanwarkan makna tertentu kehidupan. Pengarang mengajak pembaca untuk merasakan serta menghayati kehidupan tersebut dengan cara memandang permasalahan sebagaimana ia memandangnya (Nurgiyantoro, 2005).

Dalam karyanya Pram mencoba mengajak pembaca untuk melihat tokoh perempuan masing-masing pada zamannya. Bagaimana mereka menghadapi permasalahan, mencoba keluar dari kungkungan partriarki dan feodalisme yang membuat posisi mereka tersisihkan dalam golongan-golongan strata sosial, dan pada waktu itu orang biasa tidak punya hak apapun dan diperlakukan secara tidak manusiawi.tema semacam ini menurut Shipley dalam Nurgiyantoro, termasuk dalam tema tingkat sosial, man as socious. Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat aksi-interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan alam., mengandung banyak permasalahan dan konflik, dan lain-lain yang menjadi objek pencarian tema.

Masalah-masalah sosial itu antara lain berupa masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta, propaganda, hubungan atasan-bawahan, dan berbagai masalah dan hubungan sosial lainnya yang biasa muncul dalam karya yang berisi kritik sosial.

2.2 Aspek Pendekatan Sosiologis

Pendekatan sosiologis menganggap karya sastra sebagai milik masyarakat. Pendekatan ini sepanjang sejarahnya di dunia barat selalu menduduki posisi penting. Menurut Kutha Ratna (2006:60), Dasar pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh : a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, b) pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat, dan d) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat, dengan demikian perlu diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut:

1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat.

2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, meyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat.

3. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalsah kemasyarakatan.

4. Berbeda dnegan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.

5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.

BAB II

GAMBARAN UMUM PENGARANG DAN KARYANYA

2.1 Tentang Pramoedya

Pramoedya lahir pada 6 Februari 1925. Ayah Pram adalah seorang guru nasionalis kiri, sedangkan ibunya berasal dari keluarga ningrat. Dalam suasana yang feodal, ibunya tidak pernah melakukan pekerjaan rumahnya sendirian, karena selalu dilayani pembantu. Namun, karena pengaruh pemikiran sang ayah, ibu Pram akhirnya berubah dan mau mengerjakan semuanya sendirian.

Perempuan, terutama ibu dan neneknya menjadi inspirasi Pram dalam menelurkan karya-karyanya. Sebut saja tokoh Nyai Ontosoroh, si perempuan kuat dalam “tetralogi Buru”. Demikian pula dengan tokoh gadis pantai yang merupakan prototipe dari neneknya, ibu dari ibu kandungnya. Selain itu, perempuan yang juga telah menginspirasinya adalah Kartini yang dia nilai sebagai sosok perempuan mandiri.

Pendidikan :

SD Blora, Radio Volkschool Surabaya (1940-41), Taman Dewasa/ Taman Siswa (1942-43), Sekolah Stenografi (1944-45), dan Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945).

Karier :

Juru ketik Kantor Berita Jepang Domei (1942-45), Letnan dua dalam Resimen 6 Divisi Siliwangi (1946), Redaktur Balai Pustaka (1950-51), pimpinan Literary & Features Agency Duta (1951-54), Redaktur bagian penerbitan “ The Voive of Free Indonesia” (1954), Anggota pimpinan Pusat Lekra (1958), Ketua Delegasi Indonesia dalam Komperensi Pengarang Asia Afrika di Tashkent, Uni Sovyet (1958), Anggota Dewan Ketua Komite Perdamaian Indonesia (1959), Redaktur Lentera”(1962-65), Dosen Fakultas Sastra Universitas Res Publica, Jakarta, Dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai, Jakarta.

Karya Novel :

Perburuan (1950),Bumi dan Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Arus Balik,dan Arok Dedes.Kranji Bekasi Jatuh (1947), Keluarga Gerilya, Percikan Revolusi (1950) ,Mereka yang dilumpuhkan, Bukan Pasar Malam, Di Tepi Kali Bekasi, Dia yang Menyerah (1951), Gulat di Jakarta (1953), Midah si Manis Bergigi Emas, Korupsi (1954), Calon arang (1957), Hoakiau di Indonesia (1959), Panggil Aku Kartini Saja (1962), Bumi Manusia, edisi Inggris Anak Semua Bangsa (1980),Tempo Doeloe (1982), Jejak Langkah, Sang Pemula (1985), Gadis Pantai, Rumah Kaca (1987).

Penghargaan :

Hadiah Pertama Sayembara yang diadakan oleh Balai Pustaka (1949), Mendapat Hadiah Sastra Yamin (1964).

Sebagai penulis Pramoedya menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutak-atik bahasa.

Pramoedya mulai menulis sejak ia duduk di Sekolah Rakyat. Bakat ini ia warisi dari ayahnya, Toer, bekas guru dan aktivis PNI cabang Blora. Karya pertamanya, Kemana, muncul di majalah Pancaraya tahun 1947. Saat itu ia masih tercatat sebagai murid di Taman Siswa. Di tahun yang sama, terbit novelnya, Kranji Bekasi Jatuh dan Sepuluh Kepala Nica.

Ia tergolong penulis yang serius mempersiapkan diri sebelum berkarya. Ia adalah sosok pendokumentasi data yang baik, dan mampu membungkus data-data yang akurat dengan alur cerita yang memukau dan gaya bahasa yang orisinil. Itulah sebabnya banyak pihak menilai karya-karya memiliki standar mutu literer yang tinggi. Berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri telah membuktikannya. Pramoedya menerima Freedom-to-write Award dari PEN American Center (1989), The Fund for free Expression Award (1990), Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award dari Filipina (31 Agustus 1995). Banyak novelnya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing.

Pengalaman hidupnya seolah ditakdirkan dramatis. Pram pernah jadi pihak yang menekan saat Lekra berjaya. Lantas tersuruk jadi tahanan politik selama 14 tahun 2 bulan tanpa pengadilan disusul status tahanan rumah. Ia sempat ditahan di penjara Salemba, kemudian dipindahkan ke Nusakambangan. Pada tanggal 16 Agustus 1969, Pramoedya memulai hari-hari pembuangannya yang terentang hingga 10 tahun di Pulau Buru, sebuah pulau di bagian selatan Maluku. Bersama ribuan tahanan politik lainnya, ia menebang kayu, membuka lahan, berternak ayam, dan dilarang menulis. Izin untuk menulis baru ia terima empat tahun kemudian, dan dari sanalah ia menulis beberapa karya penting, di antaranya empat serangkai novel yang kemudian lebih banyak dikenal sebagai Karya Buru, mengacu ke tempat novel-novel itu ditulis dan pengarangnya ditahan. Juga menyaksikan dengan sesak karya dan harta literaturnya dibakar militer, pun pelarangan terhadap tulisan-tulisannya.

Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia

Nyai Ontosoroh adalah seorang wanita pribumi yang bernama asli Sanikem, perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Oleh Mellema, ia diajari baca tulis, juga bahasa Belanda. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan menolak untuk menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman. Hingga ketika mendekati akhir hidupnya, Mellema menjadi pecundang besar. Ia sibuk bermabukan dan bermain-main di rumah bordil. Sebaliknya, Sanikem telah bermetamorfosis menjadi Nyai Ontosoroh. Tidak hanya bisa baca tulis dan berbahasa Belanda tanpa cela, ia bahkan memimpin perusahaan keluarga. Menjadi ibu tunggal bagi Robert dan Annelies Mellema. Juga bisa bersolek dengan necis layaknya priyayi, meski darah biru tak pernah mengalir dalam tubuhnya.

Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Annelis. Bahkan ia adalah sang ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan.

Oleh Pramoedya tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi sebagai seorang yang telah mendapat pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu. Sisi feminis dalam novel ini pun muncul dan ditonjolkan dalam sudut pandang Nyai Ontosoroh sendiri, yang dalam cerita itu, bukanlah nyai biasa. Bukanlah gundik biasa. Zaman itu, Nyai (baca: gundik) identik dengan kebobrokan moral dan kebodohan. Sehingga jika ada seorang wanita Pribumi mendapatkan predikat Nyai, sudah dipastikan, masyarakat akan mencap jelek wanita itu. Tapi ternyata, Nyai Ontosoroh adalah Nyai yang berbeda dengan Nyai kebanyakan. Ia mampu membaca dan berbahasa Belanda dengan sangat baik. Sebuah hal yang hampir mustahil terjadi di masa itu. Itulah yang menarik Minke untuk bergaul dengan Nyai Ontosoroh walaupun ramai orang membicarakan mereka.

Akan tetapi, di tengah segala perjuangannya pada akhirnya Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Namun, bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: “Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!”

2.3 Gadis Pantai

Berkisah tentang seorang gadis dari perkampungan nelayan pesisir Jepara yang dinikahi oleh seorang bendoro. Pernikahan tersebut mengubah kehidupan Gadis Pantai tak lagi menjadi warga nelayan. Statusnya meningkat menjadi wanita bangsawan. Namun, perubahan status tersebut tidak membawa kebahagiaan bagi Gadis Pantai. Gadis Pantai dipaksa berpisah dari keluarganya. Oleh keluarga sang Bendoro, bapak dan ibu Gadis Pantai dilarang berkunjung ke rumah Gadis Pantai karena dianggap berstatus lebih rendah. Bahkan, bapak dan ibu Gadis Pantai menyapa anaknya dengan sebutan Mas Nganten (gelar untuk wanita bangsawan, yang wajib digunakan rakyat kecil untuk menyapa golongan wanita bangsawan).

Perubahan status dari rakyat kecil menjadi bangsawan atau kelas sosial priyayi menuntut perubahan aspek lahiriah. Mulai dari bahasa yang digunakan sampai dengan pola hidup. Sejak perubahan status menjadi priyayi, Gadis Pantai dipaksa mengubah pola hidupnya. Hal ini bukan hal yang mudah bagi Gadis Pantai. Bahkan, Gadis Pantai merasa dicabut dari hakikatnya sebagai manusia demi status barunya.

Gadis Pantai sebenarnya menggambarkan keadaan sosial asyarakat feodal yang mempertahankan perbedaan kelas sosial. Dalam masyarakat Jawa, kelas priyayi/bangsawan yang menganggap dirinya sebagai keturunan dewa sangat merendahkan kelas rakyat kecil/wong cilik.

Bendoro sebagai tokoh priyayi ketika menikahi Gadis Pantai tidak duduk bersanding dengan mempelai wanita. Kehadirannya diwakili oleh sebilah keris. Bahkan, dalam novel tersebut tidak digambarkan adanya prosesi akad nikah sebagaimana layaknya pernikahan dua orang mempelai. Karena keris itu dianggap telah membawa mandat dari Bendoro, sejak itu Bendoro sudah merasa menikahi Gadis Pantai. Kehadiran keris itu pun mau tak mau dianggap oleh keluarga Gadis Pantai sebagai wakil Bendoro dan sejak saat itu Gadis Pantai harus mengakui bahwa dirinya telah diperistri oleh Bendoro.

Pada akhir cerita, Gadis Pantai dicerai oleh Benodoro setelah melahirkan anak perempuan. Anak itu diambil paksa oleh Bendoro karena menurutnya status sosial anak tersebut lebih tinggi daripada ibunya, si Gadis Pantai. Karena Gadis Pantai telah dicerai, statusnya tidak lagi sebagai bangsawan atau golongan priyayi. Dia kembali menjadi rakyat kecil. Seorang bangsawan atau golongan priyayi dalam masyarakat Jawa dianggap tidak layak hidup bersama dengan rakyat kecil.

2.4 Midah si Manis Bergigi Emas

Midah adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga yang terpandang dan beragama. Ayahnya adalah Hadji Abdul, seorang yang taat bragama, fanatik terhadap musik-musik berbau Arab. Sewaktu kecil kehidupan Midah dapat dikatan sangat emnyenangkan. Ia acapkali dimanja oleh orang tuanya, karena ia adalah anak tunggal. Situasi menjadi berubah ketika Midah mempunyai seorang adik, dan kembali memiliki adik yang terus bertambah. Perhatian orangtuanya terutama ayahnya mulai beralih sepenuhnya pada adik-adiknya. Mulai saat itu Midah merasa telah terkucil di rumahnya sendiri.

Karena tidak betah dengan situasi seperti itu, Midah mulai sering keluar rumah dan pulang pada sore hari bahkan malam hari. Tapi orang tuanya tetap bersikap tidak peduli. Situasi tidak berubah sama sekali, hal ini makin membuat Midah menjadi tambah betah bermain di jalanan. Akibat sering bermain itulah akhirnya Midah terpikat dnegan pengamen keliling, terutama pada lagu-lagu keorncong yang mereka bawakan. Lantas dibelinya beberapa lagu keroncong, namun ketika ayahnya mengetahuinya ia dihajar habis-habisan gara-gara mendengar lagu haram di rumah. Pengalaman tersebut membuatnya diam-diam membenci ayahnya. Hingga pada suatu hari ayahnya ingin menikahkannya dnegan laki-laki pilihannya ayahnya; berasal dari Cibatok, berharta, ta’at beragama. Setelah tiga bulan pernikahannya, Midah lari dari Suaminya, Haji Terbus setelah mengetahui bahwa laki-laki itu memiliki banyak istri, Midah pergi dengan membawa beban hamil.

Dalam pelariannya Midah terseret di tengah jalanan kota jakarta era 50-an. Ia memulai karir sebagai penyanyi jalanan, mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan lain, tak jarang karena kecantikannya banyak yang menggodanya, bahkan sempat hampir diperkosa. Setelah melewati beragam permasalahan yang cukup panjang. Ia memulai dari awal untuk menjadi seorang penyanyi namun di sisi lain dirinya harus membayar mahal semuanya itu. Midah, Si Manis Bergigi Emas telah berbicara tentang seorang perempuan yang secara sadar memilih kehidupan yang bebas berkaitan dengan seksualitas.

2.5 Ideologi dan Sosiologi Pengarang

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa tujuan analisis sosiologi sastra adalah memberikan penafsiran terhadap ideologi penciptanya. Pramoedya dalam tiga novelnya melalui karakter dan tokoh perempuannya hampir selalu menyuarakan kaum yang tertindas oleh praktek kolonialisme dan feodalisme. Di samping itu melalui Midah Pram pun memperlihatkan ketegangan antara jiwa seorang humanis dan moralis. Di satu sisi ia ingin menegaskan bahwa perempuan begitu kuatnya dalam menghadapi ganasnya kehidupan, permepuan yang tegar dan gentar menghadapi apapun. Namun di sisi lain ia pun ingin memeperlihatkan kebusukan para kaum moralis—lewat tokoh hadji Terbus dan Hadji Abdul—yang hanya rajin beribadah namun miskin akan rasa kemanusiaan.

Tema pemasungan kebebasan dan perlawanan atas ketertindasan menjadi dominan karena memang tidak jauh dari kehidupan Pram. Pram kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto. Akibat aktif dalam organisasi Lekra yang menjadi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI), Pram sering dituduh sebagai penganut komunisme. Tuduhan yang membawanya ke pengasingan di Pulau Buru dan pencekalan selama kekuasaan Orde Baru. Padahal, dalam pengakuannya, dirinya tidak pernah mempelajari ajaran Karl Marx tersebut.

Dalam karya-karyanya, Pram berupaya untuk membela orang-orang yang tertindas dan menyuarakan penderitaan mereka para perempuan.

Meskipun tokoh-tokoh perempuan dalam buku-buku karya Pramoedya dalam melawan ketertindasan jarang ada yang menang atau rata-rata kalah tetapi buku-buku tersebut menampilkan proses perlawanan yang luar biasa. Pramoedya seakan ingin mengatakan bagaimana proses melawan itu yang penting meskipun tidak menang, Pramoedya juga menempatkan tokoh-tokoh perempuan yang memiliki pendapat sendiri dan mengapresiasi pikiran-pikiran perempuan.

BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Suatu kejadian merupakan problema sosial, hal tersebut belum tentu sepenuhnya mendapat perhatian dari masyarakat. Sebaliknya keajdian yang menjadi sorotan di masyarakat belum tentu menjadi suatu problematika sosial.

Kepincangan-kepincangan yang menjadi problematika sosial di masyarakat bergantung dari sistem nilau-nilai sosial masyarakat tersebut. Ada beberapa nilai yang dihadapi masyarakat pada umumnya, yaitu kemiskinan. Hal ini merupakan keadaan orang tidak sanggup untuk memelihara dirinya sendiri yang sesuai dengan taraf kehidupan kelompoknya, dan juga tidak mampu untuk memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. (Soekanto, 1987:349).

Masalah kemiskinan ini yang menajdi salahsatu penyebab sosial kedudukan para tokoh perempuan dalam tiga novel Pram ini mengalami perubahan sosial. Yang masing-masing ada yang sempat terangkat, namun akhirnya harus kembali terpuruk karena kalah oleh sebuah aturan sistem yang berlaku.

Tokoh perempuan yang muncul sebagai bentuk keberpihakan dalam gagasan Pram muncul menjadi objek yang punya pikiran sendiri-sendiri, sosok perempuan yang ditampilkan bukan cuma mempermanis tapi sosok perempuan yang independen dalam berpikir.

Pram menunculkan tokoh-tokoh seperti itu terispirasi dari kedekatannya dengan Ibu dan Neneknya.

PERSAMAAN

Hal yang disorot

Gadis Pantai

Nyai Ontosoroh

Midah

Asal mula

Daerah

Daerah

Daerah

Fisik

Menarik

Menarik

Menarik

Pernikahan

Bukan istri pertama

Bukan istri pertama

Bukan istri pertama

Anak dari pernikahan

1 orang perempuan

2 orang anak, Pr&laki-laki

1 orang anak laki-laki

Peran dalam cerita

Tokoh utama

Tokoh utama

Tokoh utama

PERBEDAAN

Hal yang disorot

Gadis Pantai

Nyai Ontosoroh

Midah

Latar belakang keluarga

Miskin, tidak berpendidikan

Miskin, berpendidikan

Terpandang, beragama, berpendidikan

Pendidikan

Rendah

Tinggi

Sedang

Suami

Pribumi, Priyayi

Belanda

Pribumi, Priyayi

Status Pernikahan

Cerai

Cerai

Tidak jelas

Hak atas anak

Dibawa suami

Dibawa pihak suami

Diasuh orang tua

Para tokoh perempuan tersebut (Nyai Ontosoroh, Gadis Pantai, dan Midah) masing-masing mengalami perubahan status sosial setelah menikah. Sanikem yang setelah menikah berganti nama menjadi Nyai Ontosoroh yang awalnya hanya anak seorang jurutulis yang miskin namun berpendidikan. Setelah menikah dengan Tuan Mellema lambat laun Nyai Ontosoroh mulai menjadi pribadi yang baru, lebih pandai, lebih berpendidikan, bahkan ia sendiri pun menyadari perubahan tersebut dan memiliki pergelutan dnegan pikirannya adakah ia masih seorang pribumi yang dulu atau tidak.

Ya, Ann Sanikem yang lama makin lama makin lenyap. Mama tumbuh jadi pribadi baru dengan pengelihatan dan pandangan baru. Rasanya aku bukan budak yang dijual di Tulangan beberapa tahun yang lalu. Rasanya aku takpunya masalalu lagi. Kadanga aku bertanya pada diri sendiri: adakah aku sudah menjadi wanita Belanda berkulit cokelat? Aku tak berani menjawab, sekalipun dapat kulihat betapa terkebelakangnya pribumi sekelilingku. Mama takpunya pergaulan banyak dnegan orang Eropa, kecuali dengan papamu.

Pernah aku tanyakan padanya, apa wanita eropa diajar sebagaimana aku diajar sekarang ini? Tahu kau jawabannya?

“kau lebih mampu daripada rata-rata mereka, apalagi yang Peranakan.” (Bumi Manusia:134)

Gadis Pantai merasa dirinya tidak dipandang tidak sederajat oleh suaminya. Gadis pantai mungkin melambangkan nasib perempuan Indonesia yang masih belum memperoleh derajat kemanusiaannya. Dalam novel ini kedudukan kaum perempuan masih dipandang lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan kedudukan laki-laki. Perempuan acapkali dipandang tidak memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu. Ia hanya diposisikan sebagai orang yang hanya bisa bergerak dalam posisi privat, tidak sampai pada ruang publik.

Refleksi pendegradasian terhadap kaum perempuan dapat disimak dari kisah tokoh Mbok yang mengatakan bahwa perempuan di kota menjadi milik laki-laki. Perempuan tidak pernah memiliki dirinya sendiri, sehingga oleh laki-laki ia tidak berhak menjadi dirinya sendiri.

Gadis Pantai direndahkan derajat keamnusiaannya denagn penghinaan, meskipun ia telah diangkat menjadi istri Bendoro, namun eksistensinya sebagai seorang “Gadis pantai” tetap diungkit.

Dibandingkan dengan tokoh lainnya usia pernikahan Midah dapat dikatakan yang paling muda, saat ia mengandung tiga bulan dirinya sudah tidak kuta lagi untuk menanggung segalanya, apalagi setelah ia mengetahui bahwa suaminya memiliki banyak istri yang tersebar di seluruh wilayah Cibatok. Tidak banyak hal yang diungkap setelah Midah menikah, bagaimana peran suami terhadapnya semuanya terangkum dalam paragraf berikut:

Di tangan lelaki ini Midah tak ubahnya dengan sejumput tembakau. Ia bisa dipilin pendek dipilin panjang—dipilin dalam berbagai bentuk.

Terlihat bagaimana Hadji Terbus memeprlakukan Midah sebagai istrinya, memperlakukan seenak hati, dan nampaknya Midah tidak memiliki suatu keberanian untuk mengelak dari perlakuan yang demikian.

Masing-masing tokoh walau pada awalnya menolak denagn pernikahan yang cenderung dipaksakan, namun mereka dapat mencoba untuk menjalani semuanya. Rata-rata bertahannya mereka dalam pernikahan sampai memiliki anak. Namun berbeda dengan yang lainnya Midah meninggalkan suaminya dalam keadaan masih mengandung, sedangkan gadis Pantai akhirnya diceraikan oleh suaminya setelah melahirkan seorang anak perempuan, dan tragisnya anaknya dibawa oelh suaminya. Nyai Ontosoroh harus rela melepas anak-anaknya akrena hak atas anak memang tidak ia miliki karena ia hanaylah seorang pribumi walau derajatnya sebagai seorang Nyai yang telah menikah dengan seorang warga belanda asli tidak dapat dipergunakan.

Disinilah bentuk kekalahan yang masing-msing dialami oleh para tokoh perempuan tersebut, kekalahan dari segala perjuangan yang telah diupayakan. Terlihatlah bagaimana Pram menggambarkan perempuan sebagai orang yang tertindas sehingga transformasi dari korban jadi pejuang dia paparkan dalam karya-karyanya tersebut. Pejuang yang tidak sepenuhnya kalah dalam makna sebenarnya.

BAB IV

PENUTUP

Simpulan

Peran tokoh perempuan dalam tiga novel Pramoedya menduduki peran sentral yang masing-masing memengaruhi kemana alur cerita ini akan dibawa.

Ada alasan kuat mengapa Pram cenderung lebih kuat dalam penggambaran dan pengisahan tokoh perempuan dalam karyanya, pertama karena faktor kedekatannya dengan Ibu dan neneknya, sosok perempuan dalam hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA


Kutha Ratna, Nyoman.2006. Teori, Metode, sdan teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono. 1987. Sosiologi Suatu pengantar. Jakarta:Rajawali Pers.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005.Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ananta Toer, Pramoedya. 2005. Bumi Manusia. Jakarta:Lentera Dipantara

____________, 2003, Gadis pantai. Jakarta: Lentera Dipantara.

____________, 2003, Midah Simanis Bergigi Emas. Jakarta:Lentera Dipantara.

Fudzail.1995.”Bumi Manusia”, dalam Kertas Kerja Untuk Kongres Bahasa Melayu Sedunia 1995. (www.google.com).Kuala Lumpur.

Swastika Alia.2002. Perempuan dalam Sastra Indonesia:Perjalanan dari Obyek ke Subyek. Yogyakarta.

Kurniawan, Eka.2008. Tetralogi Buru dan Novel Modern.(tetralogi-buru-dan-novel-modern-178.php.htm/Eka Kurniawan Project)

Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’Artikel ini pernah dimuat di majalah Tempo, Edisi Khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008: “Indonesia yang Kuimpikan, 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri”, 19-25 Mei 2008

Nugroho, Wahid.2008. Bumi Manusia : Sebuah Testimoni. ( http:www/bumi-manusia-sebuah-testimoni.html) Sulawesi Tengah, Indonesia.

Antara .2007.Perempuan-Perempuan Perkasa Pramudya Ananta Toer.(http:www/ANTARA/Perempuan-perempuan Perkasa Pramudya AnantaToer.htm).Jakarta

Hartyanto, R. A. Konfrontasi Budaya Novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer.(http:www/konfrontasi-budaya-novel-bumi-manusia.html)

THE OLDMAN AND THE SEA DALAM DUA PENERJEMAHAN : MASALAH MEMAKNAI KATA

Membaca sebuah karya terjemahan bagi saya pribadi kadang bisa menjadi masalah kadang tidak. Pada dasarnya keberadaan sastra terjemahan cukup menolong kita yang ingin membaca sebuah karya sastra asing, namun memiliki keterbatasan dalam memahami bahasa untuk dapat mengerti isi dari suatu karya. Selanjutnya yang mungkin menjadi masalah adalah, apakah kita dapat menangkap apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh pengarang aslinya? Sedangkan yang kita baca bisa dikatakan membaca melalui tangan kedua.

Bukan berarti menafikan atau mencurigai si penerjemah tidak bisa menyampaikan maksud si pengarang saat ia menerjemahkan sebuah karya pada bahasa yang lain. Akan tetapi sebuah kendala adalah bedanya budaya yang ada apabila si penerjemah tidak begitu faham dengan beragam faktor yang mendukung lahirnya sebuah karya ini.

Sebuah simpulan kecil, penerjemah tidak hanya harus dapat memahami suatu bahasa secara kelengkapan struktur bahasa, makna, dan sebagainya tapi juga ia harus dapat menerima maksud yang pengarang ingin sampaikan, sehingga ketika ia menerjemahkan sebuah karya sastra, ia berangkat dari pemahamannya terhadap isi dan makna, sehingga ketika menerjemahkan ia pun tidak hanya bermain mengartikan kalimat-kalimat, namun ia pun bermain dengan kata-kata untuk dapat menyampaikan maksud yang sama dalam bahasa yang berbeda.

Sebuah karya terjemahan tidak dapat kita bandingkan dengan karya aslinya secara struktur maupun dari gaya bahasanya. Karena sebuah karya terjemahan merupakan wujud baru, kalau boleh dikatakan karya terjemahan adalah hasil pengkhianatan dengan kreatifitas. Makna pengkhianatan yang saya peroleh dari mata kuliah sastra bandingan yang saya ikuti minggu lalu, adalah sebuah tindakan seorang penerjemah dalam mengkhianati karya yang ia terjemahkan agar ia bisa menampung karya yang ia terjemahkan tepat ke dalam bahasa sasaran. Banyak karya sastra asing yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, apalagi apabila karya tersebut sudah menjadi sastra kanon atau merupakan sebuah masterpiece yang memang dirasa perlu untuk diterjemahkan dalam berbagai bahasa sebagai tanda layaknya sebuah karya untuk dikenal dan diketahui banyak orang di berbagai belahan dunia. The Old Man and The Sea merupakan sebuah masterpice­ yang diakui di dunia sastra karya Ernest Hemingway. Banyak ahli bahasa yang telah menerjemahkan karya ini, termasuk di Indonesia.

Ada dua terjemahan dari novel The Old Man and The Sea yang coba saya bandingkan, yaitu terjemahan Sapardi Djoko Damono dengan terjemahan karya Dian Vita Ellyati. Dari awal sudah nampak berbeda, bagaimana Sapardi dan Dian menyampaikan sebuah kalimat sesuai dengan gaya penerjemahan mereka.

Dalam terjemahan Sapardi kita dapat menemukan kalimat sebagai berikut :

Ia seorang lelaki tua yang sendiri saja dalam sebuah perahu menangkap ikan di Arus Teluk Meksiko dan kini sudah genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekor ikanpun. (Damono, 1975: 5)

Sedangkan Dian dengan gaya bahasanya sendiri menerjemahkan kalimat tersebut dalam bahasa sebagai berikut :

Adalah seorang lelaki tua yang pergi ke laut seorang diri dalam sebuah perahu di Arus Teluk Meksiko yang telah berlayar selama 84 hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun. (Ellyati, 2008: 3)

Memang secara umum apa yang mereka sampaikan sama saja, namun kita sebagai pembaca tentu dapat memilih mana yang lebih enak dibaca dan mana yang maknanya dapat langsung dirasakan. Bagaimana kita menggambarkan sosok lelaki tua yang sendiri saja dalam kalimat Sapardi dengan sosok lelaki tua yang pergi ke laut seorang diri dalam kalimatnya Dian. Bagaimana kita membaca genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekor ikanpun, dengan yang telah berlayar selama 84 hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun. Ihwal Sapardi memilih memaparkan sebuah hitungan hari dengan menulisnya dalam tiga suku kata dan Dian yang lebih memilih menuliskannya dalam bentuk angka, dari situ pun kita dapat merasakan mana yang lebih enak untuk kita baca dalam sebuah karya saat pengarang menjelaskan tentang sekian waktu yang telah dilewati seorang lelaki tua di laut, bagaimana kita sebagai pembaca dapat mencoba untuk ikut merasakan cukup lamanya waktu tersebut dilalui oleh seorang lelaki tua sendiri di lautan.

Berikutnya contoh perbandingan pemilihan kata lain yang juga berbeda dalam penerjemahan yang dilakukan oleh Sapardi dengan Dian yang menurut saya terasa cukup menimbulkan perbedaan yang signifikan bagi pembaca dalam memaknainya.

“ya,” kata anak itu. “ Mau kau kutraktir bir di teras dan sesudah itu kita bawa pulang perlengkapan ini?”

“kenapa tidak?” kata lelaki tua itu. “kita sama-sama nelayan.” (Damono, 1975: 6)

Perhatikan pula bagaimana Dian dengan penerjemahannya pada kalimat berikut :

“ya,” si bocah menjawab. ”Bolehkah aku menawarimu segelas bir di beranda dan kemudian kita akan membawa peralatan ke rumah.”

“ kenapa tidak?” lelaki tua itu berkata. “sebagai sesama lelaki.” (Ellyati, 2008: 4)

Bagaimana Sapardi lebih memilih kata anak yang mengacu pada tokoh Manolin, dan Dian memilih kata bocah untuk merujuk pada tokoh yang sama. Menurut KBBI anak memiliki makna sebagai keturunan yang kedua; manusia yang masih kecil sedangkan bocah sebagai anak (kecil); kanak-kanak. Secara umum makna keduanya tidak terlalu berbeda jauh, namun ketika telah digunakan dalam penjelasan akan terasa berbeda mengambarkan Manolin yang digambarkan masih dalam wujud seorang anak dan bocah, rasanya bocah lebih cenderung menggambarkan sosok anak kecil yang masih polos dan belum tahu banyak tentang apa-apa, masih lebih suka bermain dan sebagainya. Padahal Manolin tidak seperti itu juga, ia sudah mulai mengerti masalah berlayar, bisa diajak berbincang tentang kenelayanan, baseball, dan sudah mencoba bir pula. Lalu ketika Sapardi lebih memilih kata anak, selalnjutnya ia menggambarkan hubungan Manolin dengan Santiago yang lebih terasa keegaliterannya, mereka berdialog layaknya teman. Berbeda dengan Dian yang masih menunjukkan bahwa pertautan usia yang sangat jauh anatara Manolin dan santiago menimbulkan rasa sungkan dan tingkatan dari manolin kepada Santiago.

Selain itu pula pada kalimat terakhir yang diucapkan oleh Santiago pada Manolin,

Sapardi menggunakan kalimat berikut:

“kenapa tidak?” kata lelaki tua itu. “kita sama-sama nelayan.”

Berbeda dengan Dian yang lebih memilih menggunakan kalimat seperti di bawah ini:

“ kenapa tidak?” lelaki tua itu berkata. “sebagai sesama lelaki.”

Kita sama-sama nelayan dan sebagai sesama lelaki tentunya menimbulkan interpretasi yang berbeda, karena kedua kata tersebut nelayan dan lelaki adalah dua kata yang berbeda bentuk dan makna. Nelayan bisa saja lelaki bisa saja perempuan, tapi lelaki tidak semuanya nelayan. Rasa yang muncul ketika membaca kalimat sebagai sesama lelaki bagi saya pribadi adalah rasa yang lebih maskulin, rasa yang lebih menunjukkan kelelakian yang sebelumnya diterangkan pada tawaran Manolin kepada Santiago. Sedangkan ketika Sapardi menggunakan kita sama-sama nelayan, hal tersebut langsung menimbulkan kesan bahwa apa yang Manolin tawarkan adalah sebuah kegiatan atau hal yang lumrah bagi para nelayan. Selanjutnya hal tersebut kembali lagi pada penerimaan dan pemahaman pembaca. Mana yang dirasa lebih enak dan nyaman, serta maksud yang ingin disampaikan dapat lebih terasa langsung.

Hal-hal seperti inilah yang seperti saya sampaikan di awal menjadi masalah atau tidak ketika membaca karya terjemahan. Masalah memaknai dan memahami apa yang penerjemah coba sampaikan. Pemahaman merupakan sebuah penerimaan yang cermat atas kandungan yang dimaksud dari penyampaian suatu bahasa. Kadang penyampaian yang kurang baik akan menimbulkan resepsi yang kurang baik atau malah tidak tepat, sehingga pemahaman itu sendiri tidak dapat terjadi karena kemandegan bahasa penyampaian yang tidak sesuai.

ANTARA REALITAS DAN MIMPI DALAM

SELUAS LANGIT BIRU DAN SHOPAHOLIC TIES THE KNOT

To live hapily, “it’s every girl’s dream”

Masalah perempuan di Indonesia sesungguhnya begitu banyak membutuhkan perhatian. Sebut saja mulai dari masalah TKW, perdagangan perempuan dan anak, dan lain sebagainya. Akan tetapi pemberitaan mengenai hal tersebut dirasa kaku dan menyebabkan orang tidak terlalu peka terhadap permasalahan yang demikian. Untuk menceritakan hal-hal seperti itu rasanya tidak harus melulu melalui media pemberitaan. Kita dapat mengemasnya dalam bentuk lain, seperti dalam bentuk karya fiksi cerpen atau mungkin novel.

Sesungguhnya hingga saat ini banyak penulis perempuan yang telah mencoba menuliskan cerita mengenai permasalahan di sekitar perempuan juga. Akan tetapi, novel-novel yang ada khususnya yang menceritakan tentang perempuan, hanya bercerita seolah-olah perempuan tidak menghadapi permasalahan besar yang menyangkut dengan masalah-masalah yang pelik. Novel bergenre Chicklit merupakan salah satunya. Novel-novel chicklit merupakan novel yang memang menempatkan perempuan sebagai tokoh utama dengan beragam permasalahan yang pada dasarnya memang dihadapi oleh para perempuan itu sendiri. Rata-rata hanya bercerita tentang perempuan di tengah hal-hal kecil dan sepele.

Bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang terlahir di bawah naungan nama sebuah keluarga besar pemegang banyak perusahaan besar di negeri ini? Memiliki penampilan fisik sempurna, kecerdasan yang mengagumkan, serta memiliki saudara sepupu yang sedemikian banyaknya dengan beragam karakteristiknya. Itulah gambaran kecil mengenai salah satu tokoh utama dalam novel Seluas langit Biru karya penulis muda Sitta Karina. Adalah Bianca seorang perempuan yang cukup boyish, bercita-cita menjadi seorang jurnalis tiba-tiba dijodohkan oleh neneknya dengan Sultan Syahrizki seorang pewaris dan pemilik perusahaan Mata Cakra. Adapun tujuan perjodohan ini adalah untuk memperkuat ikatan antara dua perusahaan besar. Bianca yang modern pun takhabis pikir akan keputusan neneknya yang memilihnya menjadi “tumbal” untuk membantu menyelamatkan perusahaan milik kleuarga besar mereka. Selain dihadapkan dengan masalah perjodohan seperti ini, Bianca pun bertemu dengan Aozora lelaki slengean yang taklain adalah adiknya Sultan. Beragam masalah mulai muncul dan menghadapi Bianca, Sultan, Zora, dan beberapa orang di sekitar mereka. Zora yang selama ini selalu merasa menjadi bayang-bayang Sultan pun mulai menolak untuk mundur dari kakaknya ketika ia menyadari bahwa ia mencintai Bianca, dan Bianca pun menyadari hal itu, ia yang selama ini kuat ternyata tetap membutuhkan body guard, partner yang mengerti dirinya lebih dari siapapun.

Sedangkan dalam Shopaholic Ties The Knot terdapat Becky sang tokoh utama. Becky adalah seorang perempuan lajang, gila belanja, memiliki karir yang baik. Memiliki seorang Kekasih Luke yang merupakan seorang pengacara. Pada suatu hari Luke, memintanya untuk menikah dengannya, sebuah kebahagiaan baru bagi Becky namun juga mendatangkan beragam kerumitan menjelang pernikahannya tersebut karena orangtua dari kedua belah pihak pun mulai turut ambil bagian dalam rencana pernikahan mereka.

Bianca dan Becky, keduanya memiliki karakteristik yang jauh berbeda satu sama lain.

Kisah yang mereka jalani dan hadapi dalam novel ini pun tidak dapat dikatakan sama. Namun yang menjadi hal penting untuk digaris bawahi adalah masalah culture yang ada di dalam masing-masing novel ini. Bianca seorang warga negara Indonesia yang lahir ditengah lingkungan budaya keluarga yang tidak sepenuhnya timur dan terhitung begitu hedon karena limpangan harta dan jenis pergaulan kelas atas. Namun nyatanya masih menggunakan sistem perjodohan untuk menyatukan dua perusahaan besar. Bianca pun yang tak kuasa menolak akhirnya pasrah menerima. Ada sebuah alasan yang membuat Bi merasa terikat dan tidak bisa melepas semua ini begitu saja, yaitu keluarga. Mau bagaimana pun nama baik keluarga dan perusahaan keluarga Hanafiah lah yang akan menjadi taruhannya.

Kehidupan yang sudah terakulturasi dengan budaya barat tidak selamanya membuat orang bisa melepas tanggung jawabnya begitu saja dari keluarga. Lain hal dengan Becky, menjelang pernikahannya orangtua kedua belah pihak masing-masing mengajukan konsep pernikahan bagi keduanya dan sulit untuk diputuskan mana yang akan di pilih.

Dari bagian ini pun saya menangkap bahwa ternyata di luar negeri pun sebebas-bebasnya orang melakukan segala hal, sejauh apapun ia telah lepas dari keluarganya akan tetapi masih ada yang membuat mereka masih merasa terikat dengan keluarganya. Becky tinggal jauh dari orangtuanya, memiliki kekasih dan telah tinggal bersama dengan kekasihnya tersebut. Namun ketika akan menikah pihak keluarga merasa perlu untuk ikut menentukan bagaimana pernikahan mereka nanti. Becky dan Bianca, keduanya masih memiliki kesadaran bahwa keluarga merupakan bagian penting dari hidup mereka. Walaupun mereka memiliki harapan yang lain dan kadang harapan itu harus terus diperjuangkan atau malah dikorbankan.

Kisah para perempuan dalam chicklit ini terutama dalam novel karya Sitta Karina rasanya terlalu berlebihan dan dapat dibilang menjual mimpi para perempuan. Sulit untuk menemui seluruh kejadian atau mungkin beberapa kejadian yang ada di dalam novel dalam realitas kehidupan. Padahal pada dasarnya karya fiksi itu harus dapat mengandung unsur kenyataan. Dalam Sopaholic Ties the Knot rasanya cukup menggambarkan bagaimana realitas yang terjadi di luar sana. Kebiasaan tinggal bersama pacar di luar jalur pernikahan, dll karena kita mengetahui sendiri bagaimana budaya di negeri barat yang bertolak belakang dengan budaya timur kita. Tidak salah juga terhadap anggapan yang kurang positif terhadap chicklit yang menyatakan bahwa chicklit hanya membahas hal-hal yang dangkal di permukaan saja.

Aisha Shaidra/180110060005

DARI KISAH CINTA KE ASAL-USUL

DALAM DUA CERITA SANGKURIANG DAN WATUGUNUNG

Legenda merupakan salah satu bentuk cerita prosa rakyat yang diyakini oleh yang empunya cerita merupakan suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Biasanya cerita-cerita legenda ini terjadi pada suatu waktu dan tempat yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.

Sangkuriang merupakan salah satu legenda yang terkenal, cerita lisan ini bersifat tradisi dan telah dikenal sejak lama. Sangkuriang yang merupakan folklor masyarakat sunda memang sudah turun-menurun dikisahkan ibu pada anak-anaknya tentang kisah seorang anak yang mencintai ibunya sendiri bahkan hendak menikahinya.

Tak jauh berbeda dengan Sangkuriang, cerita Watugunung yang berasal dari Bali pun memiliki kisah yang cukup serupa namun taksama. Sangkuriang merupakan anak dari Dayang Sumbi yang merupakan putri yang dilahirkan dari rahim seekor babi yang bernama Céléng Wayungyang yang secara tidak sengaja meminum air seni Baginda Sungging Perbangkara. Lantas karena suatu hal yang boleh dikatakan sebagai pengalaman tidak wajar Dayang Sumbi pun mengandung seorang anak dari seekor anjing hutan bernama Tumang. Bayi tersebut lantas lahir dan tumbuh menjadi seorang anak lelaki yang sehat, pandai berburu dan diberi nama Sang Kuriang.

Watugunung merupakan anak dari Dewi Shinta, yang pada usia masih kecil melarikan diri karena dimarahi oleh Dewi Shinta, pada suatu hari ibunya khilaf lalu memukul kepala Watugunung hingga berdarah ketika merebut nasi yang sedang dimasak. Kisah terpisahnya Sang Kuriang dan Watugunung dari ibu mereka masing-masing begitu mirip, mereka pergi karena ibu mereka murka dan memukul kepala mereka dengan centong nasi.

Kemiripan kisah pada cerita-cerita lisan memang sudah menjadi hal yang lumrah. Legenda sendiri biasanya bersifat migratoris, yakni dapat berpindah-pindah sehingga dikenal luas di beberapa wilayah yang berbeda-beda. Cerita legenda tersebar dalam bentuk pengelompokan yang biasanya berkisar antara satu tokoh atau suatu kejadian tertentu.

Kedua cerita legenda ini, Sang kuriang dan Watugunung, menceritakan tentang tokoh dan asal-usul dari sesuatu. Sang Kuriang dan Watugunung, keduanya sama-sama sempat mengalami hal yang serupa sebelum mereka terpisah dari ibunya, yaitu mendapatkan pukulan karena kemarahan dari ibunya masing-masing. Mereka berkelana dalam waktu yang cukup lama dan atas kehendak dewata pula mereka kembali dipertemukan dnegan ibunya msiang-masing namun dengan ingatan dan rasa yang berbeda. Sang Kuriang juga Watugunung sama-sama tidak mengingat bahwa wanita yang mereka temui saat mereka telah dewasa ini adalah ibunya, perasaan yang timbul pun adalah perasaan cinta laki-laki dewasa kepada lawan jenisnya, bukan lagi perasaan yang anak kepada ibu ataupun sebaliknya.

Cerita Sang Kuriang merupakan cerita legenda yang mengisahkan asal-usul terjadinya Tangkuban Perahu, yang saat ini dikenal sebagai salah satu objek wisata terkenal di Jawa Barat. Begitu pun dengan Watugunung, cerita legenda ini juga merupakan asal-usul munculnya Wuku, yang merupakan perhitungan hari bulan. Wuku Watugunung dipercaya memberi pengaruh watak keras hati bagi manusia yang dilahirkan pada wuku tersebut.

Asal-usul Wuku ini berawal dari proses pengangkatan dua isteri serta 27 anak Prabu Watu-Gunung ke surga dilakukan satu persatu pada setiap minggu. Inilah permulaan adanya 30 wuku yang dijadikan dasar perhitungan Pawukon atau zodiak Jawa.

Rupanya kisah cinta yang tidak hanya terpaut oleh masalah usia tapi juga terpaut oleh pertalian darah memang sudah ada sejak dulu. Beginilah sifat dari cerita yang bermula dari apa yang mungkin direkayasa atau juga bisa dicipta dari apa yang memang sudah pernah terjadi. Di luar segala kemungkinan benar tidaknya atau dapat diyakini tidaknya asal-usul dari suatu benda, nama, tempat, dan sebagainya, legenda adalah salahsatu wujud dari kebudayaan lisan masyarakat negeri ini.

AISHA SHAIDRA

180110060005

SASTRA BANDINGAN

MENGENAL DAN MEMBEDAKAN JENIS SERTA BENTUK DARI:

PANTUN, SYAIR, DAN KWATRIN


Puisi adalah sebuah karya sastra yang terdiri dari struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana kepuitisan. Dari zaman ke zaman puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaharuan (inovasi) (Teeuw dalam Pradopo).

Puisi merupakan karangan terikat. Makna terikat disini adalah puisi tersebut sesungguhnya terikat oleh hakikatnya itu sendiri, bukan aturan yang dibentuk oleh sesuatu di luar puisi itu sendiri. Dalam artian aturan di luar puisi itu ditentukan oleh penyair yang membuat dahulu atau masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada jenis-jenis puisi lama yang memiliki beragam aturan yang tidak boleh dilanggar.

Pemaknaan puisi sebagai jenis karangan terikat maksudnya adalah terikat oleh banyak baris dalam tiap bait, banyak kata dan suku kata dalam tiap baris, adanya rima, dan irama.

Pantun, Syair, dan Kwatrin

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang paling banyak dikenal luas di berbagai wilayah di Indonesia. Pantun lahir dan berkembang di kalangan masyarakat yang akrab dengan alam, dan bentuk pewarisan pantun ini biasanya diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Perkembangan pantun selanjutnya sudah ditransformasikan dalam bentuk budaya tulisan, tidak lagi lisan seperti zaman dahulu.

Zaman dahulu pantun menduduki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Melayu. Pantun banyak digunakan dalam permainan kanak-kanak, dalam percintaan, upacara peminangan dan pernikahan, nyanyian, dan upacara adat. Secara umum setiap tahap kehidupan masyarakat Melayu dihiasi oleh pantun.

Bentuk pantun terdiri atas dua bagian yaitu sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, yang biasanya kerap kali berkaitan dengan alam—hal ini mencirikan budaya agraris masyarakat tersebut—dan biasanya sampiran tidak memiliki hubungan dengan bagian kedua yang merupakan isi dari pantun yang menyampaikan maksud. Dua baris terakhir pada pantun, merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik yang berpola a-b-a-b, pola pantun ini tidak bisa berpola a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a.

Cukup mirip dengan pantun, kwatrin pun merupakan puisi yang terdiri atas empat baris tiap sajaknya. Akan tetapi bedanya kwatrin tidak terikat akan pola seperti pola a-b-a-b yang terdapat pada pantun.

Dalam perkembangannya, kwatrin termasuk dalam jenis puisi baru berdasarkan jumlah baris. Kwatrin dalam sastra melayu sering digunakan sebagai kata-kata sindiran maupun ungkapan atas isi hati yang dituangkan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Dalam hal ini nampak tidak ada perbedaan antara pantun dengan kwatrin, akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal perpaduan antara lirik dan dialog.

Syair juga merupakan bentuk puisi dalam sastra Melayu lama. Kata syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti perasaan. Dari kata syu’ur, muncul kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Namun, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair di negeri Arab.

Bentuk syair terdiri dari empat baris serangkap dengan rima a-a-a-a dan a-b-a-b, namun pola yang paling populer adalah a-a-a-a. Tiap baris syair terdiri dari delapan hingga dua belas suku kata. Tiap empat baris membentuk satu bait syair, dan merupakan satu kesatuan arti.

Bait syair yang terdiri dari empat baris agak mirip dengan pantun. Letak perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris isi yang berdiri sendiri, sementara bait syair merupakan bagian dari sebuah cerita yang panjang. Syair juga merupakan salah satu bentuk sastra yang sangat populer pada masyarakat Melayu selain pantun.

Isi yang dikandung dalam syair biasanya merupakan falsafah hidup, nasihat, dan tentang keagamaan. Akan tetapi sleain itu adapula syair yang berisikan tentang cerita sejarah, kisah romantis, syair kiasan, dan sebagainya. Syair tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, akan tetapi juga sarat akan pengajaran dan pewarisan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.

Contoh pantun :

Untuk apa orang ke hulu
Kalau klek sudah berlubang
Untuk apa hamba menunggu
Kalau adik sudah bertunang


Hari minggu jalan ke pasar
Disana belanja membeli udang
Hatiku pilu rasa terbakar
Bunga kupuja dipetik orang


Habislah buah pisang nangka
Pisang serawak tegak sebatang
Habislah tuah hilanglah muka
Pinangan awak ditolak orang


Fajar subuh sudahlah terbit
Tanda hari menjelang siang
Terbakar tubuh dadaku sakit
Adinda kini dipinang orang


Galah bukan sebarang galah
Galah orang pemanjat pinang
Salah bukan sebarang salah
Salah abang lambat meminang

Contoh Kwatrin:

Ada yang ingin diucapkan angin

Mungkin dingin. Seperti ada yang ingin diucapkan.

Mungkin kegelisahan musik yang gemetar

Pada gitarmu. Seperti deru

Ada yang ingin diucapkan angin

Pada kegelapan. Malam yang mengalirkan badai.

Dan laut pasang. Pada lagumu.

Sebuah balada tak selesai

Tapi ada yang ingin diucapkan padamu

Mungkin rindu. Ketika angin itu

Memberat di ruang tunggu. Dan cuaca pada palka

Seperti ingin memberhentikan waktu.

Kwatrin Malam -Acep Zamzam Noor –

Contoh syair :

Seri Negeri gelaran diberi
Sebuah pulau cantik berseri
Bernaung dibawah sebuah negeri
Raja berdaulat Paduka Seri

Lautnya biru pantainya indah

Makam Mahsuri lagenda sejarah
Puteri Melayu tak mudah menyerah

Tujuh keturunan dimakan sumpah

Pulau lagenda dimakan sumpah

Tujuh keturunan tamatlah sudah

Kini makmur melimpah ruah

Semua penghuni tersenyum megah

Zaman dulu, karena belum ada tradisi tulis, sajak dibuat agar sesuatu mudah diingat. Begitupun dengan adanya pantun, syair, dan kwatrin. Ketiga jenis puisi ini lahir dari budaya lisan masyarakat untuk berkomunikasi dalam menyampaikan suatu maksud yang tidak secara eksplisit.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi

http://id.wikipedia.org/wiki/Sajak

http://id.wikipedia.org/wiki/Pantun

melayu online.htm

Pengkajian Puisi, Rachmat Djoko Pradopo

Ketika lamunan ini terlempar ke atas sana

Entah hanya ilusi dari aku yang sering bermimpi

Nampak ada mereka di dunia di luar sana

Di bawah ini aku memandang dengan penuh heran

Apa laku mereka?

Ada lakon juga di dunia di luar sana?

Seperti apa kenikmatan tinggal di negeri awan?

Adakah benar kerajaan langit itu?

Semakin lama ku lempar pandang ke atas

Semakin gila saja aku mereka khayal

Aku ingin terbang…bisikku lirih

Mari ku ajari kau terbang…

Aku hanya dapat mendengar bisik itu

Bagaimana?

Aku masih bingung…

Aku takut tak bisa pulang…..batinku pelan

Kau tinggal saja di langit

Aku dari tanah..bukan langit

Apa salahnya kalau kau menjadi bagian dari kami?

Karena aku tlah cukup lama berpijak pada bumi

Bumi pun masih jauh di bawah langit!

Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se-Bandung Raya 2009

Parlemen Pemuda Indonesia Daerah Bandung

Pendahuluan

Negara Indonesia mengadopsi konsepsi trias politika dalam kelembagaan pemerintahan di tingkat pusat. Meskipun tidak sepenuhnya diadopsi secara keseluruhan. Salah satu lembaga yang memiliki peranan penting dalam jalannya proses pemerintahan adalah lembaga legislatif. Lembaga ini secara umum memiliki tugas pokok dalam hal legislasi, pengawasan dan penganggaran. Lembaga ini merupakan bentuk representasi dari aspirasi rakyat. Namun sayangnya, lembaga yang notabenenya sangat diharapkan oleh rakyat ini sampai saat ini dinilai masih belum berpihak terhadap kepentingan masyarakat sebagai konstituen yang memilihnya. Proses pemilu legislatif yang merupakan pintu awal masuk lembaga legislatif ini juga dinilai masih jauh dari yang diharapkan.

Akan tetapi, peran masyarakat sebagai partisipan politik dalam lembaga legislatif hanya sampai pada tahapan rekruitmennya. Setelah sampai pada pintu parlemen, perlahan langkah partisipatif pun mundur. Masyarakat seolah lepas tangan dengan pilihannya sehingga kontrol sosial pun melemah. Hal itu merupakan salah satu cikal bakal terjadinya penyelewengan pada lembaga legislatif kita. Padahal seharusnya masyarakat tidak hanya sebatas mengantarkan para wakil mereka, tetapi juga mengawal mereka sampai selesai menjabat sebagai representasi dirinya di DPR, DPRD Propinsi ataupun DPRD Kabupaten/Kota.

Dalam rangka mengungkapkan pemikiran pelajar tingkat SMA/se-derajat mengenai parlemen di tanah air sebagai upaya memberi kontribusi bagi reformasi parlemen maka, kami Parlemen Pemuda Indonesia Daerah Bandung mengajukan suatu kegiatan bertajuk “Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se-Bandung Raya”.

Maksud dan Tujuan Kegiatan

1. Mendorong pelajar tingkat SMA sederajat untuk berfikir kritis dan mampu menyampaikan hasil pemikiranya dengan baik tentang parlemen.

2. Sebagai wadah untuk menghimpun aspirasi pelajar dalam mengembangkan bidang keilmuwan (sosial) yang dimilikinya.

Nama Kegiatan:

Adapun kegiatan yang akan kami selenggarakan adalah:

“Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se-Bandung Raya”

Bentuk dan Sasaran Kegiatan

Lomba essay ini mengangkat tema seputar pemikiran atau gagasan dari pelajar SMA sederajat se – Bandung Raya mengenai parlemen berdasarkan topik yang telah ditentukan. Para peserta yang dinyatakan lulus seleksi sebagai finalis (10 besar) oleh dewan juri, diharuskan mengikuti tahap seleksi selanjutnya. Pada tahap penjurian ini para finalis diminta untuk mempresentasikan hasil tulisannya di hadapan dewan juri. Selanjutnya dewan juri akan melakukan tanya jawab dengan finalis. Adapun tulisan para finalis ini nantinya akan dibukukan oleh panitia, sebagai bentuk kontribusi dan kepedulian nyata kaum muda terhadap bangsa. Berikut alur kegiatan Lomba Essay Parlemen Tingkat SMA/se-derajat se Bandung Raya :

PENGUMPULAN KARYA TULIS

SELEKSI TAHAP I

PENGUMUMAN 10 FINALIS

SELEKSI TAHAP II PRESENTASI

PENGUMUMAN PEMENANG

Tema Tulisan :

“Aku dan Parlemen”

Topik :

1. Parlemen Indonesia Harapanku

2. Yang Muda Yang Berparlemen

3. Fenomena Pemilu Legislatif 2009

4. Jika Aku Menjadi Anggota Parlemen

5. Perempuan dalam Parlemen

Ketentuan Lomba

1. Peserta lomba tulisan ini adalah siswa SMA se-derajat se-Bandung Raya.

2. Peserta melampirkan kartu pelajar yang masih berlaku, biodata, dan nomor kontak.

3. Peserta lomba adalah perseorangan dan hanya diperbolehkan mengirimkan satu tulisan essay.

4. Peserta harus menulis dengan tema yang telah ditetapkan oleh panitia dan memilih satu dari beberapa topik yang tersedia.

5. Panjang halaman tulisan antara 5-7 halaman

6. Hal-hal yang dinilai dari tulisan adalah format tulisan, kreativitas dan gagasan, topik yang dikemukakan, data dan sumber informasi (akurasi dan relevansi), pembahasan, simpulan dan transfer gagasan.

7. Tulisan yang dikirimkan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk media apapun dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan tulisan lainnya.

8. Finalis yang terpilih diwajibkan mengikuti presentasi sebagai rangkaian penjurian selanjutnya.

9. Pengumuman finalis akan dilaksanakan pada 22 Mei 2009

10. Presentasi hasil tulisan dan proses penjurian tahap II bagi para finalis akan dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2009 di tempat yang telah ditentukan oleh panitia.

11. Hasil tulisan pemenang akan dipublikasikan

12. Seluruh tulisan yang masuk menjadi hak penuh panitia.

13. Tulisan dikirimkan ke alamat email : parlemenpemuda@yahoo.com paling lambat tanggal 17 Mei 2009 dengan melampirkan formulir pendaftaran.

14. Informasi lebih lanjut silahkan lihat di www.parlemenpemuda09.blogspot.com

Format Tulisan

1. Tata Letak :

a. Tulisan diketik 1.5 spasi pada kertas berukuran A4, (font 12, dengan tipe huruf Times New Roman).

b. Batas Pengetikan :

· Samping kiri 4 cm

· Samping kanan 3 cm

· Batas atas dan batas bawah masing-masing 3 cm

· Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah.

2. Pengetikan Kalimat

Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok ke dalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.

3. Penomoran Halaman

Penomoran halaman memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1.5 cm dari tepi atas (1, 2, 3 dst.).

Contact person : Yuanita Utami (081808057540)

Agil Purnama (02276980568)

AMELID

Pada satu hening sebuah nada sangat berarti

Membantu mengawal kisah yang bermula dari

Sebuah kesepian

Ada sebuah keraguan, dan selalu ada keraguan saat hal-hal seperti itu kembali datang dan mengusik, seandainya ada kepastian yang mampu membuatku yakin untuk mengalihkan semua, atau mungkin sebaliknya…bisa saja aku pergi tanpa kembali berpaling, atau mungkin tetap berdiam tanpa menunggu, walau sebenarnya menunggu tanpa jelas

Membaca apa yang ada dalam benak selama ini sudah cukup membuatku penat, menjernihkan segala yang keruh tlah cukup membuatku lelah, sejenak aku tlah capai oleh segala

Namun tetap saja yang satu iu belum pula mengabur barang sedikit

Semuanya masih saja jelas, dan aku semakin sulit tuk terpejam, bahkan enggan

Karena dalam gelap pandangan bayangan itu semakin jelas

Semakin meyakinkan nyatanya eksistensi sebuah keberadaan dalam sebuah alam yang dinamakan khayalan

Jenuhku tak hilang

Sebatang rokok kunyalakan dalam sebuah ruang sempit

Asap mulai memenuhi ruang pada isapan yang ke sekian kalinya

Pertama kalinya aku racuni diri

Tak menunggu bahkan bukan pula menantang namanya mati

Aku masih punya sekian besar ketakutan menghadapinya

Asap sudah membumbung dan tak menembus langit

Asap kembali turun dan meresap kedalam semua bagian yang ada

Yang berpori…yang dapat dimasuki

Abu mulai menumpuk, tak menggunung hanya menjadi gundukan kecil saja

Kamarku, ruang kecil ini mulai berkabut

Lelaki itu kini mengambil sebatang rokok lagi, setelah ia menenggak habis kopinya yang sudah dingin, sialnya korek tak mau menyala kekesalan sudah bertumpu pada ibu jarinya yang mulai kewalahan karena pemantik tak juga mengeluarkan api. Dilemparnya korek gas yang ia pungut di jalan sehabis menonton pertandingan sepakbola antar RW dilapangan dekat rumahnya.

“Apakah kamu berani tuk mencintai aku?”

“tentu saja aku berani, tapi dengan caraku sendiri.”

“bagaimana caramu menunjukkannya padaku?”

Lelaki itu hanya membalas tanya dengan senyuman tipis, pandangan matanya cukup jelas menjawab semua, tak lama ia pun berpaling.

“maaf, aku melihatmu seperti itu…maaf”.

***

“padahal aku maunya dia ngomong sesuatu, bukan malah diam!”

“terus setelah itu kalian bicara apa lagi?”,m kali ini perempuan dihadapannya diam, menunduk, lantasmelempar pandangan ke segala arah memainkan jemarinya.

“aku ngerti, aku gak bisa banyak bantu, malah aku di luar kuasa untuk ikut campur, itu urusan kalian dan kalian sudah dewasa, kamu dan dia..

aku memang mencintainya, dan aku mencintainya dengan caraku. Takbisa kumencintainya dengan cara yang sama seperti lelaki lain mencintainya perempuannya, aku mencintainya dengan caraku. Takmungkin aku benturkan semuanya pada idealisme yang masih kucoba bangun ini, idealism yang berdasarkan hasil pencarianku selama ini, sialnya dia pun hadir pada waktu yang berdekatan. Ada kalanya aku harus memilih, namun jika dituntut antara mencintainya atau tidak sama sekali, aku jelas memilih yang pertama, namun semuanya kembali lagi, pada caraku, caraku menunjukkan bahwa apa yang kupunya dan bisa kuberi padanya adalah semata dari segala apa yang ada disini, ujarnya seraya menunjuk dadanya.

Ya, mungkin terdengar egois atau bagaimana, tapi ya…beginilah aku, masih dihadapkan pada nyata aku takbisa menolak yang ada, namun aku memiliki batasan saat berhadapan dengannya. Toh dia tahu dan telah sadar, masalahnya sekarang ia mempertanyakan semuanya, tentang perasaanku dan kesungguhanku…

Aku merasakan semua yang dia beri itu tulus, tapi saat semua tak terucap dan hanya bisa kuterka, aku jadi belum bisa menyakinkan diri ini sunggu-sungguh…aku bisa merasakan bagaimana ia mencoba menunjukkan sesuatu lewat sesuatu, lewat tutur kata, sikap dan tatapan yang selalu ia jaga, aku faham…mungkin ia memiliki suatu alasan untuk bertindak seperti itu, tapi aku perempuan biasa, takbisa aku lama-lama berada dalam keadaan yang seperti ini, aku hanya ingin diyakinkan dengan perkataan langsung dri mulutnya yang sering tersenyum itu…

Aku hanya bisa tersenyum setiap mendengar ia bicara, melihat tingkah polosnya, raut wajahnya ketika marah, ekspresi-ekspresi konyolnya…entahlah sepertinya dekat dia aku bisa tersenyum lebar lebih lama..dan merasa sebuah kekonyolan ternyata dapat menghadirkan kebahagiaan juga…

Ini konyol kan? Interaksi antara kita lewat e-mail, atau surat yang ia ketik berlembar-lembar lantas ia simpan di dalam Flashdisk lalu ia berikan padaku dengan alasan di depan banyak orang “copy-kan aku lagu-lagu baru! Mentang-mentang aku penyiar radio, padahal aku tahu maksudnya, lagu apa yang ia mau!

Lagu lama! Kalau ngobrol langsung…kita duduk berdampingan dan mata menatap ke depan, dia disampingku namun setiap aku bicara matanya hanya lurus ke depan, terkadang ia menoleh tapi itu hanya sebentar, tak seimbang dengan durasi waktu kita berbicara! Tapi sekali ia menoleh itulah saat yang selalu kutunggu..ia tersenyum….

lantas perempuan ini pun tersenyum mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu itu…

Aku akan selalu mengingatnya, semuanya…dia itu simpulannya. Dia yang bisa mengembalikan senyumku dan hanya pada dia aku bisa tersenyum seperti itu, aku tak tahu malah awalnya aku tak menyadarinya…

Love me or Leave me! Aku jadi ingin mengajukan hal itu padanya! Tapi…aku takbisa menerima konsekuensi kalau ia memilih pilihan kedua….Leave me…aku terlanjur telah terbiasa menjalani hal-hal konyol ini bersamanya, hal konyol yang selalu kunantikan….

Lucky I’m in love with my best friend….he..heeh….sejenak ia terkekeh mendengar lantunan lagu yang ia nyanyikan…

Lucky…ya aku merasa beruntung..tapi, sangat disayangkan hanya dengan cara seperti ini, sesungguhnya aku bisa mencintainya dengan cara yang lebih, aku berani menunggu waktu namun aku taktahu apa ia mau melakukan hal serupa?

Menunggu waktu yang tepat tiba…

Indah pada waktunya, apa itu yang ia tunggu…kalu ia aku mau!

Inspirasi dari kisah beberapa orang teman dan kenalan ,

Duadua di Dua Belas

Aisha Shaidra

“untuk apa Kau mengajakku tuk turut kegiatan kalian besok siang?”

“kok? Hey, kamu lupa? Besok perayaan hari Ibu! Kita akan melakukan aksi damai, longmarch, seraya membagikan flyer dan bunga pada orang yang kita temui di jalan, setelah itu kita akan mengunjungi panti jompo!”

“iya, Aku tahu…tapi apa untungnya bagiku? Merayakan hari ibu? Heh, sehebat apa itu yang namanya Ibu? Sampai ia diberi sebuah hari spesial setiap tahun, sesuci hari perayaan hari besar keagamaan? Kalaupun ada hari untuk yang namanya orangtua, Aku lebih memilih hari nenek!”

“nenek juga ibu, ibu dari orang tua kita!”

“beda, karena nenekku bukan orangtua dari yang namanya orangtua yang seharusnya Aku miliki!”

“ya sudah, dia tak mau ikut, ya sudah, kenapa kamu harus berepot-repot memaksa dia?”

“Aku bukannya memaksa, tapi, Aku tak habis fikir, bisa-bisanya ia berkata seperti itu…”

“kenapa tidak? Itu mungkin saja, dari apa yang dia lontarkan tadi jelas kok masalahnya, Aku bisa menangkap maksud dan alasannya!”

“Aku juga faham, Ka! Tapi baru sekali tadi Aku lihat sisi Wina yang lain, dia begitu emosi, dia terlihat seperti seorang pendendam, dari ekspresi wajahnya, lontaran kata-katanya…”

“kamu sudah lupa waktu perkenalan saat kita Ospek Jurusan?”

“memang ada apa?”

“saat Wina maju memperkenalkan diri…”

“perkenalkan, nama saya Winidya Narita, tapi nenek saya suka memanggil saya Wina, pun teman-teman saya waktu SMP, SMA…saya berasal dari Bogor, tapi waktu saya masih kecil sempat tinggal di Solo, ya…sampai kelas empat SD saya tinggal di sana. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan, saya rasa itu cukup, terima kasih, ada yang mau bertanya?”

“tempat tanggal lahir?”

“oh…itu, entahlah secara pasti saya sendiri tidak tahu, tapi yang tertera di akte, dan surat-surat yang memerlukan data seperti itu menyebutkan kalau saya lahir pada tanggal satu November, delapan belas tahun silam.”

“Tempatnya? Solo?”

“…entah, ingatan saya sewaktu lahir sudah hilang, sehingga saya sama sekali tidak dapat mengingat di mana saya dilahirkan, pun orang yang melahirkan saya, entahlah, saya rasa cukup, terima kasih.”

Ibu? Apa artinya seorang Ibu? Ketika kita katanya harus selalu mengagungkan namanya setelah Tuhan, ketikan kita harus meyakini bahwa surga tuhan ada di telapak kakinya, ketika kita diajari oleh para pendidik di negara ini bahwa ia adalah sosok yang harus selalu dihormati, ia adalah sosok yang penuh kasih, penuh sayang…

Begitu agungnya sosok seorang Ibu sehingga dalam hadist pun namanya disebut tiga kali berturut-turut barulah nama ayah, sekali kata “ah” kita lontar padanya adalah sebuah dosa besar. Satu keuntungan bagiku, mungkin secara sadar sampai saat ini Aku tak menanggung dosa besar itu, karena Aku tak pernah melontarkan kata “ah” pada seorang ibu, yang sampai sekarang tidak pernah kutahu seperti apa rupa dan dimana rimbanya.

Aku masih selalu memepertanyakan alasan Aku dipertahankan dalam kandungan seorang perempuan sampai Aku dilahirkan, namun akhirnya Aku ditelantarakan. Untungnya seorang Nenek yang sejatinya tak punya hubungan darah setetes pun denganku sudi membesarkanku. Ia seorang wanita tua yang semakin ringkih dari tahun ke tahun, namun senyum diwajahnya tak pernah ikut menua, itulah obat kebahagiaan abadi yang kupunya, Aku tak punya kuasa tuk menghardiknya dengan beragam kata kasar yang biasa kulontar pada orang-orang yang kurang ajar padaku, kata-kata itu tak pernah keluar dari mulut nenek sebagai bahan ajar padaku, Aku diajarinya tentang kelembutan, keharusan seorang anak perempuan, setidaknya sampai batas usia anak sekolah dasar Aku tumbuh menjadi anak yang penurut, mewarisi kelembutan nenek. Kepindahan kami merupakan titik tolak mulai terjadinya perubahan pada diriku, semakin banyak tanya yang orang lontarkan mengenai keberadaan orangtuaku yang selalu takbisa kujawab, dan tatapan tanya itu hanya bisa kubalas dengan tangis dan berlari ke pelukan nenek, semakin hari Aku semakin mempertanyakan semuanya, dimana orangtua itu? Kenapa orang merasa perlu ada orangtua? Kenapa takpunya orang tua rasanya begitu aib? Padahal apa yang salah? Aku sempat beberapa kali bertanya pada nenek tentang siapa ibuku siapa ayahku, nenek pun hanya bisa menggeleng, sampai akhirnya ia bercerita bahwa Aku adalah bayi yang ditemukannya di sebuah tong sampah!

Aku dianggap sampah? Lantas kenapa jika mereka, setidaknya Ia Ibuku itu, kalau menyadari Aku adalah sampah mengapa ia harus menunggu sembilan bulan lamanya? Kenapa tak ia gugurkan saja Aku? Toh akhirnya Aku ia buang? Kalau pun ia tak mau merawat Aku setelah melahirkanku, kenapa tak ia berikan Aku pada sebuah panti? Kenapa harus pada sebuah tong sampah ia titipkan Aku? Siapa yang akan menemukan seorang bayi pada sebuah tong sampah? Kucing? Paling-paling tukang sampah, pemulung! Kalau Aku ditemukan mereka, dan kalaupun mereka mau membawaku, adanya aku hanya akan menambah beban hidup mereka!

Ibu, begitu pendeknyakah akalmu?

Kalau setelah kau simpan aku di tong sampah itu, lantas tak lama kemudian ternyata kau mati tertabrak, atau apa…aku berdoa pada Tuhan semoga ia memaafkan dosamu itu!

Kalau ternyata kau masih hidup sampai sekarang, dan keadaanmu tidak lebih sama dengan keadaanku, aku pertanyakan lagi, apa bedanya kalau saat itu aku tetap kau bawa, toh keadaan kita tak jauh berbeda?

Kalau kau masih hidup dan kau kaya raya, selamat, berarti kau memang telah membuang sial!

Tapi kalau kau masih hidup dan punya keluarga, apalagi punya anak, ingin kupertanyakan seberapa banyak ingatanmu terbang untuk mengingatku yang dulu pernah kau buang? Atau seberapa kuat kau bertahan tuk melupakan aku yang cukup lama mendekam dalam rahimmu itu? Apakah aku ada aib yang begitu besar hingga hanya pada sebuah tong sampah kau titipkan aku? Apa yang kau katakan pada tong itu saat kau letakkan aku diantara aneka sampah, dan aku masih berbalut darah? Walau aku tak mengingat masa itu, aku bisa membanyangkan dalam beberapa waktu tubuhku ini dijilati lalat, dikerumuni beragam bakteri, dan segala macam hewan yang tak terlihat,, kubanykangan aku yang lemah menggeliat, aku yang lemah tak berdaya ketika tubuh ini dijilati lalat karena amisnya darahmu pada tubuh kecilku!

Ibu, kalau memang sekarang kau masih ada dan punya anak lagi dari rahimmu itu, dan kau mau merawat dan membesarkannya, berarti kau tak kapok melahirkan namun kau kapok untuk membuang anak. Kalau itu terjadi, ada benarnya mungkin latar belakang sperma yang membuahi telurmu lah yang mendorong nalurimu tuk membuangku, lantas sekarang kau mau merawatnya—anak yang kau lahirkan lagi itu. Siapa ayahku Ibu? Hanya kau dan tuhan yang tahu! Mungkin disinilah salah satu peran penting seorang ibu, ia yang dapat memberikan keterangan dan kepastian siapa ayah dari anak-anak yang dikandungnya. Dari kejelasan itu mungkin selanjutnya membawa pada keputusan akankah janin itu ia lahirkan, lalu akankah bayi itu ia rawat dan besarkan? Kemudian ia didik dan berikan kasih sayang. Nampaknya jelas kenapa aku termasuk dari bayi yang dibuang.

“Ka, barisan aksi damai kita didahului aksi lain!”

“apa? Aksi dari komunitas lain? LSM? Atau apa?”

“aksi mereka bertolak belakang dnegan aksi kita! Mereka mempertanyakan sejauh mana peran seorang Ibu? Dan tidak hanya itu, mereka menuntut untuk tidak diberlakukan lagi adanya peringatan hari Ibu.”

“ada-ada saja, ada orang yang kamu kenal dari barisan itu?”

“ada”

“siapa?’

“Wina.”

Jatinangor , di penghujung 2008

(Ibu, kalaupun ternyata ada orang-orang seperti ini, Aku katakan batapa beruntungnya memiliki seorang Ibu)